Iptu Arsinilus Inisiasi Jembatan di Lesem NTT agar Siswa Tak Terjang Sungai

1 day ago 2

Jakarta -

Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi dan menggerakkan masyarakat untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuannya agar anak-anak setempat tidak menerjang sungai untuk berangkat ke sekolah.

Atas aksinya itu, Kapolsek Kuwus itu diusulkan menjadi kandidat Hoegeng Awards 2026 oleh warga Kampung Lesem bernama Rafael Hendrikus. Dia merasa senang karena Iptu Arsi begitu peduli dengan anak-anak Kampung Lesem. Berikut testimoni Rafael tentang Iptu Arsi:

Saya warga Kampung Lesem dan orang tua siswa, sangat tertarik dengan ada kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh polisi Arsilinus Lenter, karena polisi Arsilinus Lenter sebagai inisiator dan penggerak masyarakat dan TNI-Polri untuk membangun jembatan darurat untuk penyeberangan anak-anak sekolah dari Kampung Lesem menuju tempat sekolah SDK Wetik dan SMP Negeri 1 Kuwus Barat. Pembangunan jembatan darurat ini sebagai mitigasi bencana banjir bagi siswa-siswi yang menyeberangi Sungai Wae Songkang, Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Saya sebagai orang tua murid merasa bersyukur dan terbantu dengan adanya jembatan darurat ini, sehingga anak-anak kami berangkat ke sekolah dengan aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian detikcom menghubungi Rafael, dia menyebut sungai yang diterjang anak-anak untuk menuju sekolah cukup panjang, yaitu sekitar 20 meter. Akses menyeberangi sungai adalah jalan satu-satunya anak-anak Kampung Lesem pergi ke sekolah.

Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto: dok. istimewa

Menurut Rafael, anak-anak tidak bisa berangkat sekolah jika air sungai dalam kondisi deras karena hujan. Pihak sekolah pun menganjurkan anak-anak untuk belajar di rumah karena sangat berisiko jika memaksakan diri berangkat sekolah dengan menerjang sungai.

"Kalau siang malam hujan, mereka (anak-anak) itu tidak pergi sekolah karena guru melarang mereka, kalau musim hujan usahakan belajar di rumah," kata Rafael saat berbincang dengan detikcom, Selasa (24/2/2026).

Rafael mengatakan warga setempat pernah gotong royong membangun jembatan untuk menyeberangi sungai tersebut. Namun karena konstruksinya kurang kuat dan terlalu rendah dari permukaan sungai, akhirnya jembatan langsung roboh diterjang derasnya air.

"Untuk (jembatan) ini, ya sudah (berdiri) hampir mau 1 bulan sudah. Sekarang sudah lumayan (kuat jembatannya)," ucapnya.

Dia pun berterima kasih kepada Iptu Arsi dan jajarannya serta TNI yang telah turun tangan mengatasi masalah warga Kampung Lesem. Menurutnya, warga setempat menjadi tak khawatir lagi untuk anak-anaknya berangkat sekolah.

Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto: dok. istimewa

Lebih lanjut, Rafael berharap dengan kegiatan gotong royong masyarakat bersama Iptu Arsi dkk membuat pemerintah terbuka matanya untuk memperhatikan kondisi warga di Kampung Lesem. Sebab, kata dia, selama ini warga di kampungnya masih tertinggal dan belum teraliri listrik.

"Harapan kami mudah-mudahan pemerintah itu ada perhatian begitu. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan dari pihak kepolisian, pemerintah juga buka mata untuk melihat apa yang terjadi di lokasi," ujar Rafael.

"Karena kami boleh dikatakan itu masih-masih desa tertinggal karena jangkauannya jauh, sudah itu belum terailis listrik juga," tambahnya.

Dihubungi terpisah, Iptu Arsi menjelaskan awal mula dirinya tergerak untuk menginisiasi membangun jembatan darurat di Kampung Lesem. Awalnya, ia melihat sebuah postingan di media sosial yang memperlihatkan anak-anak di wilayahnya menyeberang sungai untuk berangkat sekolah.

Iptu Arsi merasa terenyuh dengan kondisi dan perjuangan anak-anak sekolah tersebut. Akhirnya, ia mencari tahu lokasi sebenarnya dari video viral tersebut. Iptu Arsi menghubungi langsung si pengunggah video.

"Kami bertukar informasi (dengan pengunggah video). Waktu itu saya menyampaikan bahwa nanti kami akan meninjau lokasi kali yang diseberang oleh beberapa siswa mau pergi sekolah," kata Iptu Arsi.

Pada 28 Januari 2026, Iptu Arsi datang langsung ke Kampung Lesem yang merupakan desa terpencil hingga akses ke daerah itu susah diakses. Ia dan beberapa anggotanya harus menempuh 4 kilometer jalan kaki karena ke kampung itu tidak bisa dilintasi kendaraan.

"Kami bertemu dengan warga di situ, kami berdiskusi, saya bilang bagaimana kalau kita bergotong royong saja untuk membangun jembatan darurat, ya daripada anak-anak kita ini nanti menjadi korban terseret arus sungai," ucapnya.

Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.Iptu Arsilinus Lentar menginisiasi untuk membangun jembatan darurat di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto: dok. istimewa

Iptu Arsi tidak mau ada warganya, terlebih anak-anak, menjadi korban terserat arus deras sungai. Akhirnya, Iptu Arsi dan warga sepakat untuk membangun jembatan darurat dengan material bambu dan talinya pakai ijuk.

"Kita sepakat untuk warga lokal menyiapkan bahan-bahannya berupa bambu, tambahannya paku dengan cat (disiapkan Iptu Arsi). Kami itu urunan uang untuk makan bersama, misalnya untuk beli lauknya," ujarnya.

Dia mengungkap alasannya menginisiasi untuk mengajak masyarakat gotong royong membangun jembatan darurat tersebut. Menurutnya, inisiatif dirinya dan jajarannya sebagai bentuk kehadiran negara dalam menyikapi persoalan masyarakat.

"Mereka itu harus menyeberang sungai sederas itu, kan susah ya. Kami dari Polri tidak mau masyarakat saya mati sia-sia hanya karena korban kealpaan negara. Kami hadir sekalipun itu darurat, tapi setidaknya dapat membantu mereka," kata Iptu Arsi.

Sebelum ada jembatan darurat, sebanyak 11 siswa SD dan 10 siswa SMP dari Kampung Lesem yang harus bersekolah dengan menyeberang sungai. Dengan dibangunnya jembatan itu, anak-anak tidak perlu lagi menerjang derasnya arus sungai untuk pergi ke sekolah.

"Semoga dengan kegiatan ini akan memicu membuka mata pemerintah, pemangku kepentingan atau dinas terkait kiranya mereka berkenan untuk mengalokasikan anggaran," pungkasnya.

Simak juga Video 'Pengabdian Panjang Aiptu Nur Cahyo di Pedalaman Kalteng, Perjuangkan Air Bersih':

(fas/knv)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |