Jakarta -
Masih ingat aksi pasukan Polisi Cilik (Pocil) Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 28 Kota Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), yang membuat Presiden Prabowo Subianto terpukau saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel)? Siapa sangka, ternyata keterampilan para narapidana Lapas Narkotika Cipinang menyempurnakan tampilan pasukan pocil tersebut.
Seragam pasukan pocil ternyata buatan warga binaan pemasyarakatan Lapas Narkotika Cipinang, Jakarta Timur (Jaktim). Seragam berwarna biru langit tersebut dibuat melalui program pembinaan garmen yang telah berjalan secara berkelanjutan di dalam lapas.
"Benar pakaian yang berwarna biru langit di produksi oleh warga binaan di dalam Lapas," ujar Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Cipinang Syarpani kepada detikcom, Jumat (27/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 57 set seragam diproduksi untuk kebutuhan anak-anak yang tampil di hadapan Presiden Prabowo pada 12 Januari lalu. Tak hanya seragam saat tampil, sebanyak 60 potong baju latihan pasukan pun diproduksi di Lapas Narkotika Cipinang.
"Produksi saat itu hanya untuk anak-anak yang tampil di depan Pak Presiden, sejumlah 57 pieces dan 60 pieces baju latihan olahraga dalam waktu 3 hari. Dari proses pemotongan sampai finishing dikerjakan di dalam Lapas," jelas Syarpani.
"Quality control dilakukan oleh pihak PT. Sentosa Garmindo Pratama yang setiap hari berada di dalam Lapas," sambung dia.
Kini tercatat sebanyak 120 warga binaan pemasyarakatan di lapas ini mengikuti program pembinaan kemandirian sektor garmen. Mereka yang mengikuti program harus memenuhi sejumlah persyaratan.
"Warga binaan yang terlibat (program pembinaan kemandirian bidang garmen) berjumlah 120 orang yang statusnya berkelakuan baik, sudah menjalani sepertiga masa pidana, masa pidana lebih dari tiga tahun, bertekad untuk menjadi lebih baik," terang Syarpani.
Aksi pasukan Pocil Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 28 Kota Pasuruan, Jawa Timur (Jatim). (dok. Kemensos)
Dia mengatakan PT Sentosa Garmindo Pratama juga bermitra dengan sejumlah lapas lain di Indonesia. Sebagian besar proses produksi dilakukan di dalam lapas sebagai bagian dari pembinaan kemandirian.
"(Kualitas produk garmen buatan napi) sudah bisa bersaing, namun kita terus melakukan perbaikan dan inovasi. Bagi peserta garmen akan memiliki sertifikat setelah lulus ujian sertifikasi," ucap Syarpani.
Soal kualitas yang berani diadu, Syarpani menyebut hasil garmen napi Lapas Narkotika Cipinang juga telah dipamerkan di berbagai acara publik, termasuk IPPA Fest 2025.
"Bisa datang dan melihat langsung hasil karya warga binaan pada pameran-pameran yang menampilkan karya warga binaan, contoh IPPA Fest. Selain garmen, salah satu produk andalan kita yang mendapat perhatian dalam setiap pameran adalah produk handycraft dari CNC Laser, di mana kita bisa membuat hiasan ataupun kelengkapan peralatan rumah tangga dari mesin cutting laser CNC," tutur Syarpani.
Foto: Bengkel garmen merupakan sarana program pembinaan kemandirian para narapidana. (dok. Lapas Narkotika Cipinang)
Ke depan, Dia menyebut program ini ditargetkan dapat menyerap lebih banyak warga binaan serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Harapannya, pembinaan konveksi mampu menekan angka pengangguran pascabebas sekaligus mendorong produk karya warga binaan bersaing di pasar nasional.
"Tentunya semakin banyak warga binaan yang dapat terserap melalui kegiatan ini, juga memberikan dampak positif dan kebermanfaatan yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat, di mana warga binaan nanti bebas sebagai individu yang baru," ujar Syarpani.
"Sehingga mengurangi tingkat pengangguran (mampu menyerap tenaga kerja) dan hasil karya warga binaan bisa bersaing dengan merk-merk besar nasional maupun internasional," pungkas dia.
Foto: Dengan menanamkan keterampilan pada napi, Pemasyarakatan berharap mereka menjadi individu baru yang mandiri dan produktif pascabebas. (dok. Lapas Narkotika Cipinang)
(aud/knv)

















































