Jakarta -
Kepala SPKT Polsek Waringinkurung, Polresta Serang Kota, Aiptu Eko Yulianto menjadi pelopor Bank Sampah Berkah Bhayangkara di Kabupaten Serang, Banten. Dia membina warga untuk mengelola sampah hingga menjadi pundi-pundi rupiah.
Atas programnya itu, Aiptu Eko diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026 oleh Muhammad Ilham Syah selaku Ketua RT di Desa Kramatwatu, Kabupaten Serang, Muhammad Ilham Syah. Ilham juga merupakan pengurus bank sampah unit Greenland Energy binaan dari Aiptu Eko Yulianto.
"Saya pun terinspirasi juga oleh beliau, jadi ikut juga membantu beliau mengedukasi warga sehingga banyak komunitas-komunitas yang diinisiasi beliau untuk mengelola sampah, entah itu di masyarakat, di sekolah-sekolah maupun di instansi-instansi," kata Ilham kepada detikcom, Senin (2/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilham mengaku sudah hampir 5 tahun berkolaborasi dengan Aiptu Eko dalam pengelolaan sampah. Saat ini, Ilham dan istrinya mengelola 2 bank sampah unit di daerah Kramatwatu. Menurutnya, hampir ada 30 jenis sampah yang kelola seperti limbah plastik, kertas, alumunium, beling, besi hingga minyak jelantah.
"Sampah yang berhasil terkumpul setiap bulannya di bank sampah kami, itu hampir 1 ton, dengan jumlah transaksi rata-rata per bulan itu sekitar Rp 1 juta," ucapnya.
Ada 25 orang yang menjadi nasabah bank sampah yang dikelola Ilham. Puluhan warga itu menabung sampah di bank sampah unit milik Ilham, lalu setiap sebulan sekali Aiptu Eko mengambil sampah-sampah yang sudah terpilih untuk dijual ke pabrik-pabrik pengelola limbah tersebut.
"Ketika penimbangan itu biasanya kita pencatatan dulu, dari pencatatan langsung ditransfer totalnya oleh Pak Eko, lalu saya bagi-bagi menjadi tabungan-tabungan warga sekitar 25 orang itu. Di situ kami tawarkan apakah mau jadi tabungan saja atau mau langsung diambil atau mau ditukarkan dengan sembako," ujar Ilham.
"Ada juga yang mau ditukarnya misalkan tolong dong dibantu buat perpanjang SIM uangnya. Nanti kita hubungkan dibantu oleh Pak Eko untuk perpanjang SIM nanti potongan tabungannya. Dari tabungan itu ada juga yang inginnya disimpan melalui konversi ke tabungan emas," tambahnya.
Ilham sangat senang dengan adanya program Bank Sampah Berkah Bhayangkara gagasan Aiptu Eko. Lewat program itu, Aiptu Eko bisa mengelola puluhan ton sampah dalam setiap bulannya.
"Dari 1 titik itu sebulan, beliau bisa menyelamatkan sekitar 1 ton. Sedangkan bank sampah unit yang beliau bina itu hampir 40-an titik. Jadi, bisa dibilang setiap bulannya, beliau menyelamatkan sampah kurang lebih 40 ton per bulan. Itu di luar dari instansi-instansi atau perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik yang bekerja sama dengan beliau. Saya yakin dampaknya akan terlihat sangat besar ketika diakumulasi semuanya," katanya.
Dampak lain dari edukasi Aiptu Eko dalam mengelola sampah adalah berubahnya pola perilaku masyarakat yang lebih peduli akan kebersihan lingkungannya. Menurut Ilham, masyarakat menjadi tidak buang sampah sembarangan.
"Masyarakat polanya berubah, yang tadinya buang sampahnya sembarangan, ketika ada 1 sosok menggunakan seragam polisi mengambil sampah, ngelola sampah, itu dampaknya (bagus)," ucap Ilham.
Ilham Kagum dengan Aiptu Eko Yulianto
Tak hanya itu, Ilham mengaku kagum dengan sosok Aiptu Eko yang kepribadiannya santun dan diterima semua kalangan masyarakat. Dia pun terinspirasi dengan kiprah Aiptu Eko untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat.
"Saya berani bersaksi, beliau polisi baik yang menjadi inspirasi masyarakat di Kramatwatu. Beliau memberikan inspirasi kepada saya para pemuda di Kramatwatu untuk betapa harus pedulinya dengan lingkungan, tidak pandang kita siapa, entah polisi, entah itu ustad, entah itu pejabat, 1 harus peduli dengan lingkungan. Beliau mencontohkannya," ujar Ilham.
"Itu yang membuat kita yang masyarakat biasa merasa ini polisi aja mau, masa kita enggak gitu, masa kita cuma nontonin aja, itulah kenapa saya menjadikan beliau inspirasi saya secara pribadi, dan saya sampaikan ke masyarakat bahwa beliau sosok yang bisa menginspirasi untuk menjaga lingkungan," imbuhnya.
Aiptu Eko Yulianto pelopor program Bank Sampah Berkah Bhayangkara di Serang, Banten. (Foto: dok. istimewa)
Penjelasan Aiptu Eko Yulianto
Dalam Hoegeng Corner 2025, Aiptu Eko menjelaskan terkait program Bank Sampah Berkah Bhayangkara. Menurutnya, program itu menjadi sarana edukasi tentang pengelolaan sampah dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat setempat.
"Saya punya inisiatif program pengelolaan sampah tersebut, pertama untuk membantu pemerintah daerah, khususnya pemerintah Kabupaten Serang dengan status darurat sampah. Kedua ingin memberdayakan masyarakat dengan program bank sampah tersebut untuk mengedukasi masyarakat," kata Aiptu Eko kepada detikcom, Senin (27/10/2025).
Aiptu Eko menyebut dirinya menggagas program Bank Sampah Berkah Bhayangkara pada tahun 2021. Awalnya, Eko menggunakan dana dan lahan pribadi untuk menjalankan program tersebut. Dia menjadikan halaman rumahnya sebagai gudang dari Bank Sampah Berkah Bhayangkara.
Dia merekrut muda-mudi hingga ibu-ibu untuk keliling ke setiap RW hingga sekolah untuk mengedukasi warga tentang pengelolaan sampah anorganik seperti botol plastik hingga kardus. Eko juga mengajak warga untuk membentuk bank sampah di lingkungannya dan menjadi mitra dari Bank Sampah Berkah Bhayangkara.
"Jadi saya bentuk bank sampah unit di setiap RW, di sekolah-sekolah, kita bentuk mitra-mitra bank sampah di setiap RT, kelurahan maupun di sekolah-sekolah untuk edukasi pemilahan sampah," ucap Eko.
"Masyarakat bisa menabung sampah ke bank sampah unit. Dari situ, Bank Sampah Bhayangkara (induk) mengambil ke bank-bank sampah unit. Jadi kita ambil sampah-sampah yang sudah terpilah," tambahnya.
Aiptu Eko Yulianto pelopor program Bank Sampah Berkah Bhayangkara di Serang, Banten. (Foto: dok. istimewa)
Saat ini, sudah ada 50 unit bank sampah di Kabupaten Serang yang dinaungi oleh Bank Sampah Berkah Bhayangkara. Setiap 2 minggu atau sebulan sekali, puluhan unit bank sampah itu akan menyetor sampah-sampah anorganik terpilih ke bank sampah induk di halaman rumah Aiptu Eko.
Menurut Eko, warga bisa menukarkan sampah-sampah yang disetorkan ke Bank Sampah Berkah Bhayangkara dengan uang cash atau sembako. Warga juga bisa menabung uang dari penukaran sampahnya, dan dicairkan ketika warga ada kebutuhan yang mendesak.
"Mungkin hampir sama dengan pengepul, cuma sistemnya kita ada yang dituker sembako, ada yang ditabung, ada yang untuk mungkin untuk keperluan yang lainnya, misalkan untuk pembayaran, biasanya ada program untuk SKCK, untuk pembuatan SIM, bisa pake sampah. Jadi ketika ada masyarakat yang mau membuat permohonan SIM atau perpanjang SIM atau SKCK, mereka bisa menggunakan dana dari tabungan sampah tersebut," ujar Eko.
"Ketika ada masyarakat yang ingin melakukan pembuatan SIM, tinggal konfirmasi ke saya, nanti saya bantu arahkan ke Polres atau Polsek terdekat untuk pembuatan SIM atau SKCK tersebut. Nanti pembayarannya bisa diambil dari tabungan sampah warga tersebut," sambungnya.
Berjalan lebih dari 3 tahun, program inovatif dari Aiptu Eko dilirik pimpinan Polda Banten hingga akhirnya diberi bantuan sebuah lahan dan bangunan untuk dijadikan gudang penampungan sampah dari unit-unit bank sampah. Saat ini, Aiptu Eko juga sudah merekrut 15 orang untuk membantu menjalankan programnya tersebut.
Ke-15 orang itu diperbantukan untuk bekerja di bank sampah induk sebagai pemilih sampah-sampah anorganik sebelum dijual ke perusahaan industri daur ulang sampah. Menurut Eko, masyarakat yang diperbantukannya bisa menghasilkan uang Rp 30 ribu hingga Rp 100 per hari dari pekerjaannya tersebut.
"Kita belum bisa menggaji, jadi ketika ada sampah dari bank-bank sampah unit yang kita jemput, biasanya dipilah oleh ibu-ibu atau pemuda-pemuda di sekitar bank sampah induk itu. Jadi sistemnya borongan per kilo biasanya, kita biasanya pembayarannya harian. Paling kecil Rp 30 ribu, kalau yang kerjanya cepet bisa sampe Rp 100 ribu per hari. Itungannya per kilo itu Rp 500, jadi misalnya si ibu itu dapat berapa kilo, tinggal dikalikan Rp 500," jelasnya.
Aiptu Eko menyebut sampah-sampah yang terkumpul di bank sampah induk dijual ke perusahaan daur ulang seminggu sekali. Jumlahnya bisa mencapai 2 ton sampah campuran. Ia menegaskan tak mengambil untung dari penjualan itu, tapi yang terpenting operasional dan bayaran untuk pekerja tercukupi.
"Kalau untuk ke bank sampah, saya biasanya enggak ngambil keuntungan. Jadi yang penting kalau buat bank sampah itu buat nutupi biaya operasional dan tenaga kerja itu aja. Karena kalau kita ngambil keuntungan, kasihan juga ke warga yang udah mau memilah kan, mereka kalau harganya enggak sesuai, kadang-kadang udah mulai males," kata Eko.
"Makanya saya kasih harga kadang-kadang saya lebihin dibanding harga lapak, ya sudahlah saya kasih harga di atas harga lapak, yang penting buat saya masyarakat udah teredukasi, tenaga kerja dan operasional udah ketutup," tambahnya.
Eko tak menampik jika programnya masih berdampak kecil untuk mengurangi beban volume sampah di Kabupaten Serang yang mencapai 500 ton per hari. Namun, ia berharap jumlah titik unit bank sampah bisa terus bertambah hingga bisa mengubah status darurat sampah Kabupaten Serang.
"Dampak yang ditimbulkan dari bank sampah ini dalam satu tahun itu berdasarkan data dari DLH itu hanya sekitar 3%. Memang nggak terlalu signifikan, karena baru 50 bank sampah yang ada di Kabupaten Serang. Idealnya sih mungkin 1 desa 1 bank sampah, tapi kita baru maksimal 50 bank sampah untuk saat ini di Kabupaten Serang," ucapnya.
Aiptu Eko Yulianto pelopor program Bank Sampah Berkah Bhayangkara di Serang, Banten. (Foto: dok. istimewa)
Meski dampaknya masih kecil, tapi Aiptu Eko senang karena program inovasinya itu sudah diapresiasi oleh Kapolda Banten dan Bupati Serang. Dia berjanji akan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungannya dan pentingnya pengelolaan sampah.
"Hampir setiap minggu itu kita punya program sosialisasi di sekolah-sekolah, kita edukasi anak-anak sekolah untuk lebih bisa mencintai lingkungan. Jadi dari sekolah itu bisa berdampak sampai ke rumah," pungkasnya.
(fas/hri)


















































