Ancaman Kelelahan Bencana, PFI Serukan Transformasi Penanganan Majemuk

6 hours ago 3

loading...

Petugas Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin bersama tim gabungan memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, Jumat (26/9/2025). Foto/SindoNews/Mushaful Imam

JAKARTA - Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) memperingatkan ancaman “kelelahan bencana” (disaster fatigue) yang bisa mempengaruhi keberlanjutan solidaritas publik di tengah terjadinya bencana beruntun dan beragam di Indonesia sepanjang Agustus-September 2026. PFI menyerukan transformasi mendasar pada pendekatan dan cara ekosistem filantropi nasional dalam merespons “bencana majemuk” tersebut.

Sekretaris Badan Pengurus PFI, Irvan Nugraha memandang rentetan bencana yang beruntun, bertumpuk dan beragam ini mengarah pada “bencana majemuk”. Yakni bencana yang terjadi secara simultan dan berurutan dengan karakteristik yang berbeda, serta saling memperparah dampak.

Para peneliti menyebutnya sebagai compound disasters atau concurrent disaster. Sayangnya, beberapa laporan penelitian Center for Disaster Philanthropy (CDP) mengungkapkan bahwa lembaga filantropi dan organisasi kemanusiaan lainnya masih cenderung merespond dan menangani bencana majemuk seperti bencana tunggal, yang mengakibatkan terjadinya fenomena “kelelahan bencana” (disaster fatigue). Baca juga: BNPB Sebut Karhutla Mendominasi Bencana di Indonesia, Berikut Ini Daerahnya

Kelelahan bencana adalah kondisi kelelahan fisik, mental, emosional, dan finansial yang dialami masyarakat, donatur, relawan, dan pegiat lembaga sosial akibat bencana atau krisis yang berulang, kondisi darurat tiada henti, serta paparan berita yang meresahkan. Tekanan kumulatif ini bisa menurunkan empati publik, menguras sumber daya filantropi, dan mengalihkan perhatian dari bencana yang kurang terliput media.

Kelelahan bencana menciptakan pola dukungan dan pendanaan yang reaktif dan jangka pendek. ”Donasi dan bantuan umumnya mengalir deras pada dua minggu pertama setelah bencana, tetapi mulai surut pada minggu ketiga, dan mulai menghilang untuk bencana yang terjadi dalam dua bulan setelah bencana besar sebelumnya,” katanya dalam siaran tertulis, Rabu (16/9/2026).

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |