loading...
Penipuan online marak di dunia. Foto/aragon research
JAKARTA - Transformasi digital yang melesat dalam satu dekade terakhir memang membawa banyak kemudahan. Transaksi keuangan kini serba cepat, verifikasi identitas bisa dilakukan dalam hitungan detik, dan layanan publik makin efisien. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul ancaman besar yang tak kalah cepat berkembang: penipuan digital.
Laporan Sumsub bertajuk Global Fraud Index 2025 mengungkap sisi gelap percepatan digital global. Alih-alih sepenuhnya meningkatkan keamanan, digitalisasi justru membuka celah baru bagi kejahatan siber di banyak negara.
Indeks ini memetakan tingkat kerentanan penipuan digital di lebih dari 100 negara dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, mulai dari aktivitas fraud, kesiapan teknologi, intervensi pemerintah, hingga kondisi ekonomi domestik.
Hasilnya cukup mengejutkan. Negara-negara di Asia dan Afrika mendominasi daftar paling rentan terhadap penipuan digital. Faktor yang menjadi benang merah adalah pesatnya adopsi teknologi yang tidak diimbangi sistem perlindungan digital yang memadai.
Berikut 10 negara paling rentan terhadap penipuan digital di dunia pada 2025.
1. Pakistan
Pakistan kembali menempati peringkat pertama sebagai negara paling rentan terhadap penipuan digital. Laporan menyebutkan kelemahan sistem verifikasi identitas menjadi titik rawan utama.
Rendahnya literasi digital masyarakat, maraknya pemalsuan dokumen, serta lemahnya integrasi database nasional membuat pelaku fraud relatif mudah beroperasi.
Pakistan juga disebut sebagai salah satu titik penting jaringan penipuan lintas negara, terutama untuk fraud keuangan, pencucian uang digital, serta praktik identitas sintetis—yakni identitas palsu yang dirancang menyerupai data asli.
Kombinasi tekanan ekonomi dan lemahnya pengawasan memperparah risiko tersebut.
2. Indonesia
Indonesia berada di posisi kedua paling rentan secara global. Skor kerentanannya tergolong sangat tinggi, mencerminkan masifnya aktivitas kejahatan digital di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang pesat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi salah satu pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Nilai transaksi e-commerce, fintech, hingga dompet digital tumbuh signifikan. Namun, perlindungan digital dinilai belum sepenuhnya seimbang dengan laju adopsi teknologi.

















































