Jakarta -
Mesin pompa air di Polder Kalimati, Kota Bekasi, Jawa Barat, meledak saat banjir 'mengepung'. Walkot Bekasi Tri Adhianto mengungkap penyebabnya adalah pompa tidak mampu menanggung beban air.
"Mulai jam 12 (malam) memang terjadi hujan, sampai tadi jam 9 pagi. Ini memang membuat terutama yang lokal kita nggak mampu menanggung beban air yang ada. Makannya pompa ini baru kita nyalakan tadi pagi dari jam 2 pagi, kemudian tadi kejadian kurang lebih jam 10-an. Kemudian meledak, dan hari ini tidak bisa digunakan yang satu," kata Tri kepada wartawan, Kamis (29/1/2026).
Tri menambahkan pihaknya bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menyiagakan pompa portabel. Tri menyebut meledaknya pompa air Polder Kalimati bisa berdampak luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena dampaknya kalau ini tidak kita bantu, itu cukup luar biasa. Karena DAS-nya (daerah aliran sungai) DAS Rawalumbu, yang mulai dari Rawalumbu, jembatan 1 sampai jembatan 9 itu pasti akan naik. Belum lagi nanti di Bumi Bekasi baru. Tadi aja baru selesai, mereka jam 10, kemudian baru kering," jelasnya.
Tri menambahkan, sejumlah warga juga sudah mengungsi akibat rumahnya kebanjiran. Saat ini Pemkot bersama stakeholder terkait masih melakukan upaya penanggulangan banjir, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca.
Tri menambahkan, Pemkot juga tengah berupaya menggenjot pembangunan tanggul. Namun, kata Tri, saat ini program itu masih terkendala pembebasan lahan.
"Ini kan kita masih ada proyek ini sebetulnya, kegiatan terkait dengan tanggulisasi. Masih terkendala terkait satu pembebasan lahan. Termasuk yang tadi saya sampaikan bahwa untuk yang di Mawar itu memang harus dibuat tanggul," jelasnya.
Tri menyebut pihaknya akan melakukan penertiban terhadap bangunan yang kaidah berdiri di bantaran kali. Dia meminta warga yang masih ngotot mendirikan bangunan untuk menertibkan diri.
"Tentu juga harus ada kerelaan warga yang kemudian hari ini berada di bantaran. Kalau memang itu daerah aliran sungai ya mereka memang harusnya sudah berpindah. Apalagi kalau kemudian tanahnya bukan tanah mereka, tanahnya adalah tanahnya DAS," kata dia.
"Jadi maka dalam waktu dekat kita juga akan melakukan penertiban, terkait bangunan liar ada sekitar 72 bangunan yang kemudian ada berada di (sekitar) Lotte, itu kan salah satu solusinya agar kemudian semakin terkendali," imbuhnya.
Lihat juga Video Pramono Tinjau Banjir Rawa Buaya, Warga Todong Minta Tambah Pompa Air
(wnv/yld)


















































