Aksi Brigpol Fifi 10 Tahun Tangani Kasus Perempuan dan Anak di NTB

8 hours ago 3

Jakarta -

Brigpol Khafidatun Nisa telah mengabdi selama 10 tahun mengawal penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sejumlah kasus pencabulan hingga pemerkosaan berhasil diungkap oleh polisi wanita (polwan) yang akrab disapa Brigpol Fiti tersebut.

Atas pengabdiannya itu, Brigpol Fifi diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Brigpol Fifi saat ini bertugas sebagai Banit IV PPA Satreskrim Polres Lembok Timur, Polda Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kesaksian mengenai sosok Brigpol Fifi dalam bertugas diceritakan salah satunya oleh Tenaga Ahli Mediator dan Konselor UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lombok Timur, Hanifa Ramadhanti. Hanifa mengaku kerap berinteraksi dengan Brigpol Fifi dalam penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak di Lombok Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebetulan memang pada saat penanganan kasus khususnya ya, kami sama PPA Polres khususnya Mbak Fifi sebagai penyidik perempuan, kita sering berkomunikasi dan berkoordinasi. Jadi mulai dari pelaporan, terus di SPKT, lalu kita pendampingan visum sampai pendamping dari PPA begitu," kata Hanifa saat dihubungi, Jumat (13/3/2026).

Selama ini, kata Hanifa, koordinasi yang dilakukan UPTD PPA dengan Polres berlangsung dengan baik. Setiap perkembangan dan tahapan penanganan kasus selalu dikomunikasikan serta diberikan pendampingan.

"Mbak Fifi juga sangat membantu terutama dalam pendampingan visum ya, karena pendampingan visum kan harus ada dari kepolisian yaitu penyidik perempuannya begitu. Jadi ketika pendampingan visum, kita sangat terbantu dengan Mbak Fifi. Kita diperbolehkan untuk ikut serta untuk memberikan layanan khususnya bagi keluarga korban begitu," imbuh dia.

Hanifa juga mengatakan tidak ada kesulitan yang berarti selama dirinya berkoordinasi dengan Brigpol Fifi. Bagi Hanifa, Brigpol Fifi merupakan polisi yang profesional.

"Beliau profesionalitas tinggi, 24 jam on, nggak pernah nggak on. Saya minta Mbak Ffi untuk penanganan di luar jam kerja juga oke. Jadi setiap ada penanganan kasus yang di luar jam kerja, misalnya dari malam biasanya kita dampingi, Mbak FiFi siap-siap terus," imbuh dia.

Selain itu, Hanifa juga mengapresiasi pendekatan yang dilakukan Brigpol Fifi dalam penanganan kasus yang melibatkan perempuan dan anak. Korban, kata Hanifa, biasanya lebih terbuka ketika Brigpol Fifi yang menangani langsung kasus.

"Karena kebanyakan kan korban perempuan, anak, itu ketakutan gitu kalau diperiksa sama polisi yang laki ya. Jadinya ketika sama Mbak FiFi ditanya dengan cara pendekatan yang baik," imbuh Hanifa.

Dia bersyukur atas kerja sama yang baik dengan Brigpol Fifi selama ini. Koordinasi tersebut memudahkan pekerjaan masing-masing dalam penanganan perkara.

"ntinya kami sangat apa ya, sangat terbantu dengan adanya Mbak Fifi khususnya beliau sangat membantu pekerjaan kita juga saling nge-back up lah. Sejauh ini Alhamdulillah hubungan kami dengan PPA Polres juga sangat baik," tutur dia.

Kiprah Brigpol Fifi Ungkap Kasus

Brigpol Fifi sebelumnya menjadi kandidat Hoegeng Corner 2025. Fifi sudah bertugas di PPA sejak 2015.

Dia menceritakan pernah mengungkap tiga kasus pencabulan dan pemerkosaan terhadap puluhan anak dalam waktu yang bersamaan.

Tiga kasus yang ditangani bersamaan itu adalah 2 kasus pemerkosaan di 2 pondok pesantren di Kecamatan Sikur dan 1 kasus pencabulan anak di pesantren di Wanasaba.

Pada dua kasus pertama, pelaku adalah pimpinan masing-masing pesantren di Sikur inisial HSN dan LMI. Korban diduga lebih dari 40 orang.

"Salah satunya adalah persetubuhan terhadap anak yang terjadi di pondok pesantren, itu sempat viral dan menjadi perhatian dari publik karena berturut-turut," kata Brigpol Fifi kepada detikcom, Senin (3/11/2025).

Brigpol Fifi mengungkap sejumlah tantangan dalam pengungkapan kasus ini. Dia menyebut pelaku tidak mengakui perbuatannya bahkan sampai ke persidangan.

"Ada laporan dari korban yang memang di sekolah di sana, yang melaporkan orang tua korban, waktu itu dari keterangan korban dan saksi tidak ada penyesuaian awalnya, terus tersangka juga tidak mengakui, kemudian kami melakukan penyelidikan, terus didapatkan bahwa mendapatkan bukti permulaan, makanya naiknya perkara tersebut ke sidik," kata dia.

Butuh waktu berminggu-minggu bagi Brigpol Fifi bersama tim untuk mengungkap kasus ini. Dia juga menggandeng psikolog karena korban mengalami trauma.

"Ini yang butuh lumayan beberapa minggu mengungkap kasus tersebut, karena memang tidak ada penyesuaian dari keterangan korban dengan saksi yang lain, dari tersangka juga tidak mau mengakui, waktu itu kami melakukan pemeriksaan psikolog terhadap korban dan pelaku, itu jaraknya sekitar satu bulan itu baru bisa terungkap," jelas dia.

Modus kedua pelaku hampir sama. Pelaku mengelabui bahwa korban akan masuk surga jika menuruti keinginan pelaku.

"Modus masuk surga. Dua ponpes gitu, modusnya hampir sama dijanjikan masuk surga. Jadi korban-korban ini didoktrin, jadi kalau menuruti perintah dari pelaku ini, nanti akan masuk surga," tutur Fifi.

Kasus ini bergulir hingga ke persidangan. Dua pelaku telah divonis.

"Pelaku ini sampai di persidangan tidak mau mengungkapkan kebenarannya, sudah divonis, 10 apa 12 tahun (penjara) itu, sekitar itu vonisnya," jelas dia.

Kasus ketiga yang ditangani oleh Brigpol Fifi dalam waktu bersamaan adalah pencabulan anak di pondok pesantren Wanasaba. Korban kemudian membuat laporan kepada polisi hingga pelaku berhasil diamankan.

Atas aksinya dalam menangani 3 kasus dalam waktu berdekatan itu, Brigpol Fifi mendapatkan penghargaan dari Kapolda NTB dan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA).

"Kami mendapat penghargaan dari Tim Reaksi Cepat mengungkap perkara anak yang terjadi di pondok pesantren. Waktu itu kami menangani ada 3 di pondok pesantren. Yang dua persetubuhan anak, yang satu pencabulan. Kasus di tiga pondok pesantren, beda, dalam waktu yang berdekatan," ucap dia.

Kasus lainnya yang berkesan ditangani Brigpol Fifi adalah pencurian dengan kekerasan di Lombok Timur. Harta korban dicuri dan korban diperkosa oleh pelaku.

"Awalnya korban melaporkan terkait pencuriannya, namun setelah kami lakukan penyelidikan kami dapatkan bahwa korban ini juga mengalami pelecehan, mengalami pemerkosaan. Akhirnya kami lakukan penyelidikan lebih mendalam kami menangkap tersangkanya. Tersangka sempat kabur ke wilayah Jawa," kata Brigpol Fifi.

Fifi menyebut pelaku menggasak uang dan dan barang berharga korban. Pelaku kemudian menjual hasil curiannya itu ke Pulau Jawa.

"Tersangka pergi ke Jawa untuk menjual hasil curiannya, kembali lagi pelaku ke wilayah Lombok Timur, kami sudah memonitor juga kan pergerakannya, jadi ketika dia pas sampai ke Lombok Timur langsung kami tangkap," tutur dia.

Tantangan Mengungkap Kasus PPA

Sejumlah tantangan dihadapi Brigpol Fifi dalam mengungkap kasus pelecehan perempuan dan anak. Dia menyebut butuh pendekatan khusus karena korban mengalami trauma.

"Banyak korban memang yang saya pribadi periksa kadang itu tidak mengatakan tentang apa yang sebenar yang dia alami, kadang menggunakan psikolog untuk membantu kami dalam pendekatan," jelasnya.

Brigpol Fifi menyebut tidak semua kasus dapat diselesaikan dengan cepat. Setiap kasus, kata dia, terkadang memiliki kesulitan yang berbeda.

"Kadang ada pengungkapan sampai berbulan-bulan juga ada, jadi pernah misal kayak di tahun 2024 baru terselesaikan baru di tahun 2025. Tergantung tingkat kesulitan perkara juga," sebut dia.

Gencarkan Sosialisasi

Selain penindakan hukum, Brigpol Fifi juga rutin melakukan sosialisasi. Dia mengimbau korban berani melapor ketika mengalami tindakan pelecehan.

"Kami datang ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi terhadap siswa-siswanya. Kalau menjadi korban, bagaimana caranya nanti melaporkan dan di mana, atau ke mana mereka harus melapor," tutur dia.

Brigpol Fifi juga memetakan wilayah yang rawan. Dia akan melakukan upaya pencegahan dengan sosialisasi ke titik rawan.

"Kalau kami ke sekolah, biasanya yang pertama kadang ada permintaan dari pihak sekolah sendiri, jadi ndak nentu. Kadang kami dari PPA yang langsung ke sekolah, kita cari sekolah-sekolah yang sekiranya sering terjadi. Kan kami petakan pas ada laporan, anak ini berada di sekolah mana, nanti kami baru ke sena melakukan sosialisasi," ucap dia.

Tonton juga video "Daftar Polisi Teladan Penerima Hoegeng Awards 2025"

(knv/knv)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |