Upaya Kelompok Petani Buah Naga Banyuwangi Jaga Stabilitas Harga

3 hours ago 2

Jakarta -

Upaya menjaga stabilitas harga menjadi salah satu kunci keberlanjutan usaha petani buah naga di Banyuwangi. Melalui Kelompok Petani Buah Naga (Panaba), para petani membangun kesepakatan harga bersama agar tidak terjebak permainan harga saat produksi melimpah.

Ketua Kelompok Petani Buah Naga Panaba Banyuwangi, Edy menjelaskan klaster berperan penting dalam melindungi petani dari fluktuasi harga yang kerap merugikan. Pedagang yang tergabung dalam klaster wajib mengikuti pedoman harga yang telah disepakati bersama.

"Pedagang yang ikut klaster mengikuti pedoman harga. Misalnya, jika di pasar Rp10.000, mereka membeli dari petani minimal Rp7.000. Pedagang yang tidak ikut klaster biasanya memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga," ujar Edy, dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dipimpin oleh Edy, Kelompok Petani Buah Naga Panaba mulai mengembangkan buah naga sebagai komoditas pertanian di Banyuwangi dengan melihat potensi pasar yang menjanjikan. Edy kemudian mengajak petani lain untuk membudidayakan buah naga secara bersama-sama.

"Klaster buah naga ini kami bentuk pada tahun 2016. Waktu itu, jumlah tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, namun mulai muncul berbagai masalah, seperti serangan penyakit dan pasar yang menjadi over saat produksi meningkat. Makanya kami membentuk Klaster Petani Buah Naga (Panaba) untuk mengatasi masalah tersebut bersama teman-teman petani," kata Edy.

Setelah klaster terbentuk, para petani memiliki ruang untuk berdiskusi, saling berbagi informasi, menyamakan langkah, serta mencari solusi atas persoalan yang dihadapi di lapangan. Klaster Panaba pun berkembang menjadi wadah penguatan kolektif petani, baik dari sisi teknis budidaya maupun tata niaga.

Perkembangan klaster Panaba yang semakin solid tidak terlepas dari dukungan Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi oleh BRI sejak 2017. Pendampingan tersebut membantu petani dalam penguatan kapasitas usaha dan akses permodalan.

"Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu kan butuh modal besar. Kalau sendiri, berat," ujarnya.

Pendampingan awal difokuskan pada kebutuhan mendasar budidaya buah naga, salah satunya pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi agar tidak bergantung pada musim. Inovasi penggunaan lampu ini telah dikembangkan sejak 2013 dan menjadi langkah penting dalam menjaga konsistensi produksi serta kualitas panen.

"Bentuk pemberdayaan dari BRI itu mendukung kegiatan-kegiatan klaster. Ada juga bantuan berupa pelatihan, seperti mendatangkan pakar supaya petani bisa belajar langsung. Selain itu, BRI juga mempermudah akses pinjaman modal. Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang sulit," ujarnya.

Edy menilai dukungan tersebut berdampak langsung pada kepercayaan diri petani.

"Dengan adanya pendampingan dari BRI ini, petani jadi lebih yakin dan lebih berani untuk mengembangkan usaha buah naganya. Petani tidak jalan sendiri," ujar Edy.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan Program Klasterku Hidupku dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas, khususnya pelaku usaha sektor produksi yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya membuka akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mendorong kolaborasi, peningkatan skala produksi, dan penguatan daya saing lokal.

"Dengan pendekatan ini BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lainnya. Semoga cerita inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di banyuwangi menjadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah," ujarnya.

Hingga akhir 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 Klaster Usaha dengan 3.001 kegiatan pemberdayaan yang mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi. Pembinaan difokuskan pada sektor-sektor dengan daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah.

(akd/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |