Kemendagri Luncurkan Instrumen Monev Kerja Sama Pemda & Pihak Luar Negeri

5 hours ago 4

Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) resmi meluncurkan instrumen monitoring dan evaluasi (Monev) kerja sama pemerintah daerah (Pemda) dengan pihak luar negeri. Instrumen tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi daerah agar kerja sama internasional berjalan lebih terarah dan berdampak bagi masyarakat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Tomsi Tohir mengatakan upaya mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilaksanakan sendiri. Hal tersebut membutuhkan peran berbagai pihak, termasuk dari kerja sama luar negeri yang dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan harkat martabat bangsa.

Tomsi menjelaskan selama ini kerja sama antara Pemda dengan pihak luar negeri sudah cukup banyak. Namun, keberhasilannya sulit diukur karena belum adanya instrumen evaluasi yang baku.

Menurutnya, peluncuran instrumen ini menjadi langkah penting untuk menghadirkan standar yang jelas dalam pelaksanaan kerja sama luar negeri di daerah.

"Manfaatkan instrumen ini dengan baik, kemudian pahami dengan baik, kemudian sosialisasikan dengan baik. Supaya apa? Supaya masing-masing daerah bisa melaksanakannya," ujar Tomsi dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026).

Hal ini disampaikannya saat memberikan keynote speech pada acara Forum Peresmian Instrumen Monitoring dan Evaluasi Kerja Sama Daerah dengan Pemda Luar Negeri dan Lembaga Luar Negeri, di Hotel Harris Vertu Harmoni, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Tomsi juga menyoroti masih adanya kerja sama Pemda dengan pihak luar negeri yang mengalami hambatan. Kendala tersebut antara lain terkait administrasi, sumber daya manusia, regulasi, hingga pembiayaan.

Ia berharap kehadiran instrumen ini dapat menjadi pedoman bagi daerah untuk memahami faktor-faktor keberhasilan kerja sama, sekaligus menjadi sarana pembelajaran antardaerah dalam mengembangkan potensi masing-masing.

"Banyak lembaga-lembaga dan negara-negara donor itu juga mau berhubungan, berkomunikasi dengan kita, caranya juga seperti apa [sehingga diperlukan instrumen]," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Tomsi mengungkap masih adanya hasil pelaksanaan kerja sama luar negeri yang kerap berhenti pada kegiatan seremonial. Bahkan, ia menilai sejumlah bantuan luar negeri hanya menghasilkan dokumen administratif tanpa dampak nyata di masyarakat di daerah.

"Sekarang ini yang dibutuhkan adalah karya nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Jadi, setiap melaksanakan suatu perjanjian, itu output-nya ke mana? Hasilnya yang dapat dirasakan oleh masyarakat kita itu apa? Itu yang harus kita pikirkan," tegasnya.

Ia menambahkan, mayoritas kerja sama Pemda dengan pihak luar negeri masih didominasi kerja sama dan pertukaran budaya. Karena itu, Tomsi meminta Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) lebih aktif berperan dalam menjembatani kepala daerah untuk menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri.

"Jadi, disaring dulu. Kemudian, kalau memberi saran, ditanya-tanya dulu ya, dilihat dari teman-teman yang sudah bekerja sama. Kemudian dicoba hubungi dulu pihak luarnya, dikomunikasikan. Kemudian baru diaplikasikan," pungkasnya.

Sebagai informasi, turut hadir pada acara ini, Kepala Pusat Fasilitasi Kerja Sama Kemendagri Ahmad Fajri, Tim Leader Program Sinergi dan Kolaborasi untuk Akselerasi Layanan Dasar (SKALA) Petra Karetji, Sekjen United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) Bernadia Irawati Tjandradewi, dan para Kepala Bapperida dari berbagai daerah di Indonesia.

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |