Jawaban Badan Geologi soal Potensi Tsunami Erupsi Berulang Anak Krakatau

3 hours ago 2

Jakarta -

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan tak semua erupsi Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami. Badan Geologi terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Hal tersebut merupakan jawaban Lana atas pertanyaan apakah aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini memicu tsunami seperti pada 2018. Ia menjelaskan perbedaan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada 2026 dengan peristiwa tsunami Selat Sunda pada 2018.

"Bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 terutama ini berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi," kata Lana dalam konferensi pers secara daring, Minggu (6/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018. Kemudian juga mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya," tambahnya.

Ia mengatakan, berdasarkan pemantauan Badan Geologi ESDM, bentuk dasar Gunung Anak Krakatau relatif tak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya. Lana mengatakan Gunung Anak Krakatau tak mengalami keruntuhan dalam skala tertentu yang bisa memicu tsunami.

"Nah, berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya ini relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ungkap dia.

Kendati demikian, Badan Geologi ESDM masih terus melakukan pemantauan intensif terhadap Gunung Anak Krakatau itu. Perubahan morfologi dari gunung tersebut turut menjadi atensi.

"Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif," imbuhnya.

Lihat Video 'Sebaran Abu Krakatau Terdeteksi di Jakarta, Jabar, hingga Bengkulu':

(dwr/gbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |