Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan

6 hours ago 4

loading...

Adhie M Massardi. Foto/Dok SindoNews

Adhie M Massardi
Tenaga Ahli Bidang Kebudayaan dan Demokrasi Kementerian HAM RI

Pekan depan miliaran pasang mata akan tertuju ke 3 negara di Amerika Utara—AS, Meksiko, dan Kanada—tempat digelarnya kompetisi sepak bola Piala Dunia 2026. Apa yang menarik dari bola? Kita mulai dari uang.

Ada sesuatu yang menarik ketika uang masuk ke hampir semua ruang kehidupan manusia.

Ketika uang masuk ke hutan, pohon berubah menjadi angka. Ketika uang masuk ke pengadilan, vonis berubah menjadi bisnis. Ketika uang masuk ke demokrasi, suara berubah menjadi komoditas. Ketika uang masuk ke pendidikan, ilmu perlahan berubah menjadi sertifikat. Dan ketika uang masuk ke seni, makna sering kali berubah menjadi tren.

Namun anehnya, ada satu ruang besar dalam peradaban modern yang tidak sepenuhnya runtuh ketika uang datang ke dalamnya: sepak bola. Mengapa uang tidak pernah benar-benar menang melawan bola?

Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan

Padahal tidak ada ruang yang lebih terbuka terhadap uang dibandingkan sepak bola modern. Di sana ada hak siar bernilai miliaran dolar, sponsor global, industri taruhan, bursa transfer pemain, hingga ekonomi digital yang bergerak dalam hitungan detik. Stadion berubah menjadi pusat konsumsi raksasa. Klub menjadi korporasi. Pemain menjadi aset. Penonton menjadi data.

Tetapi sesuatu tetap bertahan.

Orang masih marah ketika wasit dianggap tidak adil. Orang masih kecewa ketika pertandingan dianggap diatur. Dan jutaan penonton tetap menuntut agar permainan berlangsung jujur.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 dalam Bayang-Bayang Perang Amerika

Di sinilah sepak bola menghadirkan paradoks yang jarang dibahas. Uang memang masuk ke dalam permainan. Namun tidak seperti di banyak tempat lain, uang tidak sepenuhnya berhasil menjadi penguasa. Ia justru dipaksa menjaga permainan tetap dipercaya.

Selama ini kita sering memahami sepak bola hanya sebagai olahraga, hiburan, atau industri. Padahal di dalamnya terdapat satu laboratorium sosial yang sangat besar: bagaimana kepercayaan bekerja di dalam sistem yang penuh persaingan.

Sebuah pertandingan sepak bola hanya berlangsung sembilan puluh menit. Tetapi agar sembilan puluh menit itu dipercaya oleh jutaan manusia, dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar aturan.

Harus ada keyakinan bahwa pertandingan tidak sepenuhnya dimanipulasi. Harus ada keyakinan bahwa aturan berlaku bagi semua. Harus ada keyakinan bahwa hasil pertandingan lahir dari permainan, bukan semata-mata dari transaksi.

Tanpa itu semua, sepak bola kehilangan alasan untuk ditonton. Di titik inilah ekonomi menemukan batasnya.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |