loading...
Ciplis Gema Qoriah. Foto/Dok Pribadi
Ciplis Gema Qori’ah
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember
SAAT ini, rupiah tidak hanya sedang menghadapi mengatnya dolar Amerika Serikat. Rupiah sedang genting memasuki ujian kelembagaan (institutional) setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari Gubernur BI . Selanjutnya, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, menjalankan tugas sebagai pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia .
Merilis data JISDOR, rupiah bergerak hingga 18.088 rupiah per dolar AS pada 28 Juli 2026, hal ini memperlihatkan bahwa pasar membaca pergantian kepemimpinan berjalan bersamaan dengan risiko global. Situasi ini cukup membuat kejutan mendalam (shock) pelaku pasar. Untuk menjaga resiliensi ekonomi domestik, situasi ini perlu ditanggapi dengan respons yang konkrit. Justru saatnya pemangku kepentingan mampu membuktikan bahwa kredibilitas rupiah melekat pada tatanan institusi, bukan bergantung pada satu figur. Siapapun pengganti komando kebijakan Bank Indonesia, sebaiknya tetap melaksanakan kebijakan moneter secara independen, progresif dan transparan.
Menahan Pelonggaran BI Rate
Keputusan RDG BI 21–22 Juli 2026 mempertahankan BI Rate pada 5,75 persen merupakan pilihan yang tepat. Inflasi Juni berada pada 3,34 persen secara tahunan, masih dalam sasaran 2,5±1 persen, tetapi tekanan terhadap kurs belum sepenuhnya mereda. Menurunkan bunga terlalu cepat dapat dibaca sebagai berkurangnya kewaspadaan BI ketika pasar sedang menilai arah kebijakan setelah pergantian gubernur. Dalam keadaan seperti ini, ruang pelonggaran harus dibuka oleh pengkinian data, bukan oleh desakan mempercepat pertumbuhan.
Baca Juga: Pengunduran Diri Gubernur BI, Dominasi Fiskal, dan Premi Risiko
Tekanan dari Amerika Serikat juga membatasi keluwesan BI. Federal Reserve mempertahankan Federal Funds Rate (FFR) pada kisaran 3,50–3,75 persen. Laporan Kebijakan Moneter The Fed bulan Juli 2026 menegaskan bahwa inflasi Amerika masih melampaui sasaran 2 persen, antara lain akibat tekanan harga energi. Sikap higher for longer tersebut menjaga imbal hasil aset dolar tetap menarik, memperkuat permintaan terhadap dolar, dan menahan aliran modal menuju pasar berkembang. Karena itu, pemangkasan BI Rate yang prematur dapat mempersempit selisih imbal hasil dan menambah tekanan pada rupiah.














































