Banggai -
Sejumlah siswa SMP Negeri Satu Atap (Satap) Batui 5, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), harus mempertaruhkan keselamatannya demi sekolah. Siswa menyeberangi sungai berarus deras untuk pergi dan pulang sekolah setiap hari.
Dilansir detikSulsel, kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun lantaran belum adanya akses yang menghubungkan permukiman siswa dengan sekolah.
"Anak murid saya kalau mau pergi ke sekolah harus lewat jalur sungai tiap hari, pergi sekolah maupun pulang sekolah," ujar tenaga pendidik SMP Negeri Satap Batui 5, Jumrah, kepada wartawan, Kamis (23/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Jumrah, kondisi sungai sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan deras mengguyur, debit air meningkat hingga meluap dan membuat siswa tidak dapat menyeberang.
"Beberapa kali siswanya tidak bisa ke sekolah gara-gara itu. Guru-guru ada toleransi karena sungai meluap," ujarnya.
Ia mengungkapkan situasi tersebut bahkan pernah mengganggu pelaksanaan ujian karena sejumlah siswa terhalang banjir sungai. Hingga kini, kata Jumrah, belum tersedia jembatan maupun fasilitas penyeberangan yang aman.
Saat debit air rendah, siswa masih bisa menyeberang. Namun, ketika arus sungai deras, keselamatan mereka menjadi taruhan.
"Bahaya karena nyawa taruhannya apalagi naik air," katanya.
Pihak sekolah pun kerap mengambil langkah antisipasi ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Salah satunya memulangkan siswa lebih awal agar mereka dapat menyeberang sebelum debit air meningkat.
"Belum waktu pulang sekolah. Tapi karena hujan deras, kami berinisiatif kasih pulang, kami kawal sampai pinggir sungai, ternyata di sebelah sungai orang tuanya sudah menunggu," tutur Jumrah.
Baca selengkapnya di sini
Saksikan Live DetikSore:
Lihat juga Video 'Perjuangan Siswa di Lumajang, Digendong Orang Sebrangi Aliran Lahar Semeru':
(idh/imk)


















































