Mei Masuk Musim Kemarau tapi Hujan Deras Masih Turun, Ini Penjelasan BMKG

3 hours ago 4
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai potensi hujan memasuki musim kemarau. BMKG menyebut adanya aktivitas bibit siklon tropis 99W dan gelombang atmosfer di awal musim kemarau memicu potensi cuaca signifikan pada sebagian wilayah di Indonesia.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menjelaskan analisis iklim terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau dan sebagian yang lain berada pada periode peralihan. Kondisi tersebut diindikasikan dengan tutupan awan yang minim sejak pagi hingga tengah hari yang memicu pemanasan permukaan bumi secara intens.

"Hal ini berimplikasi pada peningkatan suhu udara maksimum yang melampaui 35,0°C di wilayah Aceh, Riau, Bali, sebagian besar pulau Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, hingga Jawa Timur pada periode 21 sampai 24 Mei 2026. Pada wilayah yang masih berada pada periode peralihan, akumulasi panas dari pagi hingga siang hari ini menyebabkan proses konveksi yang memicu ketidakstabilan atmosfer sehingga terbentuk awan hujan pada sore dan malam hari," kata Andri dalam keterangan, Rabu (27/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andri mengatakan ketidakstabilan atmosfer tersebut dapat divalidasi oleh tingginya intensitas curah hujan, mulai dari kategori lebat hingga sangat lebat, yang tercatat di sebagian wilayah Indonesia, seperti di Kalimantan Barat (129,5 mm/hari), DKI Jakarta (102,4 mm/hari), Bengkulu (96,4 mm/hari), Maluku (88,4 mm/hari), Jawa Barat (86,9 mm/hari), Kepulauan Bangka Belitung (77,7 mm/hari), Kalimantan Tengah (73,3 mm/hari), Sumatera Utara (70,2 mm/hari), Kalimantan Timur (68,8 mm/hari), Papua Tengah (67,2 mm/hari), Sulawesi Utara (64,5 mm/hari), Jambi (61,8 mm/hari), Banten (58,6 mm/hari), Sulawesi Selatan (55,6 mm/hari), Lampung (55,4 mm/hari), Sulawesi Tenggara (55,2 mm/hari), Kalimantan Utara (52,2 mm/hari), dan Jawa Tengah (50,0 mm/hari).

Selain akibat ketidakstabilan atmosfer lokal, lanjut Andri, peningkatan curah hujan pada periode ini juga dipengaruhi oleh interaksi sejumlah fenomena atmosfer.

"Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada fase 5 (Maritime Continent). Selain itu, gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin juga berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia," katanya.

Pembentukan sirkulasi siklonik di sejumlah wilayah Indonesia turut memicu pembentukan daerah perlambatan kecepatan angin (konvergen). Kondisi atmosfer tersebut semakin mendukung pembentukan awan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan di beberapa wilayah.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Analisis indikator iklim global terkini menunjukkan indikasi El Nino Condition di Samudra Pasifik, yang terkonfirmasi melalui indeks Nino 3.4 sebesar +0,68 dan nilai SOI sebesar -12,5. Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian Utara.

Bibit siklon 99W diprakirakan berada di Samudera Pasifik utara Papua Nugini. Sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Papua Barat hingga Teluk Cendrawasih, di Pesisir barat Papua Barat Daya, dan di sekitar sistem tersebut. Selain itu, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Perairan barat Sumatera Barat, Samudera Hindia barat daya Banten, dan Laut Sulu. Sistem-sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Perairan barat Bengkulu, Perairan barat Sumatera Utara, serta di sekitar sirkulasi siklonik tersebut.

Lebih jauh lagi, aktivitas MJO yang diproyeksikan menuju fase 6 (Western Pacific) diprediksi masih aktif secara spasial di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, serta wilayah utara Papua Barat dan Papua Barat Daya. Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif melintasi wilayah Aceh, Kalimantan Barat bagian utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Aktivitas Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) juga diperkirakan aktif di wilayah Aceh bagian utara. Aktivitas MJO dan gelombang-gelombang atmosfer tersebut dapat membantu meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Andri mengatakan cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Selama periode 26-28 Mei, kata Andri, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini di beberapa wilayah sebagai berikut:
•⁠ ⁠Siaga (hujan lebat - sangat lebat): Kalimantan Utara, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.
•⁠ ⁠Angin Kencang: Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Selatan.

Sementara, periode 29 Mei-1 Juni, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

•⁠ ⁠Siaga (hujan lebat - sangat lebat): Papua Pegunungan.
•⁠ ⁠Angin Kencang: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.

Lihat juga Video 'Sudah Kemarau Kok Masih Hujan Deras?':

(fca/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |