Jakarta -
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti meresmikan hasil revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025 di Kabupaten Bireuen, Aceh. Peresmian ini menandai selesainya pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan pada 29 sekolah dengan total nilai bantuan sekitar Rp 36 miliar yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kenyamanan proses pembelajaran bagi peserta didik.
"Dengan adanya bantuan revitalisasi tersebut maka pemerintah dapat memastikan kegiatan belajar mengajar dapat kembali pulih dan berjalan secara optimal di wilayah yang terdampak bencana," ujar Abdul Mu'ti dalam keterangan tertulis, Rabu (11/3/2026).
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa pada tahun 2025 program revitalisasi satuan pendidikan di Provinsi Aceh telah menjangkau 726 sekolah atau satuan pendidikan dari berbagai jenjang dengan total anggaran sekitar Rp 688,2 miliar. Program tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah, hingga pendidikan nonformal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Abdul Mu'ti, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan melalui revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya strategis untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana membangun generasi Indonesia yang hebat melalui pemenuhan sarana dan prasarana.
"Membangun gedung tidaklah sekadar mendirikan tembok yang tinggi, tetapi membangun fondasi yang kokoh dalam rangka membangun anak-anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu'ti juga berpesan kepada seluruh penerima manfaat agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Ia menekankan bahwa sarana pendidikan yang dibangun melalui program revitalisasi merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Salah satu penerima manfaat revitalisasi, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMP Negeri 1 Peusangan Selatan, Leni menyampaikan bahwa program revitalisasi memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran di sekolahnya. Menurutnya, kondisi ruang kelas yang sebelumnya kurang layak kini telah jauh lebih baik sehingga siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan nyaman.
"Siswa dapat belajar dengan lebih fokus, mendorong motivasi dan semangat belajarnya karena ruang kelas tidak lagi bocor, plafon yang layak, pintu dan jendela yang kokoh, serta fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang lebih baik sehingga siswa betah untuk menambah ilmu pengetahuan dan teknologinya," ungkap Leni.
Leni menambahkan bahwa revitalisasi juga memberikan dampak positif bagi para guru karena kini tersedia ruang kerja yang lebih memadai dan kondusif. Dengan fasilitas yang lebih baik, guru dapat melakukan perencanaan pembelajaran, berdiskusi dengan rekan sejawat, serta mengelola administrasi pembelajaran secara lebih tertata.
"Hal ini membuat guru lebih fokus dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas," sambung Leni.
Hal serupa disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Samalanga, Ira Novita yang menyebut program revitalisasi sangat membantu sekolahnya karena fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan sekolah. Ia mencontohkan pembangunan ruang administrasi baru yang memungkinkan laboratorium IPA dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa.
"Dengan adanya ruang administrasi baru, siswa jadi bisa memanfaatkan laboratorium IPA dengan maksimal untuk pembelajaran, karena sebelumnya harus berbagi dengan ruang administrasi," ucap Ira.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Peudada, Yuslina menyampaikan bahwa revitalisasi sangat membantu memperbaiki kondisi sekolah yang sebelumnya sudah cukup lama dan membutuhkan perbaikan di berbagai bagian. Para siswa dan guru pun menilai pembangunan tersebut sangat positif karena fasilitas yang tersedia kini jauh lebih layak dan mendukung kegiatan belajar mengajar.
"Alhamdulillah sudah selesai 100 persen dan sudah mulai kita manfaatkan. Dengan adanya revitalisasi ini ada empat ruang kelas yang direhabilitasi, ruang perpustakaan, toilet, serta tiga bangunan baru yaitu toilet, UKS, dan ruang BK," tutur Yuslina.
Kebermanfaatan revitalisasi juga dirasakan oleh Kepala SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Istiarsyah yang melihat perubahan signifikan pada lingkungan sekolahnya setelah revitalisasi dilakukan. Menurutnya, lingkungan sekolah yang sebelumnya sempit kini menjadi lebih luas sehingga siswa memiliki ruang yang lebih leluasa untuk beraktivitas. Selain itu, sekolah juga kini memiliki sejumlah fasilitas baru yang sebelumnya belum tersedia.
"Ada ruang sensori integrasi, ruang perpustakaan, UKS, dan ruang keterampilan yang sebelumnya tidak kami miliki. Fasilitas ini akan kami manfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus," tutup Istiarsyah.
(prf/ega)
















































