Waskita Karya Salurkan Hampir 100 Hewan Kurban ke Berbagai Daerah

3 hours ago 2

Jakarta - Memperingati Hari Raya Iduladha 1447 H, PT Waskita Karya (Persero) Tbk siap menyalurkan hampir 100 hewan kurban ke berbagai daerah di Tanah Air. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan, mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus mewujudkan kepedulian sosial terhadap sesama.

Distribusi kurban tahun ini dilakukan ke warga sekitar kantor pusat Waskita Karya di Jakarta dan sejumlah wilayah pembangunan proyek strategis Perseroan.

Dari Aceh sampai Merauke, termasuk Sukabumi, Yogyakarta, Sumatera Selatan (Sumsel), Sulawesi Selatan (Sulsel), Makassar, Ibu Kota Nusantara (IKN), serta Kalimantan Tengah (Kalteng).

Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan hewan kurban yang disalurkan berupa puluhan sapi dan puluhan kambing. Seluruh hewan dipastikan telah memenuhi standar kualitas tinggi yang dibuktikan dengan sertifikat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

"Melalui penyaluran hewan kurban pada Iduladha tahun ini, Waskita Karya berkomitmen untuk menanamkan nilai sosial sekaligus mempererat hubungan sosial dengan masyarakat sekitar proyek. Berkurban bukan hanya soal berbagi daging, tetapi juga menyampaikan pesan kasih sayang, kebersamaan, dan kepedulian melalui tindakan nyata yang penuh manfaat," tutur Ermy, dalam keterangan tertulis, Selasa (26/5/2026).

Ermy melanjutkan penyaluran kurban ini diharapkan dapat menjadi bagian dari kontribusi nyata Perseroan dalam membangun harmonisasi antara pembangunan infrastruktur dan keberlanjutan sosial masyarakat. Penyediaan hewan kurban tahun ini turut melibatkan para peternak lokal di beberapa daerah.

Sebagai BUMN Konstruksi dengan pengalaman lebih dari 65 tahun, Waskita Karya juga telah mengerjakan lima masjid besar di Tanah Air yang bisa digunakan untuk sholat Iduladha berjemaah.

Dari mulai Masjid Istiqlal di Jakarta, Baiturrahman di Aceh, Sheikh Zayed di Solo, Baiturrahman di Semarang, hingga Al-Akbar di Surabaya. Kelima masjid mampu menampung hingga 200 ribu jemaah.

"Pembangunan sejumlah masjid ini merupakan kontribusi Perseroan dalam menyediakan fasilitas penunjang ibadah umat Muslim. Kami ingin para jemaah bisa beribadah dengan khusyuk, aman, dan nyaman," kata Ermy.

Dalam pengerjaannya, kata Ermy, Perseroan tidak hanya memerhatikan kualitas bangunan tapi juga melihat sejarah atau latar belakang berdirinya masjid. Langkah ini guna menyelaraskan bangunan tanpa harus mengubah bentuk secara signifikan.

"Maka nilai sejarahnya masih terlihat pada bangunan masjid. Misalnya pada Masjid Baiturrahman Aceh, yang merupakan salah satu masjid tertua karena sudah berdiri sejak 1612, desainnya dibuat menyerupai Masjid Nabawi di Madinah Arab Saudi," tutur Ermy.

Menurut Ermy, masjid berkapasitas lebih dari 24 ribu jemaah ini memiliki 12 payung raksasa dan pohon kurma di sekitar halaman masjid, sehingga menambah kemiripan dengan Nabawi.

Hingga kini, masjid yang direnovasi Waskita pada 2015 itu masih menjadi salah satu destinasi wisata religi dan budaya di Kota Serambi Mekah tersebut.

Nilai sejarah terlihat pula pada Masjid Raya Baiturrahman Semarang yang pertama kali diresmikan pada Desember 1974. Saat merenovasi bangunan yang berada di pusat kota itu, Waskita tidak mengubah bentuk secara signifikan tapi membuatnya lebih megah dan modern.

"Desain masjid tetap dipertahankan dengan gaya arsitektur tradisional jawa yang mengadopsi struktur limasan. Hanya saja kami menambahkan beberapa bagian seperti kolam air, agar menambah suasana sejuk di sekitar masjid," jelas Ermy.


Perseroan hanya membutuhkan waktu 11 bulan, berkat penerapan Building Automation System (BAS). Sistem tersebut mengintegrasikan sistem tata udara, special lighting, dan control equipment Mechanical, Electrical, Plumbing (MEP).

Berikutnya Masjid Sheikh Zayed Solo yang merupakan bentuk hibah dari Uni Emirat Arab (UEA) kepada Indonesia. Bangunan ini juga menjadi simbol persahabatan antara Indonesia dan UEA.

"Masjid yang dibangun oleh Waskita pada 2021 itu dirampungkan tepat waktu. Perseroan juga menambahkan inovasi green building serta beberapa fasilitas berteknologi modern," tutur Ermy.

Ermy menuturkan Masjid Sheikh Zayed Solo dibangun mirip Masjid Sheikh Zayed Abu Dhabi di Uni Emirat Arab (UEA). Hanya saja, bangunan yang dapat menampung sampai 15 ribu jemaah ini tetap diberikan sentuhan khas Kota Solo seperti penggunaan motif batik kawung pada lantai dan pilar-pilar masjid.

Pada 2022 lalu, Waskita Karya turut merenovasi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Tidak hanya memperindah tampilan luar atau fasadnya, Perseroan pun memastikan keandalan struktur sekaligus kenyamanan fasilitas bagi para pengunjung dan jemaah yang hadir dari berbagai kota.

Masjid terbesar kedua di Indonesia ini mampu menampung hingga 36 ribu bahkan 45 ribu jemaah. Maka tidak heran jika setiap lebaran warga berbondong-bondong melaksanakan salat Iduladha di sana.

"Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya berdiri sebagai mahakarya arsitektur yang memadukan estetika modern dengan filosofi Islam. Setiap sudut bangunannya dirancang untuk menciptakan harmoni serta menjadikannya ikon religi di Jawa Timur," jelas Ermy.

Ermy melanjutkan Perseroan juga merasa bangga karena bisa ikut merenovasi masjid termegah di Indonesia yakni Istiqlal. Masjid yang selesai direnovasi pada 2021 ini, sekarang dilengkapi teknologi kekinian sebagai inovasi green building.

"Kelima masjid yang dibangun oleh Waskita menjadi simbol peradaban Islam di berbagai daerah. Kami berharap, pada perayaan Iduladha tahun ini masyarakat dapat salat bersama keluarganya dengan penuh khidmat dan suka cita," pungkasnya. (akd/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |