Kisah Pengendali Makkah dan Madinah, dari Keturunan Nabi Muhammad SAW Beralih ke Keluarga Penguasa Arab Saudi

8 hours ago 4

loading...

Situs Kakbah dan Masjidilharam di kota suci Makkah, Kerajaan Arab Saudi. Saudi menuduh Houthi menyerang Makkah dengan drone. Foto/SPA

MAKKAH - Arab Saudi menegaskan perannya sebagai Penjaga Dua Masjid Suci setelah menuduh kelompok Houthi Yaman meluncurkan serangan drone ke arah Makkah. Namun, sekitar satu abad lalu, pemegang kekuasaan atas Makkah dan Madinah adalah keturunan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana ceritanya kendali atas dua kota suci umat Islam itu sekarang berada di tangan keluarga penguasa Arab Saudi (keluarga al-Saud)?

Kisahnya bermula dari peristiwa September 1924, enam tahun setelah kekuatan Sekutu mengalahkan Kesultanan Utsmaniyah (Turki Utsmani). Saat itu, pihak pemenang perang mulai membentuk kembali wilayah Arab yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani.

Baca Juga: Arab Saudi Akui Ibu Kotanya Diserang Rudal Houthi, Perang Makin Meluas

Kala itu, Syarif Makkah sekaligus Raja Hijaz, Hussein bin Ali, seorang keturunan Nabi Muhammad SAW dari keluarga Hashemite (Hashimiyah), menghadapi ancaman yang datang dari wilayah yang lebih dekat.

Pasukan Ikhwan milik penguasa Najd, Abdulaziz Ibn Saud, sebuah kelompok milisi religius-militer, telah menyerbu Hijaz dan merebut kota Taif. Mereka kemudian bergerak menuju Makkah, mengancam kekuasaan Hussein atas dua kota paling suci dalam Islam, Makkah dan Madinah.

Menurut laporan dari India Today, Minggu (20/9/2026), ketika posisinya semakin terdesak, Hussein meminta bantuan Sekutu yang delapan tahun sebelumnya telah mempersenjatai dan membiayai pemberontakannya melawan Utsmaniyah. Sekutu itu adalah Inggris.

Hussein meminta London membantu menghadapi pasukan Ibn Saud yang terus bergerak maju. Namun, Inggris menolak.

Keputusan tersebut menjadi ironi besar. Inggris sebelumnya menjalin hubungan dengan kedua rival di Jazirah Arab.

Menurut penulis sekaligus jurnalis Amerika Serikat; James Wynbrandt, dalam bukunya A Brief History of Saudi Arabia, Inggris menandatangani perjanjian dengan penguasa Najd, Ibn Saud, pada 1915. London membayarnya 20.000 pound, memasok 1.000 senapan, dan kemudian memberikan subsidi 5.000 pound per bulan.

Di sisi lain, Raja Hashemite Syarif Hussein juga menerima 125.000 pound per bulan dalam bentuk emas Inggris, selain senjata dan penasihat militer.

Pada akhir 1925, Makkah, Madinah, dan Jeddah berada di bawah kendali Ibn Saud.

Ibn Saud kemudian menyatukan wilayah tersebut untuk membentuk negara yang kini dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi sekaligus mendirikan Wangsa Saud, keluarga yang hingga kini memerintah kerajaan kaya minyak tersebut.

Namun, dinasti Hashemite milik Hussein tidak lenyap.

Putra-putranya ditempatkan dalam tatanan baru yang dibangun Inggris setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah. Pangeran Hashemite Faisal bin Hussein menjadi penguasa Irak, sementara Pangeran Abdullah bin Hussein muncul sebagai penguasa Transyordania—wilayah di sebelah timur Sungai Yordan yang kini menjadi Yordania.

Mengapa Kisah 100 Tahun Lalu Kembali Relevan?

Kisah yang telah berusia satu abad tersebut kembali menjadi sorotan karena konflik terbaru di Timur Tengah.

Pada 15 September, Kerajaan Arab Saudi—yang didirikan Ibn Saud dan hingga kini diperintah keturunannya—mengatakan pertahanan udaranya mencegat sebuah drone Houthi di selatan Makkah sebelum drone tersebut memasuki wilayah udara terbatas kota suci itu.

Kelompok Houthi yang didukung Iran membantah tuduhan tersebut.

Juru bicara Koalisi Arab Saudi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menyebut keamanan dua masjid suci dan para jamaah sebagai "garis merah".

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang didominasi negara-negara Muslim termasuk Arab Saudi, mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan yang melanggar kesucian situs-situs suci.

Pakistan, yang telah menandatangani Perjanjian Pertahanan Makkah dengan Arab Saudi, juga menegaskan kembali posisi Arab Saudi sebagai penjaga situs-situs paling suci dalam Islam.

Mekkah merupakan lokasi Masjidil Haram dan Kakbah. Sementara Madinah, tempat Nabi Muhammad berhijrah, menjadi lokasi Masjid Nabawi. Keduanya merupakan dua kota paling suci dalam Islam.

Raja Arab Saudi saat ini menyandang gelar "Penjaga Dua Masjid Suci" atau Khadim al-Haramayn al-Sharifayn.

Raja Fahd bin Abdulaziz secara resmi mengadopsi gelar tersebut pada 1986, beberapa dekade setelah ayahnya, Ibn Saud, menaklukkan Hijaz.

Peran Arab Saudi sebagai Penjaga Dua Masjid Suci kembali ditekankan untuk menggalang dukungan terkait kesucian dan perlindungan situs-situs paling suci dalam Islam.

Namun, bagaimana sebuah dinasti yang berpusat di Riyadh bisa menguasai Makkah dan Madinah yang berada di Hijaz? Dan bagaimana keluarga Hashemite, keturunan Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya menguasai Makkah, akhirnya memerintah Yordania?

Jawabannya tak hanya berkaitan dengan perang dan penaklukan, tetapi juga uang Inggris, perjanjian, harapan yang pupus setelah perang, serta upaya London membangun tatanan baru di Timur Tengah dari reruntuhan Kesultanan Utsmaniyah setelah Perang Dunia I.

Jauh sebelum pendiri Arab Saudi, Abdulaziz Ibn Saud, menguasai Makkah, kota suci tersebut memiliki penguasa sendiri yang disebut Syarif Makkah.

Sejarawan Timur Tengah asal Amerika Serikat, Mary C. Wilson, dalam bukunya King Abdullah, Britain and the Making of Jordan, menulis bahwa jabatan Syarif Makkah telah ada sebelum penaklukan Hijaz oleh Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-16.

Di bawah pemerintahan Utsmaniyah, Syarif tetap memiliki kewenangan lokal yang cukup besar. Sementara itu, sultan Utsmaniyah menyandang gelar Khadim al-Haramayn, yang berarti Pelayan atau Penjaga Dua Masjid Suci.

Hubungan keluarga Hashemite dengan Makkah bahkan lebih dalam daripada sekadar menduduki jabatan politik tertinggi di kota tersebut.

Syarif Hussein bin Ali, Raja Hijaz, berasal dari keluarga Hashemite. Keluarga ini memiliki silsilah dari Nabi Muhammad SAW.

Putranya, Abdullah bin Hussein—yang kemudian menjadi penguasa Yordania—lahir di Makkah pada 1882 dari garis keturunan Syarif tersebut.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |