Waka MPR Dorong Pelestarian Lengger untuk Perkuat Identitas Kebangsaan

6 hours ago 5

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie) mengungkapkan pelestarian kesenian Lengger Banyumas bukan merupakan upaya menjaga warisan budaya semata, melainkan bagian strategis dalam memperkuat karakter dan kesadaran kebangsaan generasi penerus.

"Ketika kita bicara Lengger Banyumasan, sesungguhnya kita sedang bicara bagaimana kita menjaga warisan, dan lebih dari itu adalah upaya merawat kesadaran kebangsaan," ujar Rerie dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

Hal itu disampaikannya pada acara penyerapan aspirasi masyarakat bertema Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa yang dikemas dalam bentuk talkshow mengangkat topik Lengger Banyumas: Menjaga Warisan, Merawat Kesadaran Bangsa. Acara ini diselenggarakan di Pendopo Sipanji Kabupaten Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng), Senin (15/6),

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rerie berpendapat bahwa budaya adalah infrastruktur moral demokrasi. Karena, tegas dia, demokrasi tidak akan pernah berdiri kokoh, tanpa akar budaya.

Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu mengingatkan bahwa saat ini demokrasi kerap dipersempit menjadi sekadar kontestasi politik, pemilu, atau urusan kekuasaan semata.

"Padahal, demokrasi sangat memerlukan fondasi yang lebih dalam. Demokrasi membutuhkan warga yang menghormati sesama, menghargai perbedaan, memiliki rasa terhadap budaya dan bangsanya. Ini semua adalah inti kebudayaan," tegasnya.

Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu mengutip Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan negara wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Rerie menekankan bahwa budaya bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan jiwa, nafas, dan bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional.

Lebih lanjut, Rerie mengapresiasi para seniman dan budayawan Banyumas yang konsisten mengangkat dan melestarikan Lengger, termasuk menumbuhkan kembali filosofi di balik tarian tersebut. Rerie juga mendorong agar Lengger bisa diajukan menjadi warisan budaya dunia, setelah pada 2019 ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda Nasional.

"Pengakuan negara itu penting karena ini bukan sekadar catatan administratif, tetapi bentuk bahwa Lengger betul-betul menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini," katanya.

Selanjutnya, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah hilangnya seni atau pertunjukan, melainkan hilangnya ingatan dan keterhubungan antara generasi muda dengan budayanya sendiri.

"Generasi muda tidak boleh kehilangan keterhubungan dengan budayanya. Karena dengan kehilangan hubungan dengan budaya, bangsa itu akan kehilangan memorinya," ujar Rerie.

Selain itu, ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak boleh dibebankan hanya kepada komunitas budaya dan kalangan seniman saja, harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar kuat dan mampu membawa warisan budayanya tetap hidup di tengah perubahan zaman," pungkas Rerie.

Sebagai informasi, acara ini turut dihadiri antara lain Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono; Wakil Ketua Komisi XII, Sugeng Suparwoto; Pembina Lengger Bicara, Andy Flores Noya , dan para pegiat seni dan masyarakat di Banyumas.

(akn/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |