Air Laut Mulai Masuk ke Sungai Mahakam Kaltim yang Menyusut

4 days ago 9
Samarinda -

Air laut mulai masuk ke Sungai Mahakam seiring debit sungai yang terus menyusut akibat kemarau di Kalimantan Timur (Kaltim). Meski demikian, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda memastikan kondisi tersebut belum mempengaruhi pengambilan air baku untuk kebutuhan masyarakat.

Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo mengatakan masuknya air laut saat ini masih terjadi di sekitar wilayah muara dan dipengaruhi pasang surut. Kondisi berbeda terjadi ketika debit Mahakam tinggi lantaran aliran air tawar mampu menahan air laut agar tidak bergerak lebih jauh ke sungai.

"Karena ini sudah agak menyusut itu memang sebagian ada yang masuk, tapi itu tidak mempengaruhi pengambilan air untuk PDAM," kata Andri, dilansir detikKalimantan, Kamis (20/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Andri, PDAM memiliki standar kualitas air baku yang digunakan untuk kemudian diolah menjadi air bersih. Sejauh ini, masuknya air laut tersebut belum mencapai kondisi yang dapat mengganggu pengambilan air baku.

"Jadi PDAM kan ada standarnya, bahwa kalau asin itu enggak boleh. Jadi betul masih aman lah saat ini," ujarnya.

Selain mengandalkan Sungai Mahakam, kebutuhan air baku Samarinda juga mendapat pasokan dari Bendungan Lempake. Bendungan tersebut memiliki kapasitas sekitar 900 ribu meter kubik dan menjadi salah satu sumber suplai bagi PDAM Samarinda.

"PDAM Samarinda itu juga mendapatkan air dari kami, dari Bendungan Lempake. Kapasitasnya 900.000 meter kubik. Jadi selain dari Sungai Mahakam juga ada dari Bendungan Lempake," jelasnya.

Andri memastikan ketersediaan air baku untuk masyarakat saat ini masih mencukupi menghadapi kondisi kemarau. BWS juga melakukan pengaturan terhadap cadangan air di sejumlah bendungan agar dapat digunakan sesuai kebutuhan prioritas.

"Ini masih cukup dan aman," tuturnya.

Pesut Terancam Terjebak

Kondisi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim) yang menyusut menjadi ancaman tersendiri bagi keberlangsungan Pesut Mahakam. Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) khawatir pesut yang bergerak mengikuti jalur air justru terjebak ketika bagian sungai yang dilaluinya mengering atau terputus.

Pimpinan Program Ilmiah Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb mengatakan kondisi kemarau membuat debit air Mahakam menjadi lebih kecil. Dalam kondisi tersebut, pesut biasanya bergerak semakin ke hulu untuk mencari perairan yang masih memiliki debit air dan sumber pakan.

"Jadi semakin jauh itu pesut juga bisa mudik dan ikut migrasi. Kami khawatir kalau pesut itu bisa mungkin terjebak di air yang misalnya dia lewat satu bagian sungai yang masih ada air kemudian dia pulang ternyata sudah putus atau apa," ujar Danielle kepada detikKalimantan, Kamis (20/8/2026).

Menurut Danielle, kondisi tersebut membuat masyarakat perlu berperan sebagai sistem peringatan dini. Warga yang melihat pesut kesulitan bergerak ke arah hulu maupun hilir diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada pihak yang dapat melakukan penanganan.

"Nah, itu kita memang perlu early warning system dari masyarakat agar kalau melihat pesut atau bahkan dia sadar bahwa pesut itu enggak bisa lebih ke hulu atau lebih ke hilir, mohon hubungi ke RASI atau memang ke Balai Pengelolaan Kelautan (BPK), DKP, atau otoritas setempat di kampung," tutur dia.

Baca selengkapnya di sini dan di sini

Tonton juga video "Peta Kalimantan Dipenuhi Titik Merah, Warganet Gaungkan Pray for Kalimantan!"

(idh/idh)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |