loading...
Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan di wilayah Asia Tenggara hilal masih berada di bawah ufuk atau minus 2 derajat. Foto/SindoNews
JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan di wilayah Asia Tenggara hilal masih berada di bawah ufuk atau minus 2 derajat. Dengan kondisi tersebut, hilal dinyatakan belum memenuhi kriteria untuk penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Artinya, puasa Ramadan 1447 H akan jatuh pada 19 Februari 2026?
Nasaruddin menjelaskan, berdasarkan perhitungan hisab para ahli astronomi, posisi hilal saat ini masih belum memungkinkan untuk dirukyat.
Baca juga: Menag: Sidang Isbat Tetap Jadi Mekanisme Resmi Pemerintah Tetapkan Awal Ramadan
“Sebetulnya kalau kita lihat dari segi rukyat, ya kan, Asia Tenggara ini menurut perhitungan-perhitungan para saintis, para astronom, hari ini masih di bawah ufuk. Berarti belum wujud hilal,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Nasaruddin merinci, ketinggian hilal tercatat masih minus 2 derajat 24 menit 42 detik. Bahkan di wilayah paling barat Indonesia, yakni di ujung Aceh, posisi hilal maksimum masih minus 0 derajat 58 menit 47 detik.
“Belum (hilal belum terlihat), masih minus dua ya. Masih minus berapa derajat itu ya. Masih minus 2 derajat 24 menit 42 detik, ya kan. Maksimum di ujung Aceh itu, itu pun juga masih minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Berarti belum wujud hilal,” jelasnya.
Lihat video: Jelang Sidang Isbat Awal Ramadan, MUI: Akan Terjadi Awal Puasa yang Berbeda
Nasaruddin juga mengingatkan Indonesia menggunakan kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang disepakati bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam dan elongasi (jarak sudut bulan–matahari) minimal 6,4 derajat.
Menurut Nasaruddin, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kemungkinan terlihatnya hilal, yakni faktor cuaca dan posisi hilal itu sendiri.
“Ada dua hal yang memengaruhi di sini. Faktor cuaca, kalau memang tidak bisa kita melihat karena cuacanya buruk. Yang kedua, sekalipun terang benderang, tapi kalau di bawah ufuk kan tidak mungkin kita bisa melihat,” jelasnya.
Meski demikian, Nasaruddin menyebut keputusan final mengenai awal Ramadan 1447 H akan ditetapkan melalui Sidang Isbat yang digelar pemerintah. Jika hilal tidak memenuhi kriteria, maka besar kemungkinan awal Ramadan jatuh pada 19 Februari 2026. “Nah, finishnya, finalnya nanti tunggu hasil Sidang Isbat,” katanya.
(cip)

















































