Waka MPR Dorong Perlindungan Hak-hak Dasar Pekerja Industri Batik Hijau

11 hours ago 11

Jakarta -

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) mengatakan industri batik nasional terus mencatat kinerja positif di pasar global. Namun, para pekerja perempuan yang menjadi tulang punggung produksi fashion berkelanjutan, seperti batik, justru masih terkurung dalam sistem upah yang stagnan dan beban kerja yang kian berat.

"Pertumbuhan produksi sustainable fashion seperti batik, belum berdampak positif terhadap upah pekerja yang mayoritas perempuan," ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9).

Data Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor batik nasional pada 2025 mencapai US$30,62 juta, tumbuh 13,03% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tren batik yang mengandalkan proses yang ramah lingkungan dan memanfaatkan pewarna alami sejatinya sejalan dengan tuntutan fesyen berkelanjutan global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, proses tersebut ternyata menciptakan kompleksitas baru di ruang produksi karena tahapan produksi yang lebih panjang menambah beban para pekerja. Penelitian menunjukkan bahwa tambahan beban kerja itu tidak berkorelasi positif terhadap eskalasi upah pekerjanya.

Rerie menekankan perlindungan kesejahteraan pekerja bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan amanat konstitusi. Ia juga mendorong terciptanya integrasi holistik antara konservasi lingkungan, pelestarian warisan budaya, dan jaminan perlindungan hak-hak dasar pekerja dalam industri batik hijau.

"Label 'hijau' dan 'berkelanjutan' dalam industri batik akan kehilangan makna etis jika di baliknya masih ada tenaga kerja tanpa kompensasi yang setara," tutur Rerie.

Adapun ungkapan ini disampaikan Rerie dalam diskusi daring bertema Batik Hijau dan Keadilan Pekerja Perempuan: Menyatukan Agenda Lingkungan, Budaya, dan Kesejahteraan.

Diskusi ini dimoderatori Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, Eva Kusuma Sundari, menghadirkan Staf Ahli Bidang Sosial Politik dan Kebijakan Publik Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Agus Triyono, Guru Besar IPB Anas Miftah Fauzi, M.Eng., dan Ekonom Senior - Institute for Development of Economics and Finance /INDEF Dr. Aviliani turut hadir sebagai narasumber.

Hadir pula Pendiri NGO Sekar Kawung - Praktisi Batik Berkelanjutan, Chandra Kirana Prijosusilo sebagai penanggap.

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |