loading...
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara, khususnya di Jawa. Foto ilustrasi/ist
Kapan Rebo Wekasan 2026? Benarkah 320.000 bala bencana akan turun ke Bumi di Rabu terakhir Bulan Safar tersebut? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.
Istilah Rebo Wekasan ini selalu muncul bahkan jadi polemik tersendiri terutama di kalangan umat Islam. Disebut Rebo Wekasan artinya Rabu terakhir Bulan Safar pada kalender Jawa.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, bulan Safar 1448 H berakhir pada 13 Agustus 2026. Dengan demikian, Rebo Wekasan tahun 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah.
Lalu mengapa di Rebo Wekasan ini diyakini akan datang bala bencana ke bumi? Mengutip Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur menjelaskan, banyak para Wali Allah mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi. Mereka mengatakan bahwa setiap tahun, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Oleh karena itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun.
Baca juga: 10 Pemimpin Muslim Terbesar dalam Sejarah, dari Nabi Muhammad SAW hingga Nader Shah
Menurut Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya dalam satu kajian yang disiarkan oleh Al-Bahjah TV, asal usul Rebo Wekasan ini adalah bermula dari cerita orang salih mendapat berita (ilham) bahwasanya pada hari itu akan turun penyakit. Maka mintalah perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari penyakit dan musibah.
"Mengamalkan amalan pada Rebo Wekasan memang tidak ada petunjuknya dari Nabi shallallohu 'alaihi wasallam. Akan tetapi kalau datangnya dari ulama apalagi ulama yang salih selama tidak bertentangan dengan ajaran Nabi tidak boleh langsung dikatakan bid'ah," jelas Buya Yahya.
Mengenai amalan Rebo Wekasan, Buya Yahya menjelaskan, orang salih yang mendapat ilham dari Allah selama yang dilakukan adalah perkara baik, bukan perkara haram misalnya bersedekah, atau sholat hajat meminta perlindungan dari bala dan musibah, maka mengikuti ilham itu hukumnya boleh. Artinya selama amalan yang dilakukan itu tidak bertentangan dengan syariat, maka itu boleh-boleh saja.
"Tapi ingat, ilham bukan Hujjah. Ilhamnya seorang salih tidak boleh jadi Hujjah. Dan ingat kalau ilham tidak bertentangan dengan syariat boleh diikuti," kata Buya Yahya.

















































