Komisi V DPR Soroti Kecelakaan KA di Bekasi, Minta 2 Hal Ini Segera Dibenahi

6 hours ago 2
Jakarta -

Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menyoroti peristiwa kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Dia menilai ada dua isu terkait persoalan kereta di Indonesia yang harus segera dibenahi.

Mulanya Lasarus menilai persoalan posisi gerbong tidak ada kaitannya dalam insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Dia mengatakan persoalan utama adalah penataan lintasan sebidang.

"Kalau kecelakaan kemarin nggak ada urusan sama susunan gerbong. Mau wanita ditaruh di tengah, ditaruh di depan, di taruh di belakang, atau laki-laki nanti yang di belakang, kan keselamatan bagi semua orang. Bukan itu persoalannya, persoalannya adalah tata kelola kereta itu. Soal lintasan sebidang, bahwa persoalan utama itu penataan lintasan sebidang. Kan itu awal biang kerok dari kecelakaan itu. Nah benahi dulu seluruh perlintasan itu," kata Lasarus kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).

Dia menuturkan persoalan selanjutnya mengenai sinyal. Lasarus menilai persinyalan kereta api juga harus dibenahi. Masalah lintasan sebidang dan sinyal menjadi pekerjaan rumah terkait keamanan transportasi kereta yang harus cepat diperbaiki.

"Kemudian soal persinyalan, kalau saja persinyalan itu bagus, pada saat kecelakaan itu terjadi, dan sinyal ini bisa ditangkap oleh semua kereta di jalur yang sama, kan semua kereta akan berhenti tidak terjadi itu. Dua hal ini yang harus dibenahi. Tata kelola kereta itu termasuk penatakelolaan perlintasan sebidang, penatakelolaan persinyalan," tuturnya.

Lasarus menyampaikan pengguna kereta saat ini sudah melebihi kapasitas. Menurutnya, perlu ada pengembangan lebih lanjut.

"Kemudian juga kebutuhan mendesak perkembangan pembangunan kereta api di Indonesia. Karena daya tampung kereta di Indonesia itu sudah apa namanya permintaan masyarakat untuk menggunakan kereta sudah melebihi kapasitas kereta yang ada. Pemerintah harus fokus terkait pengembangan kereta ini," ucapnya.

Dia mengatakan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan kecelakaan di kereta juga harus jelas. Perlu ada evaluasi secara menyeluruh pasca kecelakaan yang terjadi.

"Soal SOP juga, harus jelas, ketika terjadi kecelakaan ini SOP apa yang harus segera dilakukan, sehingga kejadian kemarin tidak terulang. Jadi evaluasinya harus menyeluruh," kata Lasarus.

Menurut Lasarus, tidak boleh ada hambatan di perlintasan kereta api. Sebab kereta tidak bisa ngerem mendadak dan memerlukan persiapan panjang sebelum berhenti.

Dia kemudian menyampaikan persoalan kereta api masih sangat kompleks. Ada berbagai macam aturan yang tumpang tindih antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, baik soal infrastruktur perlintasan hingga pembenahan perlintasan sebidang.

"Di Indonesia ada ribuan lintasan yang tidak terjaga, bahkan ada banyak lintasan yang disebut lintasan liar. Menurut saya masalah masih sangat kompleks kereta api itu. Ada kewenangan daerah terkait misalnya kalau itu ada flyover, kemudian kita mestibangun underpass, bebaskan lahan, segala macem, pindahkan penduduk yang ada di situ, itu kewenangan Pemda," jelasnya.

Dia menyarankan agar pembenahan perlintasan sebidang kereta diambil alih oleh pemerintah pusat sehingga tidak ada saling lempar tanggung jawab.

"Saran saya ke depan sih yaudah karena yang bangun kereta itu adalah pemerintah pusat, yaudah soal perlintasan sebidang itu adalah diambil alih aja oleh pemerintah pusat. Untuk daerah-daerah yang tidak bisa mengatur wilayahnya untuk menyerahkan area perlintasan sebidang yang akan terjadi karena dibangun rel kereta, yaudah nggak usah dibangun dulu ketimbang itu dibangun menimbulkan bahaya," ucapnya.

"Biar pusat aja, biar kewenangan itu jelas, tidak lempar sana lempar sini. Toh juga peraturan sekarang saya lihat dana pembangunan di daerah infrastrukturnya diambil alih pusat semua, yasudah disitukan aja ke situ semua gitu loh," lanjutnya.

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur berawal saat taksi Green SM sempat terhenti di tengah rel kereta api yang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Taksi itu kemudian tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta.

KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel. Warga kemudian berkumpul untuk membantu evakuasi taksi itu.

Di sisi lain, ada KRL arah Cikarang yang terhenti lebih lama di Stasiun Bekasi Timur imbas insiden antara KRL arah Jakarta dan taksi Green SM. KRL yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur inilah yang kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta.

Pada Selasa (28/4), KAI menyebut ada 15 orang yang menjadi korban meninggal. Kini, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 16 orang.

(dek/ygs)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |