Sempat Depresi saat Awal Dibui, Kini Eks Napi Ini Rintis Usaha Konveksi Rumahan

3 hours ago 4
Jakarta -

Satu mesin jahit bekas seharga Rp 1,5 juta menjadi teman Fajar dalam mengupayakan impiannya memiliki bisnis konveksi. Dua bulan pascabebas bersyarat dari Lapas Kelas II Garut, Jawa Barat, ia memulai kembali kehidupannya dengan bekal keahlian produksi produk konveksi yang didapat dari balik tembok lapas.

Mesin itu dibelikan mertuanya. Pada pagi hingga sore hari, ia bekerja di sebuah usaha konveksi milik orang lain, dan baru selepas Maghrib hingga sekitar pukul 22.00 WIB, mesin jahit di rumahnya kembali bekerja untuk menyelesaikan pesanan kecil-kecilan yang dia terima secara pribadi.

"Untuk sekarang saya sehari-hari kerja dikonveksi, jadi orderan jahit, permak kalau di rumah itu saya kerjakan sesudah saya selesai kerja yang untuk konveksi, misalnya setelah maghrib sampai jam 22.00 WIB," kata Fajar saat ditemui detikcom di halaman depan Lapas Kelas II Garut usai lapor pembebasan bersyarat, Rabu (19/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fajar, mantan napi, merintis usaha konveksi usai bebas bersyarat.Fajar, mantan napi, merintis usaha konveksi usai bebas bersyarat. (Foto: Audrey/detikcom)

Fajar menceritakan debut pertamanya adalah ketika seorang saudara minta dibuatkan satu setel almamater, lengkap dengan rompi dan celana. Fajar hanya meminta Rp 150 ribu.

"Namanya kasih harga ke saudara, ya bingung juga karena saya sedang merintis. Saya enggak matok harga, yang penting orang-orang tahu bagaimana kualitas jahitan saya," ujar dia.

Perlahan, lanjut Fajar, pesanan lain datang. Ada yang meminta pakaian dipotong, ada pula yang perlu dipermak. Meski nilainya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per potong, namun bagi Fajar, setiap pakaian yang datang ke rumah adalah kesempatan untuk mengumpulkan pelanggan.

Dari pekerjaan di konveksi milik orang lain dan konveksi rumahan yang dirintisnya di rumah, Fajar mengaku memperoleh penghasilan hampir Rp 4 juta pada bulan pertamanya setelah bebas. Memasuki bulan kedua, dalam satu pekan ia pernah mengantongi lebih dari Rp 1 juta, lalu sekitar Rp 900 ribu pada pekan berikutnya.

"Kalau pendapatan saya kerja di konveksi sama terima orderan jahit dan permak di rumah mungkin hampir Rp 4 juta dapatlah sebulan pertama kemarin. Bulan kedua ini ada yang seminggu dapat sejuta lebih, minggu berikutnya Rp 900 ribu," ucap Fajar.

Keuntungan itu belum banyak ia gunakan untuk hal lain. Fajar memilih mengumpulkannya sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan menjahit, seperti penggaris pola dan benang.

"Rencana jangka pendek narik pelanggan dulu, branding kualitas jahitan saya dulu. Ini saya masih kumpulin keuntungan buat modal, beli penggaris pola, benang-benang," tutur dia.

Tak Bisa Tidur Nyenyak, Dihantui Ketakutan

Fajar masuk ke Lapas Garut pada Oktober 2021, setelah sebelumnya ditahan di Rutan Garut. Ia terjerat perkara terkait Undang-undang Perlindungan Anak dan menerima vonis 10 tahun penjara, serta denda Rp 50 juta subsider enam bulan.

Fajar mengaku sempat depresi karena bayangan buruk mengenai kehidupan di dalam lapas. Bayangannya banyak terbentuk dari apa yang dilihatnya di televisi dan film, ditambah cerita orang lain mengenai kehidupan di penjara.

"Jujur sih kalau dari bayangan pertama kali masuk lapas kayak suram lah gitu. Kayak lihat yang di TV-TV kayak gitu kan, yang di film-film, bayangannya kekerasan lah, di-bully sesama warga binaan gitu kan. Awalnya saat mapenaling (masa pengenalan lingkungan) dua minggu itu saya tidur paling cuman hitungan sejam, kebangun, tidur sejam lagi, kebangun lagi, penuh was-was. Karena kan sebelumnya juga ada eks residivis yang nakut-nakutin lah, misalkan di lapas gini-gini-gini," terang Fajar.

Kecemasan itu perlahan berkurang ketika ia mulai mengikuti berbagai kegiatan. Dua tahun pertama dihabiskannya dengan mengikuti kegiatan keagamaan sebagai santri di dalam lapas.

"Tapi ternyata yang terjadi yang sudah saya alami, tidak seperti itu. Tapi setelah masuk, ini pengalaman pribadi saya, yang saya Jalani, yang saya alami itu di luar ekspektasi saya yang saya bayangkan gitu. Ternyata sangat dimanusiakan," cerita Fajar.

Fajar mengatakan saat itu belum terpikir untuk langsung masuk ke program bimbingan kerja. "Mungkin karena saya ingin bertobat dulu," imbuh dia.

Setelah dua tahun, datang orderan untuk bengkel konveksi Lapas Garut yang membawanya kembali menekuni keterampilannya, yakni menjahit. Sebelum terjerat pidana, pria asal Pameungpeuk ini pernah bekerja di rumah jahit milik kakaknya di Cikajang.

Kemampuan itulah yang diketahui Sopian. Sopian adalah sesama eks napi. Kini Sopian menjadi honorer bengkel konveksi Lapas Garut, sekaligus merintis usaha konveksi rumahan seperti Fajar.

"Dulu akhirnya ke (bimbingan kerja) konveksi karena ada yang ngajak, karena dulu itu dapat pesanan kaos kampanye, saya diajak Mang Sopian, mantan di sini juga, yang sekarang punya konveksi di luar. Ikutlah dari situ. Lanjut terus di bimbingan kerja. Mang Sopian tahu background saya bisa jahit karena kan kita suka sharing tentang kegiatan sebelum masuk lapas, apa pekerjaannya, di mana," terang Fajar.

Bukan Cuma Belajar Menjahit

Fajar awalnya hanya bekerja di divisi jahit bengkel konveksi Lapas Garut. Namun, kebutuhan produksi dan regenerasi 'memaksa' dia belajar lebih banyak untuk meningkatkan keahlian. Ketika napi pimpinan tim konveksi sebelumnya bebas, Fajar didorong untuk menguasai pembuatan pola, pengukuran hingga pemotongan kain.

"Di sini saya enggak cuma jahit. Karena 'dipaksa' harus mengasah skill, saya 'dipaksa' harus bisa motong kainnya, bisa buat pola berbagai macam pakaian. Kan memang dari dulunya jadi turun temurun ada leader-nya juga, pas saya pertama masuk ke bimker konveksi, leader-nya itu yang WNA asal China, Pak si Chan itu. Karena dia pulang, kan saya dipaksa harus bisa membuat pola pakaian, bisa potong, bisa ngukur. " jelas dia.

Kata 'dipaksa', lanjut Fajar, bukan merujuk pada hukuman atau tindak intimidasi dari pihak lapas. Maksudnya adalah menggambarkan dorongan kuat agar dirinya tidak berhenti pada kemampuan menjahit kain saja.

Ia mengatakan untuk belajar membuat pola menghabiskan waktu sekitar enam bulan. Menurut Fajar, kemampuan membuat pola justru menjadi bagian penting dalam proses produksi pakaian.

Tanggung jawabnya kemudian bertambah. Fajar dipercaya memimpin delapan warga binaan di bengkel konveksi. Di tahap inilah ia merasa belajar hal baru di luar menjahit, yakni tentang kepemimpinan.

"Teman-teman napi yang saya pimpin di bimker konveksi ada 8 orang. Kalau dulu di rumah jahit kakak ada anak buah ada 3 sampai 4 orang. Jadi di sini selain kemampuan konveksi terasah, kemampuan leadership, koordinasi juga diasah," kata Fajar.

Ia harus memahami kemampuan setiap anggota, menentukan siapa yang mengerjakan pola, menjahit atau mengukur, sekaligus memastikan target produksi dan kualitas tetap terpenuhi. Salah satu ujian datang ketika mereka harus menyelesaikan pesanan 1.500 tas serut dalam waktu tiga minggu.

"Mungkin kalau untuk tantangan ya karena dipercaya juga untuk ngejar target, pertama. Ditambah harus menjaga kualitas juga. Sambil saya ngasih contoh juga kan kepada teman-teman. Saya harus tahu nih tiap teman-teman saya skillnya udah sampai mana. Jadi bagian pola ke siapa, bagian jahit ke siapa. Bagian ukur ke siapa bagian ini ke siapa," terang Fajar.

Untuk mengejar target, Fajar menyampaikan usulan teman-temannya kepada pihak lapas agar tim diperbolehkan lembur dan tidur di bengkel. Izin diberikan. Makanan diantar ke tempat kerja sehingga mereka tidak perlu kembali ke blok selama pengerjaan. Pesanan itu akhirnya selesai.

"Alhamdulillah atas kerja sama dengan teman-teman sama Pak Asep, lalu saya izin ke Kalapas juga kan minta supaya bisa tidur di bengkel konveksi, alhamdulillah beres (pesanan). Jadi harus taktis, teman-teman juga sarankan minta lembur agar mencapai target, ya saya bawa aspirasi teman-teman ke Pak Kalapas. Jadi kami nggak pulang ke blok selama ngejarin pesanan itu. Waktu makan juga makanan dianter ke konveksi," cerita Fajar.

Mengelola delapan orang juga membuat Fajar belajar bahwa mengejar target tidak selalu berarti meminta semua orang terus bekerja. Jika ada napi yang jenuh atau terlihat bosan, Fajar membiarkan napi tersebut istirahat atau mencoba belajar hal baru lainnya di bengkel konveksi lapas.

"Kalau ada di tim yang bosan, stres, paling strategi saya suruh istirahat dulu. Atau ganti proses, misalnya dari menjahit jadi membuat pola supaya tidak jenuh. Kalau ganti proses kan ada tantangan baru," tuturnya.

Bingung Menghadapi Kebebasan

Menjelang bebas bersyarat, Fajar mengaku persoalan baru datang. Fajar mengaku berulang kali memikirkan apa yang harus dilakukan ketika kembali ke masyarakat.

"Menghirup udara bebas, jujur rasanya masih bingung karena harus adaptasi lagi dengan dunia luar. Saya selama seminggu mungkin enggak ngapa-ngapain," katanya.

Ia lantas teringat sosok Mubarok, pelaku UMKM yang bekerja sama dengan Lapas Garut. Mubarok awalnya datang sebagai konsultan budidaya ulat maggot, namun juga tertarik dengan UMKM konveksi Lapas Garut.

Kepala Seksi Bimbingan Kerja Lapas Garut, Asep, mengatakan Mubarok kemudian mengenal kemampuan Fajar. Ia, Fajar dan Mubarok beberapa kali berdiskusi mengenai kemungkinan mengembangkan bisnis konveksi.

"Fajar ini enggak sekadar dipekerjakan (di bengkel konveksi Lapas Garut), tapi kita ajak diskusi proyeksi mengembangkan bisnis konveksi," kata Asep.

Mubarok memiliki rencana membangun konveksi dengan produksi dan merek sendiri. Jika berkembang, usaha tersebut diharapkan juga dapat membuka kesempatan kerja bagi mantan warga binaan, khususnya mereka yang memiliki keterampilan konveksi.

"Jadi niatnya Mubarok ini bagus karena dia mau usahanya menjadi wadah lapangan kerja untuk eks napi, terkhusus yang dari konveksi," ucap pria yang sudah 21 tahun menjadi petugas di Lapas Garut.

Kembali ke Fajar, menutup obrolan dengan detikcom, ia menyinggung soal sosok Asep, yang bukan sekadar petugas lapas di matanya. Asep baginya adalah 'ayah' untuk para napi di bengkel konveksi.

"Yang paling dekat petugas lapas di sini sama saya ya Pak Asep, karena dia yang sering sharing sama anak-anak soal kegiatan di dalam, kalau butuh apa-apa misalnya bahan dan alat-alat, kita ngomongnya sama Pak Asep. Harapan saya ke depannya tempat bimbingan kerja konveksi di Lapas Garut bisa semakin banyak alatnya, bisa lebih modern alat-alatnya," pungkas Fajar.

Saksikan Live DetikPagi:

(aud/eva)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |