Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengutuk serangan ke sejumlah negara di Timur Tengah yang menyasar target ekonomi dan sipil strategis. Serangan tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik, termasuk berdampak pada penghentian produksi kilang Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi dan penutupan produksi LNG di Qatar, serta menyerang fasilitas sipil seperti sekolah khusus Perempuan di Iran.
HNW menyebut serangan terhadap objek ekonomi vital non-militer di Arab Saudi dan Qatar, serta objek sipil seperti sekolah khusus perempuan di Minab dan Rumah Sakit Gandhi di Teheran, Iran, harus dikutuk keras karena melanggar hukum internasional. Ia juga meminta negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Timur Tengah agar waspada dan tidak terjebak skenario 'adu domba' melalui dugaan operasi bendera palsu (false flag) yang dapat menyeret kawasan ke perang terbuka.
"Adu domba dan penyerangan terhadap target-target sipil/ekonomi/non-militer merupakan pola yang selama ini dilakukan oleh Israel terhadap bangsa Palestina di Gaza dan lain-lainnya. Dan harus diwaspadai ketika jurus ini juga terulang kembali dalam perang Israel terhadap Iran, di mana sekolah, bahkan yang khusus perempuan dan rumah sakit, sudah menjadi korban dari serangan Israel," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi juga serangan balik Iran dengan disasarnya objek ekonomi vital non-miIiter di Saudi dan Qatar, siapapun pelakunya, juga harus diwaspadai dan dikutuk keras, karena penyerangan-penyerangan terhadap target non-militer dan terhadap warga sipil jelas merupakan pelanggaran hukum internasional, tidak sesuai Piagam PBB, Statuta OKI, dan juga tidak dibenarkan dalam Islam," imbuhnya.
HNW mengatakan aktivis dan pengamat politik konservatif AS Tucker Carlson menyampaikan dugaan keterlibatan agen Mossad Israel dalam operasi false flag di Arab Saudi dan Qatar. Pola serupa, menurutnya, juga disinggung Rabbi Yahudi Yousef Mizrahi terkait penyerangan Masjid Al-Aqsha. Di sisi lain, Qatar mengumumkan penangkapan dua kelompok jaringan yang mengaku pro Garda Revolusi Iran, sehingga kewaspadaan semua pihak perlu ditingkatkan.
Ia berharap organisasi internasional berwenang seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan OKI segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan perang dan menjatuhkan sanksi kepada pihak yang terbukti menyerang target non-militer, baik secara terbuka maupun melalui false flag.
"Agar perang segera bisa dihentikan dan tidak makin meluas karena menimbulkan makin banyak korban, terbanyak dari kalangan non-militer/sipil termasuk proyek vital ekonomi non-militer. Dan apalagi bila ujung dari seluruh serangan-serangan itu justru membuka jalan lebar-lebar untuk meluasnya penjajahan Israel menuju terbentuknya negara Israel Raya, dengan dilupakan/diabaikannya Gaza dan komunitas perlawanan/perjuangan di Gaza, terkuburnya Palestina sebagai negara merdeka padahal sudah diakui oleh lebih dari 153 negara anggota PBB, dan malah terwujudnya ekspansi Israel hingga mewujudkan klaim mereka berupa berdirinya negara Israel Raya, sekalipun 'ekspansi' itu bertentangan dengan konvensi Internasional dan piagam PBB, serta keputusan-keputusan OKI," jelasnya.
Lebih lanjut, HNW mengimbau Sekretariat Jenderal OKI untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kedaulatan negara-negara anggota yang terdampak konflik, mencegah skenario adu domba, serta mendorong digelarnya KTT luar biasa OKI tingkat kepala negara. Langkah itu dinilai penting agar konflik tidak meluas dan melemahkan potensi negara-negara OKI dalam menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dan mewujudkan kemerdekaan Palestina.
Ia menilai pihak yang terus melanggar hukum internasional, bahkan telah dijatuhi putusan oleh International Court of Justice (ICJ) serta adanya surat penahanan dari International Criminal Court (ICC), namun tetap mengingkari perjanjian damai dalam konteks Balance of Power (BoP), yakni Israel, justru diuntungkan jika negara-negara Teluk teradu domba dengan Iran. Kondisi tersebut dinilai mempermudah realisasi proyek pendirian negara Israel Raya.
Menurut HNW, proyek tersebut berpotensi membahayakan kedaulatan negara-negara anggota OKI karena membuka peluang aneksasi wilayah, termasuk terhadap Arab Saudi, Mesir, Irak, Turki, Suriah, serta kawasan Kuwait, Yordania, dan Lebanon. Ia menegaskan, skenario itu tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga melemahkan solidaritas negara-negara OKI dalam memperjuangkan kepentingan bersama.
"Penting agar makar/konspirasi Israel itu malah menyadarkan negara-negara OKI untuk segera dapat mewujudkan kerjasama, saling menguatkan esensi mereka sebagai sesama anggota OKI yang didirikan untuk saling membantu dan menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina, bukan malah sebaliknya saling melemahkan, dan membiarkan Israel memperluas tanah jajahannya sehingga berdirilah negara Israel Raya yang melanggengkan penjajahan atas Palestina dan penghancuran Masjid Al-Aqsha," pungkasnya.
Simak juga Video 'AS-Iran Perang, Penerbangan Internasional dari Bali ke Timteng Terdampak':
(akd/ega)















































