Mendes Yandri Harap Kerja Sama Pembangunan Desa RI-China Ditingkatkan

3 days ago 8

Jakarta -

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong peningkatan kerja sama pembangunan pedesaan antara Indonesia dan Tiongkok. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat inovasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga pengembangan ekonomi desa.

Hal tersebut disampaikan Yandri saat menerima audiensi delegasi Tiongkok yang dipimpin Wakil Menteri Kementerian Pertanian dan Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok Mr Zhang Zhili di ruang kerja Mendes PDT, Jumat (21/8).

Dalam pertemuan tersebut, Yandri menyampaikan sejumlah tantangan pembangunan desa yang masih perlu menjadi perhatian bersama. Salah satunya terkait tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan yang masih mencapai sekitar 11,34 persen, lebih dari dua kali tingkat kemiskinan di wilayah perkotaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, masih terdapat sekitar 10.000 desa yang belum memiliki akses listrik dan sekitar 45 persen desa masih memiliki kerentanan terhadap bencana alam. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu ditangani melalui kolaborasi berbagai pihak.

"Olehnya, kami mendorong pendekatan Octahelix Collaboration, yaitu kolaborasi multipihak yang melibatkan berbagai aktor untuk mendukung inovasi, pembangunan berkelanjutan, dan penyelesaian berbagai persoalan pembangunan desa," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).

Kemendes PDT juga memberikan perhatian terhadap pengembangan SDM desa sebagai salah satu faktor penting dalam mempercepat pembangunan. Menurut Yandri, program kerja sama dengan Tiongkok melalui Benchmarking Study dan Seminar dapat membantu para kepala desa memperoleh pengalaman serta pengetahuan yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing.

Tidak hanya itu, Yandri juga mengusulkan agar program benchmarking dapat diperluas dengan melibatkan pemuda melalui program Pemuda Bangun Desa. Melalui program tersebut, para pemuda diharapkan mendapat kesempatan untuk belajar dan bekerja di Tiongkok guna memperoleh pengalaman yang dapat dikembangkan di desa.

"Kami berharap kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok di bidang pembangunan perdesaan dapat terus ditingkatkan, tidak hanya melalui pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas, tetapi juga melalui kerja sama yang lebih konkret dalam pengembangan ekonomi perdesaan," jelasnya.

Kemendes PDT juga membuka peluang untuk mengeksplorasi berbagai bentuk kerja sama, termasuk investasi dan keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan potensi ekonomi desa. Kerja sama tersebut mencakup pengolahan dan hilirisasi produk unggulan desa, peningkatan produktivitas, pengembangan rantai nilai, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perdesaan.

Oleh karena itu, Kemendes PDT menyambut baik perkembangan draft Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemendes PDT dengan Ministry of Agriculture and Rural Affairs Republik Rakyat Tiongkok. MoU tersebut diharapkan dapat segera difinalisasi dan menjadi dasar kerja sama yang lebih konkret bagi kedua negara.

Selain itu, Indonesia juga melihat pentingnya penguatan kerja sama dengan Tiongkok melalui Global Poverty Alleviation and Rural Development Partnership (GPPAD). Platform tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkuat pertukaran pengalaman dan kolaborasi antarnegara dalam pengentasan kemiskinan serta pembangunan perdesaan.

Sementara itu, Zhang Zhili menyampaikan kesepakatannya untuk terus memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, kolaborasi dapat dilakukan melalui berbagai tingkatan, mulai dari pemerintah, aparatur pemerintahan daerah, hingga para ahli dan akademisi.

"Dalam kerja sama ini, kami berharap dapat menggunakan langkah-langkah yang nyata dan pragmatis untuk melaksanakan berbagai kesepahaman penting yang telah dicapai oleh para pemimpin kedua negara, serta memberikan kontribusi kita dalam bersama sama mendorong pembangunan komunitas dengan masa depan bersama antara Tiongkok dan Indonesia," katanya.

Ia juga menyampaikan dukungan Tiongkok terhadap sejumlah komitmen Presiden Prabowo Subianto, termasuk target penghapusan kemiskinan sebelum tahun 2029. Ia berharap semakin banyak perusahaan Tiongkok dapat hadir di Indonesia untuk melakukan kegiatan produksi di bidang pertanian.

Selain itu, ia berharap Indonesia dapat terus menyediakan iklim usaha yang baik bagi perusahaan asing. Hal tersebut termasuk mendukung keberlanjutan kegiatan usaha serta mendorong terciptanya kemakmuran bersama di daerah setempat.

"Selain itu, membantu perusahaan menjalankan usahanya secara berkelanjutan dan stabil, serta mendorong terciptanya kemakmuran bersama di daerah setempat," pungkasnya.

Sebagai informasi, pertemuan tersebut turut dihadiri Ms. Liu Jiang, Director of the Asia-Africa Division, Department of International Cooperation, MARA; Mr. Meng Dehao, Secretary of the General Office, MARA; Mr. Geng Jianzhong, First Secretary, Embassy of China in the Republic of Indonesia; serta Ms. Li Jiajing, Second Secretary, Embassy of China in the Republic of Indonesia.

Mendampingi Mendes Yandri, hadir Sekjen Kemendes PDT Taufik Madjid, Irjen Masyhudi, Dirjen PDP Nugroho Setijo Nagoro, Dirjen PEID Tabrani, Kepala BPSDM Agustomi Masik, Kepala BPI Mulyadin Malik, Staf Ahli Bito Wikantosa, serta Staf Khusus Fahad Attamimi.

(akd/akd)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |