TNI Jemput Sehat Warga Beoga: Door to Door, Sentuhan Kemanusiaan di Pedalaman

4 days ago 1

PUNCAK - Di tengah lanskap Papua Tengah yang menantang, prajurit TNI dari Pos Julukoma Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG Batalyon Infanteri (Yonif) 732/Banau tak tinggal diam. Menyadari betapa beratnya akses layanan kesehatan bagi warga di pedalaman Beoga, Kabupaten Puncak, mereka meluncurkan sebuah program inovatif bernama “Pastoor” (Pelayanan Kesehatan Tentara Door to Door). Inisiatif menyentuh ini bukan hanya sekadar kunjungan, melainkan sebuah gerakan jemput bola demi kesehatan masyarakat.

Pada Rabu, (26/11/2025), tim medis Satgas yang dipimpin oleh Pratu Bendri menyusuri Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Di tengah medan yang berat dan jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan terdekat, mereka hadir langsung ke rumah-rumah warga. Tak hanya memeriksa kesehatan, namun juga memberikan obat sesuai kebutuhan dan membekali masyarakat dengan edukasi penting mengenai pola hidup bersih serta pencegahan penyakit.

“Banyak warga di sini tidak bisa menjangkau puskesmas. Kalau kami menunggu mereka datang, bisa jadi sudah terlambat. Jadi kami yang datang, ” ujar Pratu Bendri dengan nada prihatin saat rehat sejenak di pos usai kegiatan. Pengalamannya di lapangan menumbuhkan kesadaran mendalam akan urgensi kehadiran mereka.

Lettu Inf Dismas, Danpos Julukoma, menegaskan bahwa tugas menjaga kedaulatan bangsa tak lepas dari tanggung jawab kemanusiaan. Ia menambahkan, “Di tengah tugas utama menjaga kedaulatan, kami juga wajib menjaga kesehatan masyarakat. Mereka bukan hanya warga, tapi aset bangsa. Dengan Pastoor, kami ingin memastikan tidak ada yang terlewat dari perhatian, terutama lansia dan anak-anak.”

Sambutan hangat dari warga menjadi bukti nyata betapa program ini dinanti. Keterbatasan mobilitas membuat banyak warga jarang dapat mengakses puskesmas, yang membutuhkan waktu berjam-jam berjalan kaki. Bapak Jayae (42), salah satu warga penerima manfaat, tak kuasa menahan rasa syukurnya.

Ia bercerita, “Kami di sini jarang bisa pergi ke puskesmas. Bapak-bapak TNI datang langsung periksa tekanan darah, kasih obat dan nasihat. Ini sangat berarti. Terima kasih TNI, Tuhan jaga kalian.”

Perasaan yang sama diungkapkan oleh Mama Tea (50), petani lokal. “Kami senang bukan karena dapat obat saja, tapi karena mereka datang lihat kami. Itu tanda kami dianggap ada, ” tuturnya, matanya berkaca-kaca haru.

Program Pastoor ini bukan sekadar pelayanan kesehatan; ia adalah jembatan yang semakin mempererat tali silaturahmi antara TNI dan masyarakat pedalaman Beoga. Di sisi lain, program ini menjadi jawaban konkret atas isu kesenjangan akses kesehatan yang masih menghantui wilayah terpencil, sebagaimana tercatat dalam data pemerintah daerah Puncak yang menunjukkan rasio tenaga medis dan alat kesehatan di distrik pegunungan masih menjadi tantangan serius.

Inisiatif dari Satgas 732/Banau ini diharapkan dapat memberikan solusi sementara, sembari menunggu penguatan fasilitas kesehatan dari pemerintah daerah. dr. Elnora, Koordinator Lintas Sektor Pendidikan dan Kesehatan Puncak dari RS Puncak, turut mengapresiasi upaya tersebut.

“Upaya door to door di wilayah seperti Beoga sangat urgent. Edukasi yang dibarengi pengobatan langsung adalah kombinasi yang dibutuhkan warga saat ini, ” ungkapnya.

Satgas 732/Banau bertekad untuk terus hadir di tengah masyarakat, jauh dari sekadar berjaga di balik tembok pos, selama masa penugasan mereka di tapal batas Indonesia-Papua Nugini. Keterlibatan aktif mereka menunjukkan dedikasi yang mendalam, melampaui batas tugas konvensional.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |