Respons Mensos Soal Siswa SMK Samarinda Meninggal Sempat Ngeluh Sepatu Sempit

3 hours ago 3

Jakarta - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul merespons soal siswa SMK di Samarinda yang meninggal setelah mengalami sakit di kaki. Gus Ipul menekankan pentingnya akurasi data agar bantuan sampai ke siswa yang membutuhkan.

"Jadi mereka yang tadi itu mungkin sepatu dan lain sebagainya yang belum terjangkau yang tidak kelihatan oleh kita. Maka dengan data-data yang lebih akurat ini, kita bisa menjangkau mereka," kata Gus Ipul di gedung Kemensos, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Gus Ipul menegaskan Presiden Prabowo Subianto sejak awal meminta Kemensos mempertajam data anak dari keluarga yang membutuhkan bantuan pemerintah. Kerja sama dengan pemda juga perlu dilakukan.

"Di sini inilah kata kuncinya adalah data. Dan kita perlu kerja sama dengan pemerintah daerah. Tidak mungkin Jakarta ini bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Maka itu kita kerja sama dengan pemerintah daerah," tuturnya.

Gus Ipul juga menjelaskan soal program Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) yang ada di desa-desa. Puskesos diharapkan bisa menampung keluhan masyarakat.

"Pusat Kesejahteraan Sosial. Yang ini diharapkan menjadi tempat untuk menampung seluru keluhan, seluruh aspirasi, dan mungkin kebutuhan-kebutuhan keluarga dari desa tersebut. Kalau bisa kita tampung, kita jangkau, dan kita mendapatkan data kita tentu bisa melakukan bisa memberikan bantuan," ungkapnya.

Adapun siswa SMK itu bernama Mandala Rizky Syaputra. Kabar duka tersebut viral di media sosial karena Mandala sebelumnya mengeluh memakai sepatu kekecilan.

Pihak sekolah menyebut Mandala sudah mendapat perhatian dari wali kelas sejak kelas X. Kata pihak sekolah, bantuan diberikan kepada Mandala berupa seragam jurusan, perlengkapan sekolah, sembako, hingga uang sewa kontrakan.

"Sejak kelas X (sepuluh), Mandala sudah mendapat perhatian dari wali kelas saat itu. Bantuan berupa seragam jurusan dan perlengkapan sekolah sudah diberikan, Selain itu bantuan sembako sering juga diberikan, bahkan jika ada kendala dengan uang sewa kontrakan pun dimintai bantuan," tulis SMK 4 Samarinda melalui akun Instagramnya seperti dikutip pada Selasa (5/5).

Pada 1 April lalu, Mandala masih hadir mengikuti pelajaran tapi dengan wajah yang tampak pucat. Guru PKN saat itu, kata pihak sekolah, menyarankan Mandala beristirahat di rumah.

Sejak saat itu, Mandala tidak pernah hadir lagi mengikuti pelajaran. Sang ibu, kata pihak sekolah, lalu datang ke sekolah meminta bantuan uang Rp 1.100.000 untuk biaya pengobatan Mandala.

Lalu, pada 20 April, pihak sekolah menerima pesan berisi gambar kaki dari Mandala yang membengkak melalui WhatsApp. Keesokan harinya, sekolah mendapat kabar bengkak di kaki Mandala mulai kempis.

Pihak sekolah, wali kelas, bersama teman-teman akan memberikan sepatu baru untuk Mandala. Namun, pada 24 April, sekolah mendapat kabar duka Mandala telah berpulang.

"Jumat, 24 April 2026, sebelum semua rencana bantuan itu terlaksana, kabar duka datang. Jumat dini hari kakak Mandala mengabarkan melalui WhatApps kepada Wali Kelas dan Waka Kesiswaan bahwa Mandala telah meninggal dunia. Kakaknya juga memberitahukan bahwa tidak ada dana untuk pemulasaraan jenazah," tulisnya.

Simak Video 'Klarifikasi Mensos soal Viral Sorotan Sepatu Sekolah Rakyat':

(ial/idn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |