Surabaya -
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hari ini menyambangi ribuan buruh di Jawa Timur (Jatim) dalam rangkaian agenda safari Ramadan. Dalam kesempatan tersebut, Jenderal Sigit membawa pesan penting Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan persatuan dan kesatuan bangsa sebagai fondasi menghadapi tantangan ekonomi global.
Seusai acara, Jenderal Sigit mengungkap kepada wartawan bahwa kehadirannya di Surabaya merupakan atensi khusus dari Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea. Ia menyebut Jawa Timur memiliki posisi strategis karena merupakan basis buruh terbesar di Indonesia.
"Terus terang, Pak Presiden (Andi Gani) sudah berkali-kali menyampaikan bahwa Pak Kapolri selaku Ketua Dewan Penasihat harus datang ke Jawa Timur. Jadi setiap ketemu, beliau selalu 'perang' dengan saya untuk mengatur jadwal agar Kapolri harus datang ke Jawa Timur," kata Jenderal Sigit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: dok. Istimewa)
Ia menambahkan kehadirannya hari ini menjawab rasa penasarannya selama ini.
"Hari ini saya baru tahu jawabannya kenapa saya harus datang ke Jawa Timur. Karena ternyata Jawa Timur KSPSI-nya adalah yang terbesar di seluruh jajaran KSPSI. Saya sangat senang bisa bertatap muka langsung dengan rekan-rekan semua," imbuhnya.
Beralih ke isu nasional, Jenderal Sigit memaparkan tantangan berat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga tembus USD 100 per barel. Ia menegaskan bahwa dalam situasi sulit seperti ini, soliditas antara pemerintah dan buruh adalah kunci.
"Bapak Presiden selalu menekankan bahwa dalam menghadapi kondisi global yang tidak menentu, kita harus bersatu. Seluruh warga negara dan elemen bangsa harus kompak agar kita bisa berdiri di atas kaki sendiri," tegasnya.
Kapolri menjelaskan berbagai upaya diplomasi yang dilakukan pemerintah guna melindungi industri dalam negeri, termasuk mengamankan tarif ekspor nol persen untuk komoditas tekstil hingga alas kaki. Langkah ini diambil untuk memastikan industri tetap berjalan dan buruh terhindar dari pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Kebijakan hilirisasi dan industrialisasi yang didorong Presiden tujuannya adalah membuka lapangan kerja baru. Kita harus dukung kebijakan ini bersama-sama agar rumah kita bersama ini tetap kuat dan buruh sejahtera," jelas Jenderal Sigit.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: dok. Istimewa)
Jenderal Sigit menegaskan kunci utama untuk menghadapi krisis adalah persatuan dan menjaga kepercayaan pelaku pasar. Ia mengajak kaum buruh, khususnya keluarga besar KSPSI, untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga iklim investasi di Indonesia tetap kondusif.
"Untuk investasi bisa masuk, butuh kepercayaan. Saya berterima kasih kepada rekan-rekan buruh yang sangat paham akan hal ini. Kita tidak pernah melarang buruh memperjuangkan haknya, namun industri juga harus tetap tumbuh karena itulah rumah kita bersama. Jika industrinya sehat, buruh pasti sejahtera," tuturnya.
Sebagai langkah konkret dukungan Polri, Jenderal Sigit memastikan Desk Ketenagakerjaan Polri akan terus diperkuat dan dikembangkan mulai dari tingkat Mabes, Polda, hingga Polres di wilayah industri. Desk ini didedikasikan untuk membantu penyelesaian masalah industrial.
"Kami ingin menempatkan masalah pada porsi sebenarnya. Jika buruh memiliki hak, maka hak itu harus diberikan. Manfaatkan desk ini untuk pendampingan dan asistensi," tegas Kapolri.
Tak hanya soal hukum, Kapolri juga memberikan instruksi khusus kepada Kapusdokkes Polri Irjen Asep Hendradiana untuk membuka pintu seluruh RS Polri bagi para buruh.
"Seluruh rekan buruh bisa mendapatkan pelayanan di rumah sakit Polri dengan layanan yang sama. Saya sudah minta jajaran kesehatan untuk memberikan pelayanan maksimal bagi teman-teman pekerja," imbuhnya.
(idn/hri)

















































