Said Senang 85 Ekor Sapi Bima Miliknya Ludes Terjual di Jaksel: Sisa 2 Lagi

12 hours ago 5

Jakarta -

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, sapi-sapi kurban milik Muhammad Said nyaris ludes terjual. Pria 34 tahun ini mengatakan dirinya mendatangkan 85 ekor sapi untuk kurban, dan kini hanya tersisa dua ekor.

Said menjelaskan sapi miliknya berbeda dengan sapi ternak. Di kampung halamannya, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), sapi-sapi tumbuh dengan cara tradisional atau dikenal dengan istilah sapi umbaran.

"Ya dilepas, umbaran itu namanya dilepas di gunung, di dekat kaki Gunung Tambora itu kan banyak, itu ribuan ekor. Nah, ada beberapa orang yang punya itu diumbar saja," kata Said saat ditemui di lapak hewan kurbannya, pinggir Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Sabtu (23/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Merawat sapi, kata Said, sudah menjadi kesehariannya. Tantangan dalam bisnis penjualan sapi kurban, lanjutnya, adalah perjalanan jauh dari Bima menuju Jakarta, yang harus ditempuh dirinya dan puluhan sapi miliknya.

Said mengatakan perjalanan memakan waktu lima hingga tujuh hari. Sapi-sapi diangkut dengan truk tronton besar dari Bima-Sumbawa-Mataram.

Dari Mataram, dia dan rombongan sapi menyeberangi lautan menuju ke Banyuwangi. Setelah itu, kembali menempuh perjalanan darat hingga Ibu Kota DKI Jakarta.

"Penyeberangannya itu yang sulit. Karena kapal yang dioperasionalkan di situ terbatas, hanya berapa kapal gitu kan. Nah, kalau kapalnya banyak, pasti cepat kitanya," terangnya.

Dalam perjalanan di atas tronton, Said harus memastikan kesehatan sapi-sapinya. Dia memberi makan dan minum sapi di atas tronton.

Said mengaku awalnya membawa 65 ekor sapi untuk menyambut Idul Adha tahun ini. Namun ternyata antusiasme pembeli tinggi, sehingga dia mendatangkan lagi 20 ekor milik teman dan saudaranya di Bima.

"Awalnya 65 ekor, sampai hari ini sudah masuk 85 ekor di saya. Ngambil lagi di tempat teman, saudara gitu kan, banyak," ucap pria yang sudah 15 tahun berjualan sapi menjelang Idul Adha ini.

Said menjelaskan dirinya menjual sapi kurban untuk semua kalangan. Ada yang harganya ekonomis hingga 'kelas sultan'.

"Nah, kalau di bobot yang paling terkecil itu 210 kilogram yang harga Rp 14 juta. Kalau yang harga tertinggi nih di Rp 80 juta, bobotnya 800 kilogram lebih," jelas Said.

Said berharap dua ekor sapi yang masih ada di lapaknya segera dapat pembeli. Dia optimis dua sapi umbaran terakhir di lapaknya akan laku terjual.

"Pasti laku," ucap Said optimistis.

(ond/aud)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |