Ketua MPR Temui Ulama Aceh, Bahas Pemulihan dan Bantuan Ramadan

4 hours ago 3

Jakarta -

Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan pentingnya peran ulama dalam menjaga optimisme, ketenangan batin, dan keteguhan masyarakat Aceh pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025.

Penegasan itu disampaikan Muzani saat menghadiri Silaturahmi Pimpinan MPR RI dengan Ulama Aceh di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Selasa (10/2).

"Musibah besar ini bukan hanya menguji ketahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga menguji mental dan spiritual umat. Di sinilah peran para ulama, para abu, para masyayikh, dan pimpinan dayah menjadi sangat menentukan dalam menenangkan umat dan menjaga optimisme rakyat Aceh," ujar Muzani dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Muzani, bantuan material dan pemulihan infrastruktur memang diperlukan. Namun, menjaga harapan dan keyakinan masyarakat disebutnya tak kalah krusial agar Aceh tidak terjebak dalam keputusasaan setelah bencana.

"Memberi bantuan material itu penting, tetapi menjaga optimisme rakyat jauh lebih penting. Selama ulama terus membimbing umat dengan keteduhan dan kebijaksanaan, Aceh akan tetap tegak dan masa depannya tetap cerah," katanya.

Muzani menjelaskan, kunjungan Pimpinan MPR RI ke Aceh merupakan kunjungan kedua sebagai bentuk empati, solidaritas, dan dukungan moral kepada masyarakat. Pada kunjungan pertama, MPR RI menyerap aspirasi kepala daerah terkait percepatan pembangunan hunian sementara, pemulihan jalan nasional dan provinsi, pemulihan listrik, serta kelancaran distribusi BBM dan LPG 3 kilogram.

"Seluruh aspirasi itu kami sampaikan langsung kepada Presiden sepulang dari Aceh. Alhamdulillah, satu per satu sudah mulai terpulihkan. Jalur Banda Aceh-Medan kembali membaik, akses antarwilayah tersambung, dan pasokan listrik telah pulih hingga 99 persen, meskipun masih ada sekitar 23 desa yang membutuhkan penanganan lanjutan karena kondisi geografis yang berat," jelasnya.

Ia menyebut masih ada aspirasi lanjutan dari Pemerintah Aceh. Di antaranya permohonan agar pembiayaan BPJS Kesehatan bagi sekitar 500 ribu penerima manfaat ditanggung melalui APBN, serta kuota BBM bersubsidi di Aceh untuk sementara tidak dibatasi guna mendukung operasional alat berat dalam percepatan pemulihan infrastruktur.

Muzani juga menyinggung tradisi meugang menjelang Ramadan yang dinilai sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Aceh. Ia mengatakan aspirasi tersebut akan kembali disampaikan kepada Presiden, dengan mempertimbangkan keterbatasan populasi ternak setelah bencana.

"Permintaan ini akan kami sampaikan kembali kepada Presiden. Kami memahami keterbatasan populasi ternak akibat bencana, tetapi dengan ikhtiar bersama, insyaallah dapat dicarikan solusinya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Muzani menyampaikan apresiasi kepada ulama Aceh yang dinilai menjadi pilar ketenangan dan optimisme umat. Ia menyebut peran ulama penting untuk mencegah masyarakat larut dalam keputusasaan, kemarahan, atau saling menyalahkan.

"Bekal spiritual saja tidak cukup tanpa harapan dan optimisme. Para ulama memiliki peran besar untuk menjaga agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusasaan, kemarahan, atau saling menyalahkan. Keyakinan kita mengajarkan bahwa setiap ujian datang dari Allah SWT, dan siapa yang mampu melewatinya dengan sabar, Allah akan meninggikan derajatnya," tuturnya.

Menjelang Ramadan, Pimpinan MPR RI juga menyerahkan bantuan simbolis berupa 15.000 paket sembako dan paket ibadah yang akan disalurkan ke delapan kabupaten terdampak. Bantuan berisi kebutuhan pokok serta perlengkapan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, kerudung, dan Al-Qur'an.

"Oleh-oleh ini bukan untuk menggantikan beban yang berat, melainkan sebagai tanda cinta, simpati, dan kebersamaan dari Jakarta untuk rakyat Aceh, agar Ramadan dapat disambut dengan hati yang lebih tenang," kata Muzani.

Ia menegaskan, optimisme Aceh merupakan bagian dari optimisme bangsa. Muzani menyebut kebersamaan pemerintah, ulama, dan masyarakat menjadi kunci agar Aceh dapat bangkit lebih kuat.

"Sakit Aceh adalah sakit kami yang berada di Jakarta. Selama kebersamaan antara pemerintah, ulama, dan masyarakat terus terjaga, Aceh akan mampu bangkit dan melewati ujian ini dengan lebih kuat," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sekaligus Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Tgk. H. Faisal Ali, menilai penanganan bencana di Aceh perlu menyentuh aspek fisik sekaligus spiritual, terutama menjelang Ramadan.

"Para ulama mengucapkan terima kasih atas ikhtiar yang telah dilakukan pemerintah. Kami memahami bahwa dalam penanganan bencana selalu ada keterbatasan, dan itu adalah hal yang wajar sebagai bagian dari ikhtiar manusia," ujarnya.

Faisal Ali berharap para pengungsi bisa segera dipindahkan dari tenda darurat ke hunian sementara yang lebih layak sebelum Ramadan. Menurutnya, Ramadan di Aceh menjadi momentum penting untuk memusatkan aktivitas pada ibadah sehingga kondisi pengungsian perlu mendapat perhatian khusus.

Ia juga menyoroti dampak banjir terhadap sejumlah dayah dan masjid yang tidak lagi bisa digunakan. Karena itu, ia mendorong dukungan bagi para teungku dan ulama yang mendampingi masyarakat pengungsi, baik melalui pengajian maupun penguatan mental.

"Pada tahap awal bencana, fokus pada kebutuhan pangan dan sandang memang sangat penting. Namun menjelang Ramadan, nilai-nilai spiritual juga harus disentuh agar masyarakat tetap kuat, sabar, dan memahami keterbatasan manusia dalam ikhtiar," katanya.

Faisal Ali menyebut para ulama di Aceh telah mengirimkan santri untuk menetap di sejumlah hunian sementara dan posko pengungsian guna mendampingi masyarakat selama Ramadan. Ia juga berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat memprioritaskan tenaga kerja serta pengusaha lokal Aceh agar perputaran ekonomi daerah tetap terjaga.

"Kami berharap dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, baik pembersihan tambak, sawah, pembangunan jembatan, maupun sektor lainnya, tenaga kerja dan pengusaha lokal dapat lebih diutamakan," ujarnya.

Ia menambahkan, Aceh baru beberapa tahun terakhir mulai menikmati pemulihan ekonomi pascakonflik dan pascatsunami. Banjir yang kembali terjadi dinilainya sebagai ujian baru bagi masyarakat Aceh.

"Insyaallah, ini adalah ujian yang dapat dilalui masyarakat Aceh dengan keimanan yang kuat," pungkasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri para Wakil Ketua MPR RI, antara lain Bambang Wuryanto, Hidayat Nur Wahid, Eddy Soeparno, Edhie Baskoro Yudhoyono, serta A.M. Akbar Supratman. Hadir pula Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abraham Paul Liyanto, serta jajaran Sekretariat Jenderal MPR RI.

Dari jajaran MPU Aceh, hadir sejumlah ulama, di antaranya Waled Nuruzzahri dan Syekh Hasanol Basry (Abu Mudi), Wakil Ketua MPU Aceh Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuththabary, Wakil I Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Iskandar Zulkarnaen, serta para pimpinan dayah di Aceh Besar dan Banda Aceh. Bantuan 15 ribu paket sembako dan 15 ribu paket perlengkapan salat disebut diterima untuk disalurkan ke delapan kabupaten terdampak, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Pidie Jaya, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.

(ega/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |