Lompatan Sang 'Anak Bawang', Rahasia Sukses Vietnam Naik Kelas Jadi Berpendapatan Menengah Atas

3 hours ago 1

loading...

Lompatan besar Vietnam menjadi catatan bagi Indonesia, ketika bagaimana bisa negara yang dulu hancur akibat perang itu kini mencatatkan pertumbuhan ekonomi fantastis hingga 8%?. Foto/Dok Ist

JAKARTA - Lompatan besar Vietnam menjadi catatan bagi Indonesia, ketika bagaimana bisa negara yang dulu hancur akibat perang, kini mencatatkan pertumbuhan ekonomi fantastis hingga 8%?. Bank Dunia (World Bank) secara resmi menaikkan status Vietnam setelah Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapitanya melesat menyentuh USD4.970, melampaui ambang batas global USD4.636.

"Kita sekarang kalah dengan 'anak bawang' (Vietnam) yang tahun 1970-an rakyatnya masih keleleran mengungsi di pulau Galang dan Rempang. Kini Vietnam selain menjadi negara berpendapatan menengah atas , juga mulai memasuki fase yang disebut beberapa pengamat sebagai “Doi Moi 2.0”, yaitu transisi dari ekonomi berbasis upah murah menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi dengan nilai tambah industri yang tinggi," terang Ekonom Indef, yang juga Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini dalam penjelasannya, Minggu (5/7/2026).

Berbeda dengan Indonesia, Vietnam dalam waktu yang tidak lama dan dengan tingkat pertumbuhan 8%, negara ini bisa melewati jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Lantas strategi apa yang dijalankan Vietnam, sehingga mampu menjadi Negara Berpendapatan Menengah Atas.

Baca Juga: Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia

Didik menerangkan, transformasi struktur industri, deregulasi dan debirokratisasi agar dunia usaha utamanya industri berkembang diterapkan oleh Vietnam. Sehingga sekarang sudah melompat menjadi negara industri berpendapatan menengah atas.

Sementara itu Indonesia sebenarnya pernah memiliki rekam jejak emas pada era 1980-an dan 1990-an, di mana deregulasi dan debirokratisasi yang konsisten berhasil membuat ekonomi tumbuh 7-8% dengan pertumbuhan industri mencapai 10-12% per tahun. Namun formula sukses masa lalu itu kini seolah lenyap dan gagal direplikasi oleh pembuat kebijakan saat ini.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |