Divonis 10 Tahun, Siska Kini Berkarya Lewat Batik di Lapas Perempuan Bandung

44 minutes ago 1

Jakarta -

Siska adalah warga binaan atau narapidana (napi) yang menjadi andalan pos kerja membatik Lapas Perempuan Bandung, Jawa Barat (Jabar). Perempuan 41 tahun ini tak memiliki latar belakang seniman, dan bakat membatiknya muncul tak terduga.

"Kalau ditanya batik, sama sekali dulu nggak minat. Di luar saja nggak minat, apalagi di dalam (lapas), (ikut) pelatihan pun nggak minat. Gue akhirnya nyemplung di batik karena Kalapas bikin perlombaan menggambar desain batik, ikutlah gue mewakili kamar doang. Jadi gue iseng-iseng saja," cerita Siska kepada detikcom di Lapas Perempuan Bandung pada Jumat (21/8/2026).

Dia lalu keluar sebagai Juara I Lomba Membatik Lapas Perempuan Bandung, yang diadakan pada 2025. "Nggak tahunya dapat Juara I. Diatensilah sama Kalapas, 'Yang menang kemarin tolong masukkan ke pos kerja batik', bingung gue kan," sambung dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siska menyampaikan jangankan membatik, terlibat dalam kegiatan pos kerja saja dia tak menyangka. Yang dia ketahui, pos kerja diperuntukkan napi yang telah menjalani sepertiga masa pidana, sementara dia baru menjalani kurang dari waktu tersebut kala itu.

"Gue (menjadi napi) di Warung Kiara 1,5 tahun. Kalau di sini sudah dua tahun. Berarti pas gue masuk pos kerja batik, itu gue belum (menjalani) sampai sepertiga masa hukuman," terang Siska.

"Sebelumnya gue ya main-main saja sehari-hari. Main, gereja, main, gereja. Nggak ikut pos kerja karena kan masih jauh, hukuman gue 10 tahun. 'Buat apa ikut-ikut pos kerja?', pikir gue," imbuh dia.

Siska mengaku kebingungan saat ketika pertama kali masuk pos kerja membatik karena merasa nol pengetahuan. Namun dia memilih tak putus asa, dan belajar dari napi yang lebih dulu membuat batik tulis di pos kerja tersebut.

"Lalu masuklah gua ke pos batik, bingung awalnya suruh ngapain. Kalau gambar di kertas kecil mungkin bisa, tapi kalau gambar di kain besar mana bisa. Tapi gua di situ nggak putus asa, meskipun nggak pernah ikut pelatihan, gue mau belajar dan mau tahu kayak gimana sih batik itu," cerita napi asal Jakarta Timur (Jaktim) ini.

Selama dua minggu itu, Siska mempelajari dasar pembuatan motif hingga penempatan gambar pada kain. Lalu akhirnya dia berinisiatif mengeksplorasi motif batik.

"Di situlah gue baru mengenal batik, bagian bawah itu namanya apa. Oh, baju itu harus nyambung gambarnya, nggak bisa asal. Oh, maunya customer seperti ini," tutur napi kasus sabu ini.

Siska kini bertugas membuat motif batik tulis pada lembaran kain. Dia tidak mengerjakan proses pembuatan tas atau produk turunannya, karena pekerjaan tersebut ditangani napi lain.

"Batik kan punya ciri khas dari tiap daerah, nah kita pengennya punya ciri khas batik sendiri. Ada beberapa motif batik yang kita ciptain dan sudah kita hak ciptain. Motif-motifnya yang gambar saya," kata Siska.

Beberapa motif yang dibuat Siska antara lain Manuk Dadali, Ciung Wanara, Sisingaan, Macan Godong Wening, dan Hagia Sofia. Pembuatan desain, terang Siska, juga menyesuaikan permintaan konsumen.

"Misalnya mau motif Manuk Dadali. Gue buat sketsanya, di-acc, ya udah kita proses," terang Siska.

Temukan Kedamaian di Batik

Siska mengatakan membatik mengubah kesehariannya sebagai napi. Dengan melukis batik, Siska merasa waktu berlalu cepat.

"Meski tambah stres karena jadi ada kerjaan," ungkap dia berseloroh.

Siska mengaku aktivitas produktif itu membuat pikirannya lebih terarah. Salah satu godaan terberat bagi dia adalah ponsel.

"Tapi di sini gambar-gambar itu yang menyelamatkan gue, gue bisa bertahan di sini karena batik. Kalau nggak di batik mungkin gue akan bermasalah dengan orang, mungkin gue akan kepikiran HP," ujar Siska.

Berkat menekuni batik tulis, Siska mengaku justru mendapat kesempatan mengakses ponsel dan laptop. Meski sekadar untuk mencari referensi terkait batik tulis.

"Di batik gue aman, nggak usah ngumpet-ngumpet untuk bisa pegang handphone. Karena gue dikasih fasilitas HP dan laptop untuk belajar, mengembangkan skill batik gue Banyak pengetahuan lagi karena batik. Jadi semisal kita dikasih kesempatan belajar teknik-teknik atau motif-motif di internet jadinya mikir, 'Masa dia bisa, gua nggak bisa.' Jadi merasa tertantang," sebut Siska.

"Nggak semua yang pegang batik boleh pegang HP. Itu privilege dan gue bersyukur," tambah dia.

Siska menyampaikan dirinya betah di pos kerja membatik bukan karena mengejar premi. Namun karena mendapatkan validasi.

"Bagiku premi nggak ada apa-apanya, nggak terlalu musingin premi, tapi yang terpenting saya dapat kepercayaan dari lapas," ucap Siska.

Siska merasa senang ketika hasil pekerjaannya mulai dipesan dan digunakan orang di luar lapas. Bahkan, lanjut dia, batik tulis buatannya dipakai kalangan pejabat.

"Kalau ada pesanan juga gua makin termotivasi. Jadi misalnya ada pesanan dari luar negeri, tervalidasi lah gue dengan karya yang dihargai. Nggak usah gue yang terbang ke luar negeri, tapi batik buatan gue udah terbang duluan ke sana, nggak apa-apa. Gue tetap bangga," kata Siska.

"Pas lihat batik dipakai pejabat, pas kemarin itu Pak Dirjen pakai couple-an sama istrinya. Terus beberapa pejabat lain juga, Kalapas-Kalapas, wah seneng gue," ungkap dia.

Sedih Barang Hilang di Pameran

Produk hasil kerja napi Lapas Perempuan Bandung sudah beberapa kali mengikuti pameran, termasuk kain dan produk turunan kain batik. Salah satunya di tiap gelaran IPPA Fest.

Namun, kata Siska, ada barang yang dibawa ke pameran tetapi tidak kembali dan tidak diketahui hasil penjualannya. "Kendalanya cuma satu, barang-barang habis dipamerin kok nggak balik, hilang gitu aja, nggak dibayar. Itu yang buat kita sedih," ujar Siska.

Siska berharap penyelenggara pameran lebih memperhatikan pencatatan produk warga binaan. Menurutnya, informasi penjualan diperlukan agar mereka mengetahui motif yang diminati konsumen dan dapat menentukan harga secara tepat.

"Harapannya ke depan hal seperti itu panitianya concern, jangan tahu-tahu barangnya hilang. Kita kan mau tahu batik yang laku buatan kita yang mana nih, kalangan mana yang beli. Sebagus apa pun barang yang kita buat, kalau kita nggak tahu berapa nilainya, laku berapa, kita nggak bisa bikin standar harganya dong," sambung Siska.

Dia juga berharap akses pemasaran produk warga binaan diperluas. Penjualan berpengaruh langsung terhadap premi karena warga binaan hanya mendapatkan premi apabila produk mereka terjual.

"Kita juga berharap cariin pasaran dong supaya dapat premi. Kita masih bingung untuk pemasaran karena nggak semua orang suka, karena hanya yang tahu-tahu aja yang suka," katanya.

(aud/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |