Pimpinan MPR Sentil Acara Sahur di Jombang Pakai Sound Horeg: Ganggu Orang

2 hours ago 4
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) menyoroti kegiatan sahur on the road (SOTR) di Jombang menggunakan sound horeg dan penari seksi. HNW menilai kegiatan tersebut tidak sesuai dengan esensi puasa Ramadan.

"Ya, kalau itu (sound horeg) dikaitkan dengan sahur on the road kan nggak nyambung gitu," kata Hidayat kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, acara sahur seharusnya bertujuan membangunkan masyarakat untuk menyantap makanan dengan cara yang etis dan tak mengganggu. HNW menegaskan kegiatan yang menimbulkan kebisingan bertentangan dengan suasana sahur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mestinya kalaupun sahur on the road itu adalah betul-betul dalam rangka untuk mengingatkan, membangunkan orang untuk sahur, bukan malah untuk mengganggu orang yang sahur, bukan malah mengganggu esensi berpuasa yang di antaranya adalah terkait menjaga etika, kesopanan, dan lain sebagainya," jelasnya.

HNW menekankan penggunaan sound horeg dalam acara sahur jauh dari prinsip berpuasa. HNW mengatakan seharusnya saat sahur yang dihadirkan ialah kenyamanan.

"Kita di umat Islam di Indonesia diminta untuk toleran gitu ya bahkan terhadap yang nonmuslim yang tidak puasa. Tentu juga mestinya toleran jugalah kepada umat Islam yang berpuasa dengan hadirkanlah kenyamanan, melaksanakan ibadah puasa termasuk sahurnya," ujarnya.

"Jangan malah diganggu dengan kegiatan yang ngakunya sahur pakai terminologi puasa, tapi sebenarnya yang terjadi malah jauh daripada nilai-nilai berpuasa itu," sambungnya.

Terlebih, kata HNW, kegiatan tersebut tak mengantongi izin pemerintah desa dan kepolisian. Sebab itu, dia meminta aparat dan pemerintah daerah untuk menertibkan aksi-aksi tersebut.

"Jadi kalau demikian halnya, mestinya pemerintah desa atau pemerintah tingkat daerah dan kepolisian, segera menghentikan ya, menertibkan gitu, karena ini jelas kegiatan yang mengganggu ketertiban umum, yang mengganggu kenyamanan orang berpuasa, dan itu tidak membantu untuk menghadirkan suasana berpuasa yang lebih kondusif dan apalagi dalam konteks sahur gitu," ungkapnya.

Lebih lanjut, HNW juga menyoroti aksi tersebut dilakukan di Jombang. Di mana, menurutnya, Jombang merupakan dikenal sebagai kota santri.

"Mestinya karenanya, mereka tahu dirilah untuk tidak melanjutkan kegiatan ini dan sangat baik kalau mereka juga berani minta maaf kepada warga Jombang dan pada warga Indonesia secara umum karena ini sudah menjadi berita viral yang menyebar di mana-mana," tuturnya.

Acara sahur on the road di Jombang diketahui viral karena menyuguhkan sejumlah sound horeg dan penari seksi. Ternyata, acara SOTR dengan sound horeg ini tidak berizin.

Gelaran SOTR ini diposting sejumlah akun media sosial, rampak ribuan orang pawai dengan sepeda motor mengikuti sejumlah sound horeg. Mereka melewati jalan kampung dan persawahan mulai dari suasana masih gelap sampai terang.

Sekretaris Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Hengki, membenarkan SOTR dengan sound horeg ini berlangsung di jalan penghubung desanya dengan Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, pada Minggu (22/2) pagi. Ia menegaskan bukan Pemdes Jatibanjar yang menggelar SOTR ini.

"(Jogetan seksi) semestinya tidak pantas ada seperti itu, bulan puasa ada seperti itu segala, tidak pantas," terangnya dilansir detikJatim, Selasa (24/2).

(amw/rfs)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |