Jakarta -
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih mengkaji wacana pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) pada Sabtu dan Minggu. Usulan tersebut mencakup penambahan satu hari CFD dari yang selama ini digelar hanya tiap hari Minggu.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan keputusan terkait wacana tersebut akan diambil setelah kajian lebih lanjut. Sejumlah pihak juga memberikan masukan mengenai manfaat hingga dampak lalu lintas jika CFD digelar dua kali dalam sepekan.
Pramono Masih Kaji CFD Sabtu dan Minggu
Pramono telah menyampaikan usulan CFD dua kali dalam sepekan dari Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat masih dibahas di internal Pemprov DKI. Menurutnya, pelaksanaan CFD perlu dikaji karena sejumlah ruas yang menjadi lokasi kegiatan merupakan jalur vital Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang pertama, saya sudah membaca usulan tersebut dan sebenarnya usulan itu cukup rasional. Maka di internal Balai Kota, kami sudah melakukan pembahasan. Nanti pada saatnya tentunya kita putuskan," kata Pramono di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026).
Pramono kemudian menegaskan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Dia mengatakan kajian juga perlu mempertimbangkan warga yang terdampak penutupan jalan.
"Maka saya minta sekarang ini didalami, dipelajari apa yang menjadi usulan untuk dua hari, dan juga tentunya kita tanyakan kepada warga. Jangan sampai keinginannya untuk membuat warga sehat ternyata malah membuat warga tidak sehat," ungkapnya.
Lokasi CFD Sabtu Masih Dipertimbangkan
Pramono mengatakan CFD Sabtu-Minggu tidak bisa langsung diterapkan di dua lokasi sekaligus, yakni kawasan Sudirman-Thamrin dan Jalan Rasuna Said. Pemprov DKI masih mempertimbangkan lokasi yang paling sesuai agar aktivitas perkantoran, hotel, dan pertokoan tidak terganggu.
"Saya mengkaji secara serius usulan Bapak Menteri Lingkungan Hidup untuk Sabtu-Minggu. Tetapi kalau kemudian hari Sabtu kedua-duanya, apakah itu yang diatur oleh pemerintah pusat di Rasuna Said dan apa di Sudirman-Thamrin ini, tentunya nggak bisa dua-duanya, harus salah satu," jelas Pram.
Warga yang ditemui saat CFD di Jalan Rasuna Said juga memberikan usulan lokasi. Reza (40) mengusulkan CFD Sabtu digelar di sekitar Senayan karena dinilai memiliki lebih banyak pilihan aktivitas.
"Salah satu, Senayan kali ya. Lebih banyak pilihannya. Dibanding HI kan situ doang. Kalau GBK kita kan bisa ke stadionnya, dalamnya kan, hutan kotanya ada, ya kan? Lebih banyak pilihannya," ujar Reza, Minggu (20/9/2026).
Usulan Uji Coba 3 Bulan
Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta M Taufik Zoelkifli mengusulkan agar CFD Sabtu-Minggu tidak langsung ditetapkan secara permanen. Dia mendorong adanya uji coba selama dua hingga tiga bulan untuk melihat manfaat dan kondisi di lapangan.
"Saran saya adalah bagaimana caranya kita uji coba dulu ya, dalam 3 bulan atau dalam 2 bulan ya, CFD 2 hari Sabtu Minggu," kata Taufik, Minggu (20/9/2026).
Menurut Taufik, evaluasi dapat dilakukan setelah masa uji coba untuk melihat dampak kebijakan tersebut. Dia menyebut penambahan hari CFD berpotensi memberi kesempatan lebih banyak bagi warga berolahraga dan UMKM untuk berjualan.
"Nah, kemudian dievaluasi, kemudian dilihat plus minusnya, kalau memang lebih banyak manfaatnya, maka silakan kita terapkan CFD 2 hari yaitu Sabtu dan Minggu. Tapi, kalau ternyata kurang tidak terlalu signifikan manfaatnya, maka tentu saja tidak perlu dilanjutkan," jelasnya.
Lalu Lintas Jadi Pertimbangan
Taufik juga mengingatkan adanya potensi gangguan lalu lintas jika CFD digelar pada Sabtu. Sebab, sebagian masyarakat masih bekerja atau beraktivitas pada hari tersebut.
"Akan tetapi kemudian ada hal lain dari itu ya, bahwa kalau 2 hari itu Sabtu tidak tidak semua orang rest atau istirahat bekerja ya, ada kantor-kantor yang masih buka, ya, jadi kemudian kemungkinan akan ada lalu lintas yang terganggu juga, artinya kalau CFD kan berarti ada ruas-ruas jalan yang tutup," ungkapnya.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo juga meminta persiapan dilakukan dengan melibatkan pengguna jalan, warga terdampak, pelaku usaha, dan peserta CFD. Menurutnya, rekayasa lalu lintas perlu disusun secara fleksibel dan disosialisasikan lebih awal.
"Skema ini wajib disosialisasikan lebih awal agar masyarakat dan pelaku usaha dapat menyesuaikan aktivitasnya, sehingga CFD dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan dengan pengguna jalan lainnya," kata Rio.
Di sisi lain, sejumlah warga mendukung penambahan hari CFD. Reza menilai CFD pada Sabtu dan Minggu dapat membagi kepadatan peserta, sementara Ika (39) dan Ayu (35) mengusulkan kawasan Sudirman karena pilihan jajanan yang lebih banyak. Ayu juga menilai CFD dua hari dapat menjadi ruang berkumpul bersama keluarga sekaligus membantu mengurangi polusi.
(wia/idn)

















































