DPRD Puji Program Revitalisasi Pasar Pemkot Surabaya

4 hours ago 2

Jakarta - Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni memuji upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk revitalisasi pasar tradisional. Program yang menelan anggaran sekitar Rp 18,9 miliar pada tahun ini diharapkan mengubah pasar rakyat menjadi lebih modern yang dibarengi dengan transformasi manajemen.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi kerakyatan sekaligus menjawab stigma lama pasar tradisional yang identik dengan kumuh dan kurang tertata. Hal itu diungkapkan olehnya saat di DPRD Kota Surabaya, hari ini.

"Selama ini image pasar tradisional itu kan kumuh, tidak bersih. Nah, revitalisasi ini harus menjadi momentum untuk mengubah itu semua," kata Arif Fathoni dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2026).

Fathoni menegaskan keberhasilan revitalisasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Perusahaan Daerah Pasar Surya sebagai pengelola diminta menjadikan program ini sebagai langkah awal melakukan rebranding total pengelolaan pasar.

Fathoni menilai, selama ini, pengelolaan pasar tradisional masih belum optimal dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk untuk mendukung pemasaran pedagang.

"Kami berharap PD Pasar menangkap ini sebagai peluang untuk me-rebranding manajemen pengelolaan pasar. Tidak bisa lagi berjalan autopilot," ujar Fathoni.

Dia mencontohkan fenomena di sejumlah pasar besar seperti Pasar Tanah Abang yang mulai beradaptasi dengan tren digital melalui penjualan berbasis live streaming di media sosial. Menurutnya, pendekatan serupa perlu mulai diterapkan di Surabaya.

"Pedagang sekarang harus adaptif. Bisa memanfaatkan TikTok, live streaming, atau platform lain. Ini bagian dari menghidupkan kembali denyut ekonomi pasar," jelasnya.

Untuk itu, dia mendorong PD Pasar menggandeng konten kreator untuk memperkuat promosi pasar tradisional sekaligus mengubah persepsi publik. Selain digitalisasi, pembinaan pedagang juga menjadi kunci melalui edukasi berkelanjutan terkait kebersihan, penataan dagangan, hingga manajemen usaha.

"Pedagang harus di-upgrade. Bagaimana menjaga kebersihan, bagaimana kemasan produk, itu semua penting," ujar Fathoni.

Dia juga mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik tanpa diikuti peningkatan kualitas pengelolaan. Jika tidak, dikhawatirkan pasar akan kembali ke kondisi semula.

"Jangan sampai pemkot sudah menunjukkan keberpihakan, tapi tidak gayung bersambut. PD Pasar harus proaktif," ujar Fathoni.

Politisi dari Fraksi Golkar itu bahkan menyinggung fenomena pasar krempyeng atau pasar rakyat mandiri yang justru lebih hidup dibandingkan pasar di bawah pengelolaan resmi. Menurutnya, hal ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola pasar di Surabaya.

"Pasar yang dikelola masyarakat saja bisa ramai. Ini harus jadi otokritik kita semua," tegasnya.

Fathoni berharap kedepan revitalisasi pasar tradisional mampu menjadikan Surabaya sebagai kota percontohan dalam pengelolaan pasar rakyat modern berbasis kolaborasi antara ekonomi tradisional dan teknologi.

"Kalau pasarnya sudah bersih, manajemennya modern, dan pedagangnya adaptif, insyaallah pasar tradisional Surabaya bisa naik kelas," tutup Fathoni. (prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |