MOROWALI, SULAWESI TENGAH — Keterbatasan ruang perawatan tidak menyurutkan komitmen RSUD Morowali untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sejumlah ruangan saat ini tengah menjalani proses rehabilitasi, sehingga kapasitas pelayanan rumah sakit untuk sementara ikut berkurang.
Direktur RSUD Morowali, Maskur, S.Kep., Ns., M.M., mengatakan pihaknya terus mencari berbagai langkah agar keterbatasan ruangan tidak menghambat masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Hal itu disampaikan Maskur saat diwawancarai sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Senin (23/8/2026).
Menurut Maskur, kondisi keterbatasan ruang saat ini terjadi karena sejumlah ruangan, termasuk beberapa ruang perawatan di lantai dua dan lantai tiga, sedang dalam proses rehabilitasi.
“Jadi kami sebenarnya sudah berbuat. Kami berusaha yang terbaik untuk masyarakat. Cuma memang ada keterbatasan, ” ujar Maskur.
Ia menjelaskan, proses rehabilitasi tersebut membuat sejumlah ruangan untuk sementara tidak dapat digunakan. Kondisi ini secara otomatis berdampak terhadap kapasitas tempat tidur yang dapat dimanfaatkan untuk merawat pasien.
“Lantai dua, lantai tiga itu saat ini direhab, sehingga tidak bisa dipakai. Ini keterbatasan ruangan, ” jelasnya.
Selain ruangan yang sedang direhabilitasi, beberapa ruang perawatan lainnya juga harus dimaksimalkan penggunaannya. Maskur menyebut terdapat beberapa ruang seperti Mawar, Matahari, Kenanga dan Asoka yang harus diatur sedemikian rupa untuk mengantisipasi kebutuhan pasien.
Bahkan, kapasitas tempat tidur di sejumlah ruangan terpaksa dimaksimalkan. Ruangan yang dalam kondisi normal hanya diperuntukkan bagi dua tempat tidur, dalam situasi tertentu dapat diisi hingga tiga tempat tidur.
“Harusnya hanya dua tempat tidur, saya sudah jadikan tiga tempat tidur. Kenapa? Untuk antisipasi. Jadi memang sudah tidak sesuai sesungguhnya, tetapi hanya untuk mengantisipasi, ” katanya.
Langkah tersebut, menurut Maskur, merupakan bentuk upaya rumah sakit agar masyarakat yang membutuhkan pelayanan tetap dapat ditangani meskipun kapasitas ruang sedang terbatas.
Ia menyebut, dari kapasitas keseluruhan yang ada, saat ini sekitar 150 tempat tidur yang dapat dimaksimalkan untuk pelayanan, sementara sebagian ruangan lainnya belum dapat digunakan karena masih dalam proses rehabilitasi.
Di tengah kondisi tersebut, pihak RSUD Morowali juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencari alternatif ruang yang dapat dimanfaatkan apabila kebutuhan pelayanan meningkat.
Bahkan, kata Maskur, pihaknya membuka kemungkinan memanfaatkan ruangan yang tersedia, termasuk aula, sebagai bagian dari langkah antisipasi apabila kondisi mengharuskan penambahan kapasitas pelayanan.
“Kita maksimalkan. Kita berupaya, ” tegasnya.
Maskur juga menjelaskan bahwa perbaikan dan pembenahan fasilitas RSUD Morowali menjadi bagian dari upaya pemerintah dan manajemen rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Menurutnya, keterbatasan anggaran pada tahun-tahun sebelumnya menjadi salah satu kendala dalam melakukan berbagai pembenahan maupun pelatihan pelayanan. Namun, tahun ini pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran yang disebut mencapai sekitar Rp10 miliar untuk kebutuhan pembenahan tersebut.
“Alhamdulillah, sekarang diberikan kurang lebih Rp10 miliar, ” ungkapnya.
Dukungan anggaran tersebut diharapkan dapat mempercepat pembenahan fasilitas rumah sakit sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Maskur menuturkan, pembenahan bukan hanya menyangkut bangunan dan ruangan, tetapi juga sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak pelayanan.
Karena itu, sejak dirinya menjabat sebagai Direktur RSUD Morowali, berbagai langkah mulai dilakukan untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan, termasuk pelatihan bagi tenaga kesehatan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana membangun budaya pelayanan yang lebih ramah dan membuat masyarakat merasa nyaman ketika berada di rumah sakit.
“Saya sekarang buat pelatihan untuk senyum itu. Senyum melayani, ” ujarnya.
Menurut Maskur, pelatihan tersebut penting karena pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara mengenai obat, dokter, ruangan maupun fasilitas, tetapi juga menyangkut cara tenaga kesehatan berinteraksi dengan masyarakat.
Ia mengakui bahwa selama beberapa tahun sebelumnya alokasi anggaran untuk pelatihan masih terbatas. Karena itu, pembenahan pelayanan menjadi salah satu hal yang kini mulai didorong secara bertahap.
“Kami tidak pungkiri bahwa pelayanan harus selalu ditingkatkan setiap saat, ” akunya.
Maskur menegaskan, keterbatasan ruang yang terjadi saat ini bukan alasan bagi rumah sakit untuk mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi manajemen untuk mencari berbagai solusi agar pasien tetap mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan.
Ia mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan pengaturan dan memaksimalkan seluruh fasilitas yang masih dapat digunakan, sembari menunggu proses rehabilitasi sejumlah ruangan selesai.
"Dengan berbagai langkah tersebut, RSUD Morowali berupaya menjaga agar masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan di tengah proses pembenahan fasilitas. Renovasi ini diharapkan dapat menghasilkan ruang pelayanan yang lebih layak, sementara pelayanan kepada pasien tetap menjadi prioritas utama selama proses perbaikan berlangsung, " tandasnya.















































