Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan saat ini menjadi sorotan. Selain masalah musim kemarau dan El Nino, legislator kini ikut menunjuk negara tetangga yang dinilai punya andil.
Dirangkum detikcom, Sabtu (22/8/2026), asap kebakaran lahan di Kalimantan diketahui telah masuk ke wilayah Malaysia dan Singapura. Kedua negara itu meminta pemerintah Indonesia segera melakukan penanganan dalam memadamkan api.
Menyikapi itu, Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang kemudian buka suara. Dia meminta negara tetangga ikut berkontribusi dalam upaya pencegahan karhutla di Indonesia karena mereka memiliki kebun sawit di sini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya saya kira kita memberi penjelasan pemahaman ke negara tetangga bahwa Indonesia agak rumit juga menanganinya karena luasnya wilayah," kata Marwan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (21/8).
Marwan mengingatkan Malaysia dan Singapura juga memiliki aktivitas perkebunan di Indonesia. Dia meminta negara-negara tersebut ikut terlibat dalam upaya pencegahan karhutla.
"Tapi perlu juga disadarkan bahwa Malaysia, Singapura juga punya punya kebun juga di Indonesia. Ya jangan jangan memprotes tapi ikut dong pencegahan, dia buka sawit juga di sini, baik perusahaan maupun orang per orang, gitu," ujarnya.
Minta Negara Tetangga Tak Cuma Protes
Marwan menilai Singapura dan Malaysia juga memiliki peran dalam mencegah munculnya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Marwan meminta negara tetangga untuk tak hanya memprotes.
"Jadi jangan asal protes dong, nah itu kira-kira. Justru menurut kita ya mereka punya peran juga dalam munculnya kebakaran hutan ini, gitu. Ya dari sisi kenegaraan kita boleh minta maaf, butuh bantuan, tapi dari sisi perilaku di lapangan mereka juga kurang punya peran di situ," tuturnya.
Seperti diketahui, kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan tak hanya menimbulkan persoalan di dalam negeri. Asap akibat karhutla yang terjadi berpotensi meluas hingga mengganggu kualitas udara di negara tetangga.
Dilansir Bernama, Kamis (20/8) Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) mengatakan 108 sekolah di wilayah Serian, Serawak, Malaysia ditutup sementara. Indeks Pencemaran Udara (API) di kawasan itu melebihi ambang batas polusi.
Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) pun diterapkan. Pembelajaran di rumah dilakukan agar aktivitas belajar siswa tidak terganggu.
"Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200," kata JPBN Sarawak dalam sebuah pernyataannya.
(ygs/ygs)

















































