Prabowo Singgung 'Bangsa Kepiting', Golkar: Ketidakpuasan Tak Boleh Jadi Iri

6 days ago 4

Jakarta -

Sekjen Partai Golkar Sarmuji menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang yang menyoroti sikap saling menjatuhkan dan mengibaratkan kondisi itu sebagai mentalitas 'bangsa kepiting'. Sarmuji menilai pesan tersebut merupakan peringatan agar bangsa Indonesia tak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu.

"Itu adalah wanti-wanti pemimpin agar kita tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti masa lalu," kata Sarmuji kepada wartawan, Sabtu (11/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sarmuji mengatakan bangsa Indonesia harus mampu mengelola ketidakpuasan dengan baik. Menurutnya, ketidakpuasan tak boleh berubah menjadi sikap iri dan dengki.

"Bangsa ini harus mampu mengelola ketidakpuasan. Ketidakpuasan tidak boleh menjadikan kita iri dan dengki. Jangan inginnya memimpin terus sementara kekuasaan pasti dipergilirkan. Jangan sampai kita tidak sempat membangun karena saling menjatuhkan," ujarnya.

Ketua Fraksi Golkar DPR RI ini menilai kritik terhadap pemerintah tak termasuk dalam kategori sikap saling menjatuhkan yang dimaksud Prabowo. Justru, kata dia, kritik yang bersifat konstruktif dibutuhkan agar jalannya pemerintahan tetap berada di jalur yang benar.

"Kritik yang konstruktif tentu tidak masuk kategori yang dimaksud presiden. Bahkan kritik diperlukan agar pemerintah tetap berada pada rel yang seharusnya," ujarnya.

"Berilah kesempatan siapapun yang memimpin untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik dan menunaikan setiap janji," imbuh dia.

Sebelumnya, Prabowo menyinggung mentalitas saling menjatuhkan yang saat ini masih menjadi tantangan di Indonesia. Prabowo mengibaratkan kondisi tersebut sebagai 'bangsa kepiting', yakni saling menjatuhkan ketika ada yang ingin maju.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan di peluncuran Biosolar B50, di Rest Area, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2026). Menurutnya, sikap tersebut kemungkinan dampak dari sejarah panjang penjajahan yang membuat sebagian masyarakat memiliki rasa rendah diri.

Prabowo mengatakan masih ada kecenderungan sebagian orang merasa senang ketika melihat sesamanya mengalami kesulitan. Dia kemudian mengutip istilah 'bangsa kepiting' untuk menggambarkan perilaku tersebut.

"Dikatakan bahwa kita termasuk bangsa kepiting. Kepiting kalau rekannya sudah naik ke atas, kepiting yang di bawah nurunin dia lagi. Ada kepiting lain mau naik ke atas, kepiting lain nurunin dia lagi," ujarnya.

"Itu namanya senang melihat rekan susah, susah melihat rekan senang. Saya tidak tahu mungkin saudara-saudara pun punya pengalaman ya," lanjut Prabowo.

(amw/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |