Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan upaya melindungi segenap bangsa Indonesia harus menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan. Langkah itu untuk menyikapi dampak konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Hal tersebut diungkapkan oleh Lestari Moerdijat dalam sambutannya pada diskusi daring bertema 'Nuklir atau Pergantian Rezim? Perang Iran dan Pengaruhnya Bagi Indonesia dan Dunia' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, hari ini.
Turut hadir dalam acara itu, Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Luthfi Assyaukanie, Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran periode 2012-2016 Dian Wirengjurit, Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada Denni Puspa Purbasari, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia Broto Wardoyo, dan Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan RI Hendra Manurung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Amanat Konstitusi UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan ikut dalam perdamaian dunia mesti menjadi perhatian para pengambil keputusan dalam menyikapi dampak konflik AS-Israel dan Iran," kata Lestari dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, tidak berlebihan bila para pemangku kepentingan memberi perhatian khusus terhadap konflik AS-Israel dan Iran, serta dampak yang terjadi.
Dia berpendapat bahwa perang yang terjadi antara AS-Iran merupakan buntut dari konflik berkepanjangan kedua negara itu sejak Revolusi Iran 1979. Dia pun mendorong agar para pemangku kepentingan mampu melahirkan kebijakan tepat yang dapat mengantisipasi sejumlah dampak perang AS-Israel dan Iran.
"Dampak perang AS-Israel dan Iran tidak hanya menimpa negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi seluruh dunia termasuk Indonesia," ungkapnya.
Sementara itu, Dian Wirengjurit berpendapat bahwa alasan Amerika Serikat menyerang Iran karena ada ancaman eksistensial terhadap Israel, merupakan alasan yang dicari-cari.
Menurutnya, yang terjadi saat ini, justru Iran yang eksistensinya terancam oleh AS dan Israel dengan berbagai cara. Dian berpendapat upaya AS mengganti rezim berkuasa di Iran akan menghadapi kesulitan, karena struktur kepemimpinan di Iran sangat kuat.
"Sehingga membunuh Pemimpin Iran Ali Khamenei tidak serta merta membuat AS mampu mengambil alih kendali di Iran," ungkapnya.
Pandangan lain turut diungkapkan oleh Denni Puspa Purbasari. Dia berpendapat dampak perang AS-Israel dan Iran sangat terkait dengan energi karena terjadi blokade Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas minyak dunia.
"Dampaknya biaya logistik meningkat dan kepercayaan terhadap pasar menurun karena munculnya sejumlah ancaman dinamika politik dan keamanan," ungkapnya.
Denni memperkirakan akan terjadi lonjakan harga minyak di awal perang sebesar 8%-10%. Bila perang semakin lama akan terjadi kenaikan harga minyak yang lebih besar.
Menurut Denni, dampak bagi Indonesia akan terlihat pada inflasi, neraca perdagangan eksternal, nilai tukar rupiah, dan fiskal.
Denni menyarankan agar pemerintah fokus mengalokasikan anggaran untuk memberi perlindungan kepada kelompok masyarakat rentan yang terdampak gejolak ekonomi yang terjadi.
"Kondisi ekonomi domestik akan menjadi penentu bila terjadi guncangan ekonomi dunia," jelasnya.
Sementara itu, Broto Wardoyo berpendapat perang yang terjadi antara AS-Israel dan Iran adalah terkait dengan upaya paksa pergantian rezim oleh AS.
Menurut Broto, sejatinya AS sudah menyerang Iran dua kali pada Juni 2025 dan Februari 2026. Serangan AS ke Iran pada Juni 2025 menyasar sejumlah fasilitas nuklir di Iran serta pembunuhan ahli nuklir dan komandan militer.
Pada serangan Februari 2026 lalu ditujukan untuk memutus rantai kepemimpinan dan struktur komando militer," jelasnya.
Sementara itu, Hendra Manurung berpendapat bahwa apa yang dilakukan Iran dalam merespons serangan AS-Israel merupakan hal yang wajar.
Hendra menilai tidak mungkin Iran menggunakan nuklir untuk senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan AS dan Israel. Karena, Iran adalah penandatangan perjanjian nuklir untuk perdamaian. Sehingga terjadi pergeseran tujuan yang signifikan oleh AS dalam serangan yang dilakukan terhadap Iran.
"Intervensi AS untuk menumbangkan rezim yang berkuasa di sejumlah negara, kerap kali menyisakan konflik berkepanjangan di negara yang bersangkutan," jelasnya.
Wartawan senior Usman Kansong mengungkapkan dalam lima hari perang antara AS-Israel dan Iran ini, masyarakat Indonesia bertanya-tanya apakah bisa merayakan Lebaran? Karena saat ini, masyarakat khawatir apakah ada cukup bahan bakar untuk kendaraan mudik.
Usman membayangkan pada situasi ini presiden memberi penjelasan secara transparan kepada masyarakat dampak ekonomi yang dialami Indonesia akibat perang AS-Iran.
Presiden harus mampu membangun solidaritas masyarakat dengan menyajikan mitigasi ekonomi yang akan dihadapi.
"Berharap Indonesia menyikapi konflik AS-Iran ini dengan langkah nyata seperti antara lain keluar dari keanggotaan Board of Peace dan merealokasi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis ke anggaran subsidi bahan bakar minyak," tutupnya.
Lihat juga Video 'Iron Dome Ditembus, Rudal Iran Gempur Ramat Gan Israel':
(akd/ega)
















































