Jakarta -
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai tradisi silaturahmi dan buka puasa bersama saat Ramadan menjadi sarana strategis memperkuat persatuan bangsa. Ia menekankan bahwa polarisasi sosial, fragmentasi digital, dan tekanan global menjadikan Ramadan momentum penting untuk merajut kebersamaan.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu menyebut ruang pertemuan di bulan Ramadan dapat menghadirkan suasana yang hangat dan setara antar elemen bangsa. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah beragam tantangan.
Bamsoet menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk perang Iran-Israel yang didukung Amerika Serikat, yang dinilai berpotensi memicu kenaikan harga BBM di Indonesia, menambah beban APBN, dan mengganggu perekonomian nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak terpancing provokasi yang memanfaatkan situasi untuk menyerang martabat Presiden Prabowo Subianto.
Bamsoet menekankan Ramadan mengajarkan pengendalian diri, empati, dan solidaritas yang relevan bagi kehidupan berbangsa. Ia menilai buka puasa bersama menjadi ruang pertemuan lintas latar belakang, profesi, dan pandangan politik dalam suasana hangat dan setara.
"Kita sebagai bangsa harus bersatu bahu membahu dalam menghadapi ancaman dan gangguan, baik dari dalam maupun dari luar," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Hal itu ia sampaikan saat menggelar buka puasa bersama lintas organisasi dan komunitas di Rumah Pergerakan Patiunus Jakarta, Senin malam (2/3).
Bamsoet juga menyinggung kekhasan sosial Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Ia merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut jumlah penduduk Indonesia telah menembus lebih dari 284 juta jiwa pada 2025, dengan mayoritas menjalankan ibadah Ramadan.
Menurutnya, situasi itu memunculkan efek sosial kolektif besar, mulai dari aktivitas keagamaan, kegiatan sosial, hingga perputaran ekonomi berbasis UMKM yang meningkat selama bulan puasa.
"Kalau kebersamaan ini dikelola dengan visi kebangsaan yang jelas, Ramadan dapat menjadi titik temu antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Dari pertemuan saat berbuka, bisa lahir gagasan, kolaborasi, dan komitmen untuk menjaga keutuhan NKRI," kata Bamsoet.
Ia menambahkan konsolidasi kebangsaan selama Ramadan perlu diarahkan pada agenda yang lebih substansial. Bamsoet mendorong agar kegiatan buka puasa bersama diisi dialog produktif mengenai pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan toleransi, serta literasi digital agar masyarakat lebih kebal terhadap provokasi pemecah belah.
"Persatuan bangsa harus dirawat setiap hari. Ramadan memberi kita ruang refleksi dan aksi sekaligus. Jika energi kebersamaan ini dijaga, Indonesia akan semakin kuat menghadapi tantangan global maupun beragam dinamika dalam negeri," pungkas Bamsoet.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi, di antaranya mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Wisnu Suhardono, mantan Waketum Gerindra sekaligus komisaris Pelindo Arief Poyuono, politisi PPP Darwis, serta purnawirawan Polri Komjen Pol. (Purn) Nanan Soekarna.
Selain itu, hadir pula perwakilan berbagai komunitas dan organisasi seperti HIPAKAD, FKPPI, Pemuda Pancasila, Kelompok Cipayung Plus, HIPMI, IMI, hingga Kadin Indonesia.
Simak juga Video: Eks Menlu Ingatkan RI Harus Bisa Diterima AS dan Iran Jika Mau Memediasi
(ega/ega)















































