Ermanto Usman (65) tewas akibat dibunuh orang tak dikenal di rumahnya di Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar). Ermanto diketahui merupakan pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT) yang memiliki rekam jejak panjang sebagai aktivis pekerja pelabuhan.
Anggota DPR RI Komisi XIII sekaligus Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), Rieke Diah Pitaloka, mengungkap sosok Ermanto bukan sekadar pensiunan biasa. Dia mengatakan Ermanto adalah salah satu sosok kunci dalam perjuangan membongkar dugaan korupsi besar di sektor pelabuhan beberapa tahun lalu.
"Pak Ermanto ini adalah dulu karyawan JICT yang sempat di-PHK, begitu, dalam kaitan kasus dugaan korupsi yang melibatkan RJ Lino. Dan kemudian dibentuklah Pansus di DPR, kebetulan saya sebagai Ketua Pansus Pelindo-nya dengan kerugian negara mencapai triliunan rupiah bahkan kalau pakai penilaian future values itu mungkin puluhan triliun kerugian Indonesia, begitu," ujar Rieke di rumah duka Ermanto di Bekasi, Rabu (4/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ermanto tewas setelah mengalami sejumlah luka pada peristiwa yang terjadi di perumahan kawasan Jatibening, Bekasi, pada Senin (2/3). Dalam hari yang sama itu, istri Ermanto, Pasmilawati (60), juga terluka.
Pejuang Antikorupsi Pelabuhan
Semasa hidupnya, Ermanto aktif dalam Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI) di bawah naungan Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI). Rieke menyebut Ermanto adalah rekan seperjuangan yang konsisten mengawal kasus kerugian negara di Pelindo yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Meski sudah tidak lagi bekerja di JICT, dedikasi Ermanto terhadap pemberantasan korupsi tidak luntur. Rieke mengungkap belakangan ini almarhum sedang berupaya membongkar kembali kasus-kasus lama yang dianggap sengaja dihentikan atau 'dipetieskan'.
"Sampai terakhirnya saya yakin Pak Ermanto terus memperjuangkan agar dibukanya kasus yang terindikasi dipetieskan. Kasus korupsi di pelabuhan yang terindikasi dipetieskan," tegas Rieke.
Anggota DPR RI Komisi XIII Rieke Diah Pitaloka mengunjungi pihak keluarga Ermanto (Rachma Indira/detikcom)
Sekitar satu bulan sebelum tutup usia, Ermanto diketahui sempat tampil di sebuah podcast untuk menyuarakan kembali isu korupsi global bond dan proyek Kalibaru yang merugikan negara.
Kepergian Ermanto menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi keluarga. Rieke membeberkan bahwa almarhum seolah sudah merasakan adanya ancaman. Sejak Februari lalu, ia disebut sering meminta maaf kepada keluarga.
"Ada chat yang cukup panjang bahwa bulan Februari kemarin ayahnya minta maaf tolong diikhlaskan apa segala bahwa ya ada indikasi-indikasi, saya nggak tahu ada indikasi-indikasi tapi yang jelas ayahnya pernah berpesan sama anak-anaknya kalau ada apa-apa sama Bapak hubungi Bu Rieke gitu," katanya.
Dugaan Bukan Perampokan Biasa
Rieke menyoroti fakta di TKP soal tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, termasuk perhiasan yang ada di kamar maupun yang sedang dikenakan. Dia merasa janggal atas kasus pembunuhan Ermanto.
Pelaku disebut hanya membawa telepon genggam (handphone/HP), dompet, dua kunci mobil korban. Kondisi korban saat ditemukan pun disebut sangat tragis.
"Ini bukan perampokan karena tidak ada barang yang hilang kecuali kunci mobil, dompet, dan handphone ya. Jadi saya kira perlu ada kajian dan investigasi yang lebih luas, lebih tajam dari pihak kepolisian. Dan kami berharap ada penegakan hukum segera diambil begitu. Tentu saja bukan hanya eksekutor lapangan tapi otak di balik indikasi pembunuhan ini," ucap.
Kini, istri Ermanto dilaporkan masih dalam kondisi kritis di rumah sakit (RS). Rieke pun berencana meminta perlindungan resmi dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk keluarga almarhum.
(jbr/jbr)















































