Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade melontarkan kritik keras terhadap kinerja Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda Air Minum/PDAM) Kota Padang. Ia bahkan meminta Wali Kota Padang Fadly Amran mencopot Dirut PDAM.
Andre menegaskan pemerintah pusat sudah memberikan dukungan maksimal, mulai dari pembangunan bendungan hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya untuk penanggulangan bencana banjir bandang dan pemenuhan air bersih. Namun, hingga kini persoalan air bersih masih terus dikeluhkan masyarakat.
"Pemerintah pusat sudah bantu, sudah memberikan segala macam fasilitas, dari bendungan dan lainnya, tapi sampai detik ini PDAM enggak serius," kata Andre dalam keterangannya, Kamis (22/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politisi Partai Gerindra itu menyebut timnya telah mengantongi data lengkap terkait persoalan PDAM Padang. Ia mendesak Wali Kota Fadly Amran untuk bertindak tegas dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran manajemen PDAM
"Kalau Pemko enggak mau memperbaiki, ya ganti saja. Kalau enggak mampu, copot," tegas Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR RI ini.
Tak hanya itu, Andre juga meminta aparat penegak hukum turun tangan melakukan audit dan pemeriksaan terhadap pengelolaan PDAM Padang. Ia mengaku prihatin dan marah melihat keluhan masyarakat yang terus berulang tanpa solusi konkret. "Saya minta juga Polda periksa itu. Kenapa rakyat sudah menjerit-jerit? Saya minta Polda juga cek PDAM itu," imbuh dia.
Kritik serupa juga disampaikan Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Padang Wahyu Hidayat. Ia menilai jajaran direksi Perumda Air Minum Kota Padang gagal menangani krisis air bersih, khususnya di wilayah terdampak banjir bandang, karena tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi darurat yang dialami masyarakat.
Menurut Wahyu, manajemen PDAM terkesan kaku dan tidak kooperatif, bahkan dalam situasi darurat. Ia mencontohkan adanya usulan dari Balai Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk menarik pipa guna mempercepat suplai air bersih, namun justru mendapat penolakan dari Direktur Utama PDAM Hendra Pebrizal.
"Dirut PDAM keberatan, katanya akan mengganggu pelayanan. Padahal ini kondisi darurat. Dia lebih mengutamakan pelayanan rutin daripada keadaan darurat, sementara warga Kota Padang mengalami dampak sosial yang berat," ujar Wahyu.
Wahyu mengungkapkan bahwa DPRD Padang sebenarnya telah berulang kali memberikan peringatan melalui berbagai rapat koordinasi. PDAM diminta memetakan wilayah-wilayah yang tidak terjangkau suplai air agar distribusi bantuan bisa tepat sasaran. Namun hingga kini, langkah tersebut dinilai belum memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Sense of crisis dari awal memang enggak ada, dan itu terlihat jelas," tegasnya.
Atas buruknya koordinasi serta lambannya penanganan di lapangan, Wahyu secara tegas mendukung langkah evaluasi total dan pencopotan Direktur Utama PDAM oleh Wali Kota Padang. "Harus dicopot. Dirut PDAM enggak punya sense of crisis sejak awal, padahal DPRD sudah berkali-kali mengingatkan," pungkasnya.
Tonton juga Video: Andre Rosiade Terima Penghargaan Legislator Pembela Rakyat 2019-2024
(maa/gbr)

















































