Jakarta -
Partai Demokrat (PD) mengusulkan konsep 'Dapil Nasional' atau national pool dalam penerapan pemilu anggota DPR RI selain penetapan ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, mengingatkan usulan meminimalkan suara terbuang jangan sampai justru mengorbankan sistem yang berjalan.
"Di setiap pemilu suara memang banyak yang hilang, tapi jangan kemudian mengorbankan sistem. Kalau sistem dikorbankan tiba-tiba nanti sisa suara dikumpulkan di nasional, kemudian kita ini pakai sistem apa sebenarnya?" ujar Said di kompleks parlemen, Sanayan, Jakarta, Senin (21/9/2026).
Said mengatakan lebih baik pelaksanaan pileg terselesaikan di daerah pemilihan (dapil). Ia memandang penerapan Sainte Lague yang menjadi rujukan dalam mengkonversikan perolehan suara partai ke kursi di parlemen tetap diberlakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidakkah lebih baik sebagaimana yang selama ini, sudah selesai di dapil saja suara itu. Atau setidaknya kalau umpamanya ada pikiran stembus accord (penggabungan sisa suara) habis di provinsi, itu kan artinya kita balik lagi," ujar Said.
"Habisin saja di dapil kemudian Saint Lague. Tata cara perhitungannya 1; 3; 5 atau modifikasi 1; 1,5; 3; 5. Kalau PDI-P 1; 1,5; 3; 5," sambungnya.
Sebelumnya, Waketum Demokrat, Dede Yusuf, menanggapi usulan Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh yang konsisten mengusulkan ambang batas parlemen di angka 7%. Demokrat lantas menyinggung soal belasan juta suara hangus saat parliamentary threshold (PT) 4% yang diterapkan pada pemilu lalu.
"Kalau Demokrat sedang mengkaji, bukan soal persennya. Tapi soal berapa banyak suara rakyat yang nanti hangus kalau konsepnya hanya PT persen. Sebab kemarin 4% saja yang hangus sampai 17 juta suara. Pernah juga 2,5% (pemilu 2009) malah hangus 19 juta suara," kata Dede mengawali pendapatnya, Minggu (20/9).
Dede mengatakan Demokrat mengusulkan konsep 'Dapil Nasional' atau national pool dalam penerapan pemilu anggota DPR RI. Ia menekankan sisa suara dari partai-partai yang lolos ambang batas bisa dikumpulkan untuk kemudian ditentukan sebagai kursi tambahan di DPR.
Dede kemudian menyinggung soal penggabungan sisa suara (stembus accord) yang pernah digunakan dalam Pemilu 1999. Ia berharap pengkajian konsep tersebut dapat mengurangi sisa suara yang hangus.
"Itu sebabnya Demokrat sejak awal sudah mengusulkan konsep 'Dapil Nasional' (national pool). Di mana sisa suara rakyat dari partai-partai yang lolos threshold nanti akan dikonversi menjadi dapil nasional sehingga tidak ada suara rakyat yang terbuang. Dulu pernah dilakukan model stembus accord," ucapnya.
Kendati demikian, Dede Yusuf mengatakan usulan tersebut masih dikaji oleh partai. Ia pun menyinggung konsep seperti itu digunakan di Selandia Baru hingga Jerman.
"Lagi digodok dulu, ada sistem ini di Selandia Baru dan Jerman juga," ujarnya.
(dwr/jbr)


















































