Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewanti-wanti sejumlah daerah di Indonesia terkait potensi kekeringan dan kebakaran hutan saat musim kemarau. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan telah menyiapkan sejumlah antisipasi untuk mengurangi dampak tersebut.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim menjelaskan Gubernur DKI Pramono Anung sangat serius dalam mengantisipasi hal-hal terkait cuaca ekstrem, khususnya musim kemarau. Terlebih, dampak musim dapat mempengaruhi ketersediaan air hingga kualitas udara.
"Penguatan sistem peringatan dini dan monitoring. BPBD DKI bekerja sama dengan BMKG untuk memantau titik rawan kekeringan dan hotspot kebakaran melalui aplikasi Sipongi Plus dan data satelit. Ini termasuk pemantauan hutan kota dan lahan gambut di sekitar Jakarta untuk deteksi dini," kata Chico kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dia mengatakan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI rutin menggelar patroli terpadu di area hutan kota dan lahan rawan kebakaran. Patroli melibatkan Satpol PP, TNI-Polri, hingga komunitas lokal.
"Ini untuk mencegah kebakaran akibat aktivitas manusia, serta pemeliharaan vegetasi yang bisa menahan air," ujarnya.
Pemprov DKI juga mengoptimalkan pengelolaan air tanah melalui regulasi, termasuk Pergub Nomor 5 Tahun 2026. Dia mengatakan pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk menghemat air dan mencegah eksploitasi air tanah yang dapat memperparah kekeringan.
"Kami imbau warga untuk waspada, seperti menghindari pembakaran sampah, melaporkan titik rawan via 112, dan berpartisipasi dalam aksi hemat energi serta jaga iklim," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPBD DKI Isnawa Adji mengatakan pihaknya bersama dinas terkait akan memetakan daerah rawan kekeringan. Dia mengatakan BPBD juga bekerja sama dengan PAM Jaya untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.
"BPBD juga memiliki 6 mobil tangki air bersih," ujar Isnawa.
Selain kekeringan, potensi kebakaran juga menjadi perhatian utama. Dia mengimbau masyarakat untuk tak melakukan pembakaran sampah.
"Hal lain adalah antisipasi bahaya kebakaran yang marak di musim kemarau, serta imbauan untuk tidak lakukan pembakaran sampah," tuturnya.
BMKG Prediksi Kemarau 2026
Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia tahun 2026 akan datang lebih awal. BMKG mengingatkan para kepala daerah dalam mengantisipasi potensi terjadinya penurunan kualitas udara hingga kebakaran hutan.
"Sektor lingkungan perlu menyiapkan mekanisme respons cepat oleh pemerintah daerah untuk antisipasi kemungkinan penurunan kualitas udara. Yang terakhir untuk sektor kehutanan dan kebencanaan kita perlu kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau yang akan datang," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam jumpa pers BMKG secara daring, Rabu (4/3).
Ardhasena mengatakan musim kemarau di Indonesia diprediksi akan maju lebih awal. Musim kemarau mulai terjadi sejak bulan April mendatang. Total ada 46,5 persen atau 320 zona musim hujan yang akan mengalami musim kemarau lebih cepat tahun ini.
Ardhasena mengatakan BMKG juga telah memetakan sejumlah daearah yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau. Daerah-daerah ini merupakan wilayah yang curah hujannya berada di bawah normal atau kering.
Berikut wilayah berpotensi kekeringan saat kemarau tiba:
Aceh
Sumatera Selatan
Lampung
Pulau Jawa
Bali
NTB
NTT
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi
Maluku
Maluku Utara
Papua
Tonton juga video "BMKG Keluarkan Rekomendasi untuk Pertanian di Tengah Kemarau Ekstrem"
(amw/jbr)

















































