Waka Komisi X DPR: Negara Wajib Pastikan Anak Tak Terbebani Kemiskinan

2 hours ago 3

Jakarta -

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, mengatakan kasus siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi peringatan bagi negara. Ia menyebutkan pemerintah wajib memastikan setiap anak di RI tak terbebani lantaran kemiskinan.

"Kasus anak SD di NTT ini sangat memilukan dan harus jadi alarm keras bagi semua pihak. Jika benar ada motif ekonomi, bahkan sampai anak tak mampu membeli buku tulis, itu menunjukkan negara belum sepenuhnya hadir melindungi anak dari tekanan kemiskinan yang berdampak pada mental dan keberlangsungan pendidikan," kata Lalu Hadrian kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).

Lalu mengatakan keluarga hingga orang terdekat juga harus peka dengan perilaku orang sekitar. Ia berharap tak ada anak di Indonesia yang harus memikul beban sendirian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ke depan, negara wajib memperkuat jaring pengaman sosial di sekolah, memastikan tidak ada anak yang merasa terbebani karena kemiskinan. Di saat yang sama, orang tua, keluarga, dan lingkungan terdekat harus lebih peka terhadap kondisi mental anak, tidak menganggap remeh keluhan kecil, dan aktif memberi dukungan emosional," ujar Lalu Hadrian.

"Jangan biarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian, apalagi hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan belajarnya yang seharusnya ditanggung negara," sambungnya.

Dipicu Tak Dibelikan Buku-Pulpen

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV SD yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Korban menulis sosok ibunya dalam surat itu.

Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.

Berikut ini isi surat YBR kepada ibunya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan bahwa surat itu ditulis korban. Belum diketahui penyebab kekecewaan YBR terhadap ibunya. Beredar kabar bahwa korban kecewa karena ibunya tak mampu membelikan buku tulis dan pena.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR meminta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah.

Dion menjelaskan, YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa, Selasa (3/2).

(dwr/jbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |