PKS Soroti Potensi Harga Obat Naik: Jadi Alarm Kebut Farmasi Nasional

1 day ago 11

Jakarta -

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menyoroti soal potensi harga obat-obatan naik lantaran rupiah melemah. Netty menyebut hal tersebut mesti menjadi alarm bagi dunia farmasi nasional.

"Yang harus menjadi perhatian utama adalah jangan sampai masyarakat, terutama pasien yang bergantung pada obat rutin, menjadi pihak yang paling terdampak akibat gejolak ekonomi dan konflik global," kata Netty kepada wartawan, Sabtu (6/6/2026).

Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas ini menyebut Indonesia masih ketergantungan dengan bahan baku impor. Ia ingin ada kemandirian dari farmasi RI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita perlu menjadikan situasi ini sebagai alarm untuk mempercepat kemandirian farmasi nasional," ujar Netty.

"Ketergantungan yang terlalu besar terhadap bahan baku impor membuat sistem kesehatan kita rentan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun gangguan rantai pasok global," sambungnya.

Netty mendorong pemerintah untuk memperkuat produksi bahan baku obat dalam negeri. Menurutnya, hal itu dapat dilakukan melalui dukungan riset, insentif industri, dan kolaborasi lintas kementerian.

"Ketahanan kesehatan tidak cukup hanya dengan memiliki rumah sakit dan tenaga kesehatan yang baik. Kita juga harus memiliki kemandirian dalam penyediaan obat-obatan strategis agar tidak mudah terguncang oleh dinamika global," jelasnya.

Lebih lanjut, ia meminta pemerintah melakukan pemantauan berkala terhadap harga obat di lapangan agar tidak terjadi lonjakan harga yang membebani masyarakat. Ia tak ingin kondisi global mengurangi hak rakyat mendapat layanan Kesehatan yang baik.

"Pemerintah perlu memastikan setiap penyesuaian harga dilakukan secara terukur dan proporsional. Jangan sampai akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial menjadi terganggu," ujar Netty.

"Jangan sampai kondisi global mengurangi hak rakyat untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak," tambahnya.

Sebelumnya, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar berbicara soal adanya potensi kenaikan harga obat-obatan di Indonesia, menyusul nilai tukar rupiah yang melemah dalam beberapa waktu terakhir. Ini terjadi karena masih ada banyak bahan obat yang diimpor dari luar negeri.

Taruna Ikrar menuturkan industri farmasi akhirnya harus melakukan penyesuaian harga agar tetap bisa bertahan.

"Tentu industri farmasi kita supaya bisa survive akan menaikkan (harga). Tapi kita dari pemerintah berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi," ucap Taruna ketika ditemui awak media di Kantor BPOM, dilansir detikHealth Selasa (2/6/2026).

Demi mengatasi kenaikan harga obat, pihaknya akan melakukan beberapa langkah. Misalnya seperti penyesuaian dari kemasan, hingga mencari pemasok bahan baku obat dari negara lain dengan harga yang lebih terjangkau.

Simak juga Video Menkes Ungkap Harga Obat di Indonesia 6 Kali Lebih Mahal dari Harga Global

(dwr/idn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |