Jakarta -
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, melempar candaan ke Ketua PMI Jusuf Kalla (JK) tak mau masuk ke gorong-gorong dan lebih mengedepankan kinerja pikiran dan otak. Anggota Komisi D DPRD DKI Fraksi PSI, Bun Joi Phiau, menyebut dalam praktik kepemimpian melihat langsung situasi di lapangan juga dibutuhkan.
"Melihat langsung situasi di lapangan itu penting, terutama di musim penghujan di Jakarta, di mana saluran air, selokan, gorong-gorong dan sungai sangat menentukan bagaimana banjir bisa terjadi atau dicegah," kata Bun Joi kepada wartawan, Minggu (8/2/2026).
Ia lantas menyinggung kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang sempat menjabat sebagai Gubernur Jakarta dan terjun langsung ke gorong-gorong. Menurutnya hal itu adalah aksi nyata mendengar keluhan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak pemimpin (termasuk Presiden Joko Widodo ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta) turun langsung ke selokan atau gorong untuk memahami kondisi teknis dan mendengar langsung keluhan warga. Ini tidak hanya simbolik, tetapi sering memberikan insight nyata tentang masalah yang dihadapi,"ujar Bun Joi.
"Relevan sebagai konteks kebiasaan kepemimpinan sebelumnya. Prabowo sendiri menggarisbawahi pentingnya aksi di lapangan dalam gerakan ini. Jadi, kepemimpinan yang efektif idealnya menggabungkan kerja berpikir strategis (kebijakan) dengan kepekaan terhadap realitas di lapangan," sambungnya.
Kendati demikian, ia menilai pernyataan yang dilemparkan Pramono dalam kapasitas bercanda untuk mencairkan suasana. Ia juga memandang pernyataan itu bukan dalam konteks sindiran ke suatu kebijakan.
"Ucapan tersebut jelas bersifat jenaka dan situasional, bukan sebuah sikap resmi bahwa pemimpin harus 'tidak turun ke lapangan'. Pramono sendiri menyampaikan bahwa kalau sesekali ia masuk gorong-gorong pun ia siap, tetapi itu mungkin akan mengejutkan media dan publik," kata Bun Joi.
"Karena disampaikan sambil tertawa dan tanpa konteks penolakan terhadap kerja bakti itu sendiri, lebih rasional menafsirkannya sebagai gurauan ringan, bukan sindiran tajam terhadap siapa pun atau terhadap gaya kepemimpinan lain," tambahnya.
Sebelumnya, Pramono sempat melontarkan candaan ke JK. Pramono mengatakan dia dan JK memilih membuat kebijakan daripada masuk gorong-gorong saat kerja bakti.
"Tadi saya sambil bercanda sama Pak JK 'Pak JK kita ini dibesarkan dalam teknokrasi. Pasti Pak JK sama saya nggak mau masuk gorong-gorong, tapi yang bekerja adalah pikiran dan otaknya'. Pak JK ketawa," canda Pramono.
Pramono mengatakan media dan warga hanya akan kaget kalau dirinya nekat turun kerja bakti di gorong-gorong. "Sekali-sekali Gubernur masuk gorong-gorong, saya mau aja Pak. Tapi nanti wartawan malah kaget kalau saya masuk gorong-gorong," lanjutnya.
Senada dengan Pramono, JK menyebutkan masyarakat harus ikut bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan kota. Menurut dia, hak itu tidak hanya menjadi tanggung jawab gubernur.
"Karena yang kotorin Jakarta kita juga, yang bersihkan harus kita juga," kata JK.
JK kemudian mengungkit banjir yang kerap terjadi di Jakarta. Menurut dia, saat banjir seluruh warga turut terkena dampaknya, terlebih masyarakat kecil.
"Jangan lupa begitu banjir yang kena lebih banyak rakyat kecil. Orang di Menteng, di Kebayoran, di Pondok Indah tidak kena banjir. Yang kena rakyat kecil, jadi kita harus bertanggung jawab untuk itu," ungkap JK.
"Karena itu kita minta kepada seluruh warga Jakarta bertanggung jawab pada rumahnya masing-masing. Artinya, semua selokan di muka rumahnya, apakah kantornya, apa rukonya, harus dia bersihkan. Harus bersih sendiri, kalau tidak, banjir kena dampaknya ke kita sendiri," lanjut dia.
(dwr/gbr)


















































