AM Hendropriyono Kupas 5 Pitutur Nusantara untuk Kehidupan Berbangsa

2 hours ago 2

Jakarta -

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono mengupas lima pitutur Nusantara yang menurutnya dapat menjadi pedoman moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang menurutnya makna filosofisnya tepat untuk menghadapi tantangan di zaman sekarang.

Dalam pemaparannya, Hendropriyono menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat Nusantara bukan sekadar warisan budaya, tapi juga sumber kebijaksanaan yang tetap relevan untuk menjawab persoalan kontemporer. Mulai dari kepemimpinan, demokrasi, hingga tanggung jawab sosial.

Pitutur pertama yang disampaikan adalah manunggaling kawulo Gusti. Menurut Hendropriyono, ajaran tersebut mengajarkan keselarasan batin manusia dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Uripmu kudu podo eling manunggaling kawulo Gusti. Dalam filsafat Jawa merupakan ajaran tentang kesatuan batin antara manusia atau kawulo dengan Tuhan yang Maha Esa atau Gusti," ujar Hendropriyono, Sabtu (30/5/2026).

Ia menjelaskan makna ajaran tersebut bukan manusia menjadi Tuhan, melainkan keadaan ketika hati, pikiran, ucapan, dan tindakan seseorang selaras dengan kehendak Ilahi melalui pengendalian diri, kejujuran, kesadaran moral, dan ketulusan hidup.

Pitutur kedua adalah sangkan paraning dumadi. Hendropriyono mengatakan ajaran tersebut mengingatkan manusia untuk selalu memahami asal-usul dan tujuan hidupnya.

"Ajaran ini mengingatkan kita untuk senantiasa menghayati dari mana kita berasal atau sangkan dan ke mana kita akan kembali atau paran," katanya.

Menurut dia, manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Karena itu, kehidupan bukan sekadar perjalanan biologis maupun sosial, melainkan perjalanan moral dan spiritual yang menuntut pertanggungjawaban atas setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia menilai pemahaman tersebut sangat penting terutama ketika seseorang menghadapi dilema moral.

"Dalam keadaan ketika dua kewajiban yang sama-sama mulia menuntut pilihan yang berbeda, kebijaksanaan tidak lahir dari keberhasilan menghindari pengorbanan, melainkan dari keberanian mengambil keputusan dengan hati nurani yang bersih, tanpa iri hati, tanpa kebencian, dan tanpa pamrih pribadi," ujarnya.

Pitutur ketiga yang diangkat Hendropriyono adalah Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa. Menurutnya, semboyan tersebut bukan sekadar slogan persatuan, melainkan landasan filosofis bangsa Indonesia.

"Berbeda-beda tetapi satu adanya, tidak ada kebenaran atau darma yang mendua. Merupakan kalimat yang bukan sekadar semboyan persatuan, melainkan proposisi filsafat Nusantara yang mengajarkan bahwa perbedaan merupakan kenyataan, sedangkan persatuan adalah tujuan moral yang harus diwujudkan," kata Hendropriyono.

Ia menegaskan bahwa keberagaman suku, agama, ras, bahasa, dan adat istiadat tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, perbedaan harus dipandang sebagai unsur yang saling melengkapi dalam membangun harmoni kehidupan bersama.

"Indonesia menjadi kuat bukan karena seluruh rakyatnya sama, tetapi karena mampu hidup berdampingan dalam keberagaman," lanjutnya.
Selanjutnya, Hendropriyono mengulas pitutur keempat yang memadukan nilai gatoloco dan ajining diri saka lathi. Menurutnya, kedua ajaran tersebut sangat relevan dalam kehidupan demokrasi dan kebebasan berpikir di era modern.'

"Gatoloco dapat dipahami sebagai simbol keberanian intelektual untuk mencari kebenaran, sedangkan ajining diri saka lathi merupakan pengingat etis agar pencarian kebenaran itu disampaikan dengan tutur kata yang bermartabat," katanya.

Ia menjelaskan bahwa gatoloco mengajarkan keberanian untuk berpikir kritis dan mempertanyakan berbagai kemapanan, sedangkan ajining diri saka lathi mengajarkan pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan pendapat.

Menurut dia, nilai tersebut sangat relevan di tengah maraknya hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan berbagai polemik yang berkembang di media sosial.

"Kebebasan berbicara harus selalu disertai tanggung jawab moral, karena setinggi apa pun pengetahuan seseorang, martabatnya tetap diukur dari bagaimana ia menggunakan kata-katanya," imbuhnya.

Lebih lanjut, pitutur kelima adalah memayu hayuning bawono, yang dimaknai sebagai kewajiban manusia untuk menjaga keselamatan, keharmonisan, dan keseimbangan kehidupan.

"Ajaran luhur filsafat Jawa ini mengandung makna memperindah, memelihara, dan menjaga keselamatan serta keharmonisan dunia," ujar Hendropriyono.

Ia menjelaskan bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan bagian dari tatanan besar yang mencakup hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, alam semesta, dan generasi yang akan datang.

Karena itu, setiap tindakan manusia harus membawa manfaat, mengurangi penderitaan, mencegah kerusakan, serta menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

"Kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada lingkungannya," katanya.

Hendropriyono juga mengingatkan agar para pemimpin menggunakan kekuasaan untuk mengayomi rakyat, bukan untuk memperkaya diri sendiri. Menurutnya, keadilan sosial bukan sekadar persoalan pembagian kekayaan, melainkan upaya berkelanjutan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat bagi seluruh rakyat.

"Urip iku migunani tumraping liyan," kata Hendropriyono.

(azh/dhn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |