Cerita Bang Anjat Bangun Usaha Keripik dari Nol hingga Punya 30 Pegawai

7 hours ago 4

Jakarta -

Sebelas tahun sudah Ahmad Munanjat mempertahankan usaha keripik singkongnya di kawasan Citayam, Kabupaten Bogor. Dari usaha rumahan yang dirintis dengan modal awal Rp 300 ribu, pria yang akrab disapa Bang Anjat itu perlahan mengembangkan usahanya hingga mampu mempekerjakan 30 warga di lingkungan tempat tinggalnya.

detikcom mengunjungi rumah dan tempat produksi keripik singkong milik Anjat beberapa waktu lalu. Pria berusia 52 tahun itu awalnya memperlihatkan area produksi keripik yang berada di belakang rumahnya.

Sejumlah alat penggorengan terlihat berjajar di dapur produksi milik Anjat. Aroma minyak tercium kuat dari ruangan tersebut. Di sudut lainnya, tumpukan singkong yang telah dikupas tersimpan di atas kain sebelum diolah menjadi keripik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah itu, Anjat mengajak detikcom masuk ke bagian dalam rumahnya. Di salah satu ruangan, keripik singkong yang telah dikemas tampak tersusun rapi dan siap dipasarkan ke sejumlah titik.

Anjat menceritakan usahanya itu telah berjalan sejak 2015. Awalnya ia bekerja di sektor periklanan di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Namun ia mulai terpikir untuk beralih menjadi wiraswasta karena memikirkan pendapatan di masa tuanya nanti. Akhirnya terbersitlah untuk memulai usaha keripik singkong.

"Awalnya mah saya belum resign dulu, dikit-dikit," kata Anjat.

Dari modal awal Rp 300 ribu, Anjat membeli satu karung singkong. Ia bersama istri yang langsung memasaknya sendiri.

"Jadi saya kerjain sendiri, berdua sama istri. Saya olahin, saya goreng sendiri, saya nyari langganan sendiri, jalan sendiri. Tantangannya itu," ujar Anjat.

Usaha Keripik Singkong Bang Anjat di Citayam BogorUsaha Keripik Singkong Bang Anjat di Citayam Bogor (Foto: Kanavino/detikcom)

Kemudian ia juga berkeliling untuk menyebarkan pamflet ke sejumlah wilayah agar usaha keripik singkongnya itu mulai dikenal banyak orang. Seiring berjalannya waktu, banyak warga yang rutin membeli keripik dari Anjat. Bahkan saat itu sempat ada warga yang memesan keripik untuk dibawa ke luar negeri.

Anjat saat itu sempat kewalahan karena banyaknya pesanan yang masuk. Di sisi lain, ia juga belum mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya.

"Sampai orang kemari belum ada keripiknya. Sampai keteter waktu dulu," ujar Anjat.

Namun ia terus berjuang untuk memproduksi keripik tersebut untuk tetap bisa memenuhi pesanan konsumen. Setelah dua tahun berjalan, Anjat kemudian meminta keluarga untuk ikut membantu mengelola usahanya.

Seiring berjalannya waktu, Anjat mulai mempekerjakan warga setempat hingga saat ini berjumlah 30 orang. Ia mendorong ibu-ibu untuk bekerja di tempat usahanya daripada bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

"Kan rumah tangga mah dari pagi sampai sore. Kalau di sini kan enggak. Dari pagi sampai jam 1 siang kelar udah pulang, begitu," ujar Anjat.

Bantuan Modal BRI

Dalam proses pengembangan usahanya, Anjat mengajukan beberapa kali pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Mulai dari nominal Rp 10 juta, lalu terus meningkat hingga saat ini Rp 150 juta.

"Udah hampir lunas ini, tinggal dikit lagi," ujar Anjat.

Ia menjelaskan bantuan modal BRI membantu dalam meningkatkan produksi keripik singkong. Selain itu, uang juga digunakan untuk membantu transportasi penjualan keripik singkong.

"Emang kita kan minjam di BRI itu untuk usaha, modal. Ya, otomatis berkembang, alhamdulillah," ujar dia.

Usaha Keripik Singkong Bang Anjat di Citayam BogorUsaha Keripik Singkong Bang Anjat di Citayam Bogor Foto: Kanavino/detikcom

Selain pinjaman modal, Anjat mengungkapkan dirinya juga pernah mendapatkan bantuan dari BRI berupa alat-alat penggorengan.

"Saya dapat bantuan dari BRI itu dari BRI Pusat. Dari pusat datang ke sini, dia ngasih penggorengan," ujarnya.

Anjat biasanya membeli singkong dari sejumlah desa di Bogor. Namun jika pasokan di Bogor sulit didapat, Anjat akan memesan singkong ke Lampung.

Setelah dibeli, singkong terlebih dahulu dikupas dan dicuci bersih. Baru kemudian singkong direbus, diiris tipis-tipis, lalu digoreng menjadi keripik. Setelah itu, keripik akan dibumbui dan dikemas sebelum dipasarkan.

Anjat menjelaskan 1 kuintal singkong biasanya hanya akan menghasilkan 35 kilogram keripik. Dalam tiga hari, Anjat bisa mengolah 8 kuintal singkong menjadi keripik siap jual.

Keripik singkong produksinya dipasarkan ke berbagai wilayah, mulai dari Depok hingga Jakarta Timur. Namun kenaikan harga bahan baku membuat pendapatan hariannya kini berkurang menjadi di bawah Rp 1 juta.

"Iya, nggak ada jutaannya sekarang mah. Kalau dulu mah alhamdulillah. Sekarang jadi kadang kita, kita putar-putar, dapat duit kita putar langsung," imbuh Anjat.

Uang hasil usaha itu diputar kembali untuk modal produksi sekaligus untuk membayar para pegawai. Para pekerja dibagi ke dalam dua bagian yaitu bagian pengupasan pada pagi hari dan bagian penggorengan pada malam hari.

Ia mengatakan kebutuhan ekonomi keluarganya kini sepenuhnya bergantung pada usaha keripik singkong, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak.

"Iya, saya ketergantungan ini, ketergantungan masalah keripik. Masalah ekonomi saya untuk makannya, namanya keperluan sehari-hari, anak sekolah, saya kan dari ini. Ya, usaha apa lagi, nggak ada, usaha lain cuma ini aja. Dan juga kita kudu pintar-pintar untuk menyisihkan buat pegawai," imbuhnya.

Namun, perjalanan usaha keripik singkong Anjat tak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengaku harus menghadapi kenaikan harga bahan baku yang terus membebani biaya produksi. Harga minyak goreng hingga plastik kemasan disebut naik cukup tajam dan berdampak langsung terhadap usahanya.

Kondisi tersebut membuat produksi keripik miliknya menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia pun berharap mendapatkan bantuan kembali dari BRI di tengah tantangan yang dihadapi usahanya tersebut.

Komitmen BRI Dukung Warga

BRI menegaskan komitmen untuk membantu warga dalam mengembangkan usahanya. Mantri BRI di Sasak Panjang, Mohammad Irfansyah, mengatakan biasanya pihaknya memberikan program pendampingan bagi para pelaku UMKM.

"Seperti yang dagang keripik kita kasih reward berupa alat-alat masak dan lainnya," kata Irfan kepada detikcom secara terpisah.

Irfan berharap usaha keripik singkong milik Anjat dapat terus berkembang. Selain itu, usaha juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.

"Harapan ke depan usaha nasabah makin maju dan berkembang, meningkatkan taraf hidup orang banyak di sekitar lingkungan," kata Irfan.

Sementara itu, Kepala Unit BRI Citayam, Harianto, menjelaskan ada beragam program pembiayaan yang disalurkan BRI untuk membantu masyarakat mulai dari KUR, Kupedes, Kupedes Rakyat hingga Briguna. Pihak BRI nantinya bakal memproses pengajuan pembiayaan sesuai dengan profil dari masing-masing warga.

"Nanti disesuaikan dengan profil kebutuhan nasabah," ujar Harianto.

Ia juga menjelaskan mengenai proses pengajuan kredit yang selama ini dilayani BRI dari berbagai kanal.

"Proses pengajuan kredit berasal dari database pipeline kantor pusat, pengajuan nasabah, serta UMKM kelurahan," ujar dia.

(knv/knv)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |